Perusahaan teknologi pertahanan asal Amerika Serikat, Anduril Industries, memperluas jangkauannya ke luar angkasa dengan mengakuisisi perusahaan pelacakan rudal dan intelijen ruang angkasa ExoAnalytic Solutions. Langkah ini menandai upaya Anduril memperkuat perannya dalam sistem pertahanan berbasis satelit yang semakin penting bagi militer Amerika Serikat.
Akuisisi tersebut memungkinkan Anduril memanfaatkan jaringan teleskop dan sistem pelacakan ruang angkasa milik ExoAnalytic yang tersebar secara global. Infrastruktur ini akan digunakan untuk mengumpulkan data yang dapat meningkatkan kemampuan pemantauan ancaman, baik dari sistem darat maupun satelit militer.
Menurut Wakil Presiden Senior Rekayasa Perangkat Lunak Anduril Gokul Subramanian, langkah ini bertujuan meningkatkan kemampuan militer AS memantau aktivitas di orbit. Ia menilai ruang angkasa kini telah berkembang menjadi domain strategis baru dalam peperangan modern.
“Kami percaya (Departemen Pertahanan) layak mendapatkan katalog terbaik tentang semua yang terjadi di luar angkasa, baik dari investasi komersial maupun pemerintah. Kami ingin menjadi bagian dari solusi itu bagi para prajurit,” kata Subramanian dikutip dari CNBC global, Rabu (11/3).
Ekspansi ini juga terjadi di tengah dorongan besar pemerintah AS untuk memperkuat sistem pertahanan rudal. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengusulkan pembangunan sistem pertahanan senilai sekitar US$ 175 miliar atau setara Rp 2.953,8 triliun untuk melindungi Negeri Paman Sam dari ancaman rudal musuh. Proyek ini dikenal dengan sebutan Golden Dome, sebuah jaringan pertahanan yang mengandalkan sensor, satelit, dan sistem pelacakan berbasis ruang angkasa.
Dalam proyek tersebut, teknologi pemantauan orbit dan pengolahan data satelit menjadi komponen penting. Karena itu, perusahaan teknologi pertahanan seperti Anduril berusaha memperkuat kemampuan mereka agar dapat memenangkan kontrak besar dalam program tersebut.
Didirikan pada 2017 oleh pengusaha teknologi Palmer Luckey, Anduril awalnya dikenal lewat pengembangan drone otonom dan sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan. Namun dalam beberapa tahun terakhir perusahaan ini mulai memperluas portofolio teknologi militernya, termasuk sistem satelit dan pertahanan ruang angkasa.
Akuisisi ExoAnalytic menjadi langkah pertama Anduril untuk membangun bisnis ruang angkasa secara lebih serius. Selain itu, perusahaan ini juga terlibat dalam proyek besar militer AS lainnya, termasuk membantu Angkatan Darat mengembangkan program headset augmented reality bernilai sekitar US$ 22 miliar atau setara Rp 185,6 triliun untuk mendukung operasi tempur modern.
Sejumlah media juga melaporkan Anduril tengah menjajaki penggalangan dana baru senilai miliaran dolar yang berpotensi menggandakan valuasi perusahaan. Sebelumnya, pada Juni 2025, perusahaan ini berhasil mengumpulkan dana US$ 2,5 miliar atau setara Rp 42,2 triliun dengan valuasi mencapai US$ 30,5 miliar atau sekitar Rp 514,81 triliun.
Anduril Dukung Sistem AI Militer ASPerluasan teknologi Anduril juga berkaitan dengan ekosistem kecerdasan buatan militer yang lebih luas di Amerika Serikat. Salah satu sistem penting dalam ekosistem ini adalah Maven Smart System, platform analisis medan perang berbasis AI yang berkembang dari program militer Project Maven.
Project Maven diluncurkan Pentagon pada 2017 untuk memanfaatkan machine learning dalam menganalisis data intelijen militer, termasuk citra drone, satelit, dan berbagai sensor pengawasan. Sistem ini mampu mengolah data dalam jumlah sangat besar untuk membantu analis militer mengidentifikasi objek, fasilitas, atau potensi target di medan perang.
Peran sistem seperti Maven semakin terlihat dalam operasi militer terbaru Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran pada akhir Februari 2026. Pejabat militer AS dalam pernyataan publik sebelumnya, sistem Maven Smart System menerima masukan dari lebih dari 150 sumber data berbeda, mulai dari citra satelit hingga data intelijen lainnya.
Sistem itu juga disebut menggunakan sejumlah model bahasa besar atau large language model (LLM), termasuk Claude dari Anthropic, menurut sumber yang mengetahui operasi tersebut. Claude dilaporkan menjadi salah satu komponen penting dalam operasi AS terhadap Iran untuk mempercepat analisis data dalam sistem Maven.
Proyek Maven yang awalnya dikembangkan oleh Google untuk memproses aliran data besar dari drone militer Amerika di Timur Tengah, telah berevolusi menjadi sistem AI canggih yang mampu secara otomatis mengidentifikasi objek dan potensi target militer dari rekaman pengawasan.
Setelah dimodernisasi oleh Palantir, sistem Maven dilaporkan digunakan untuk memetakan jaringan bunker bawah tanah dengan memproses sinyal radar dan citra satelit. Teknologi ini memungkinkan militer AS melakukan serangan presisi yang menjadi ciri khas operasi melawan kepemimpinan Iran.




