jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi XII DPR RI Shanty Alda Nathalia, menyampaikan duka cita atas tragedi longsor sampah yang terjadi di TPST Bantargebang.
Peristiwa tersebut dilaporkan menelan 13 korban, dengan tujuh orang di antaranya meninggal dunia.
BACA JUGA: Demi Ketenangan Warga, Shanty Alda Desak Audit Keberadaan Sutet di Bumiayu
Shanty menilai kejadian tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera membenahi sistem pengelolaan sampah di Indonesia.
Menurutnya, pendekatan konvensional yang selama ini digunakan tidak lagi memadai untuk mengatasi persoalan sampah yang makin kompleks.
BACA JUGA: Longsor Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Mas Pram Tutup Zona 4A, Pengiriman Sampah Dialihkan ke Zona 3
"Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara-cara lama dan perlu segera dibenahi secara serius,” ujar Shanty dalam keterangannya, kamis (12/3).
Dia menekankan bahwa sistem pengelolaan sampah nasional perlu diperbarui secara lebih terintegrasi.
BACA JUGA: Longsor Sampah TPST Bantargebang, 4 Orang Tewas, Berikut Ini Daftarnya
Upaya tersebut mencakup pengurangan sampah sejak dari sumbernya, peningkatan kapasitas pengolahan, hingga penerapan teknologi pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Menurut Shanty, insiden di Bantargebang juga menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek keselamatan bagi para pekerja dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan tempat pembuangan akhir.
Dia meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan standar keamanan serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional pengelolaan sampah di berbagai wilayah.
“Mengingat permasalahan sampah telah menjadi perhatian Presiden, maka kejadian ini perlu menjadi momentum untuk mempercepat pembenahan serta penguatan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, demi keselamatan masyarakat dan para pekerja yang beraktivitas di sekitar TPA,” katanya.
Shanty berharap insiden tersebut dapat menjadi titik balik bagi perbaikan tata kelola sampah di Indonesia agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada masa mendatang. (jlo/jpnn)
Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh




