Keputusan Iran untuk berhenti menyerang negara tetangganya, Arab Teluk, banyak mendapat dukungan. Namun demikian, penghentian itu tidak bersifat permanen. Iran menyatakan akan kembali menyerang apabila ada serangan ke negaranya yang berasal dari negara-negara Arab Teluk tersebut.
Iran menyerang negara-negara tetangganya tersebut sebagai bentuk keterpaksaan. Iran berkali-kali mengatakan bahwa mereka menghargai kedaulatan negara lain. Namun, Iran harus menyerang negara tersebut karena keberadaan pangkalan militer dan aset Amerika lainnya.
Artinya, yang diserang hanya kepentingan (aset) Amerika. Lagi pula sebelum menyerang, Iran biasanya akan mengabarkan dulu kepada negara tetangganya tersebut bahwa mereka akan menyerang aset Amerika. Bahkan, informasi akan serangan tersebut sudah disampaikan sebelum Amerika-Israel melakukan agresi militer ke Iran.
Dikatakan bahwa Iran dengan terpaksa akan menyerang aset militer Amerika di negara-negara teluk sebagai target yang sah apabila Amerika menyerang Iran. Iran menganggap apa yang dilakukan merupakan bentuk pembelaan diri dari serangan Amerika-Israel.
Langkah yang diambil Iran untuk tidak menyerang negara merupakan langkah deeskalasi, terutama terhadap negara-negara tetangganya. Setidaknya apa yang dilakukan Iran adalah langkah tepat dalam situasi sekarang. Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, Iran tidak ingin meningkatkan level perang dengan Amerika-Israel menjadi perang dengan regional negara-negara tetangganya. Iran paham bahwa salah satu skenario yang diinginkan Israel adalah menyeret negara-negara Arab Teluk, bahkan negara Arab lain, untuk masuk dalam gelanggang perang melawan Iran.
Israel akan diuntungkan dalam situasi ini. Energi Israel dan Amerika tidak akan terkuras banyak. Hal ini karena mereka akan dibantu oleh negara-negara arab untuk menambah front tambahan melawan Iran. Iran tidak menginginkan ini, bahkan negara Arab pun juga tidak menginginkan ini.
Mereka paham ini adalah jebakan yang diinginkan oleh Israel. Indikasi itu dapat dilihat pada serangan terhadap fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, yang diserang hingga terjadi kerusakan di beberapa bagian. Awalnya, Iran dituduh sebagai pelaku.
Namun, Iran membantah itu dan menyebutnya sebagai operasi pihak tertentu yang dimaksudkan agar Arab Saudi terlibat secara langsung dalam perang melawan Iran. Operasi ini biasa disebut dengan False Flag Operation, yakni taktik untuk menyamarkan pelaku sebenarnya dan menuduh pihak lain untuk bertanggung jawab atas suatu peristiwa.
Langkah yang diambil oleh Iran untuk tidak menyerang negara-negara tetangganya ini merupakan bentuk penegasan bahwa Iran ingin terus bersahabat dengan mereka. Bahkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pernyataannya, meminta maaf kepada negara-negara tetangganya tersebut.
Selain itu, Pezeshkian menambah kalimatnya kepada negara-negara tetangganya: “Kita adalah saudara.” Ini pukulan telak bagi Amerika-Israel yang ingin membuat skenario untuk mendorong negara-negara Arab untuk ikut berperang melawan Iran.
Lagi pula, di tengah situasi yang genting sekarang, Iran butuh dukungan regional dan internasional. Memprovokasi negara-negara Arab untuk berperang melawannya adalah keputusan yang sangat blunder.
Kedua, keputusan Iran tersebut juga tidak hanya membangun bahkan memperkuat persepsi positif di level pemerintah negara-negara Arab, tetapi juga di mata publik Arab. Bagaimanapun Iran dianggap sebagai satu-satunya negara Islam yang berani melakukan konfrontasi secara langsung dengan Amerika-Israel.
Banyak warga Arab tidak setuju dengan kebijakan pemerintahnya yang terlalu dekat dengan Amerika maupun Israel. Apalagi dalam merespons penjajahan dan genosida Israel yang didukung oleh Amerika terhadap Palestina.
Kegeraman warga Arab akan sikap pemerintahnya itu justru diakomodasi oleh Iran. Sejauh ini, Iran menjadi aliansi militer kuat untuk pejuang kemerdekaan Palestina, Hamas, dalam melawan penjajah Israel maupun Amerika.
Ketiga, Iran akan menyatukan polarisasi dalam tubuh Islam, yakni Sunni dan Syiah. Narasi keterbelahan antara Sunni-Syiah di dalam Islam sendiri cukup kuat. Dalam banyak kasus, narasi tersebut menjadi sumber konflik, terutama bagi sebagian umat Islam.
Dengan keputusan Iran untuk berhenti menyerang negara-negara tetangganya yang mayoritas Sunni dan juga meminta maaf pada negara-negara tersebut, Iran menunjukkan sikap persatuan. Sebagaimana diketahui, mayoritas penduduk Iran adalah Syiah.
Iran tidak ingin ada persepsi publik bahwa ada konflik Sunni dan Syiah, apalagi di tengah situasi perang hari ini. Iran ingin membangun narasi bahwa Sunni dan Syiah harus bersatu. Musuh yang sebenarnya adalah Amerika dan Israel.
Di Indonesia, narasi polarisasi Sunni dan Syiah ini masih cukup mengemuka. Banyak kalangan Islam di Indonesia menganggap Iran adalah musuh karena pemerintah dan mayoritas masyarakatnya adalah penganut Syiah. Bagi mereka, Syiah bukan bagian dari Islam. Syiah menodai ajaran Islam (Sunni).
Parahnya, dan sangat disayangkan, banyak yang melihat beberapa konflik dan perang di Timur Tengah hanya dengan menggunakan satu-satunya perspektif, yakni konflik Sunni dan Syiah. Mereka tidak melihat betapa konflik dan perang memiliki dimensi/variabel yang kompleks.
Paling tidak di Indonesia sudah mulai banyak yang sadar akan hal ini. Iran dianggap sebagai representasi perlawanan terhadap Amerika dan Israel, bahkan terhadap proyek kolonialisme barat yang belum selesai sejak era kolonialisme sebelum Indonesia merdeka. Iran memilih tidak tunduk dan mengambil jalan konfrontatif.
Heroisme Iran membuat banyak masyarakat Indonesia bangga dan mendukung Iran. Mereka tidak peduli narasi Sunni dan Syiah karena isu ini sudah tidak relevan. Bahkan, negara-negara Sunni pun sering dikecam, termasuk Indonesia (keputusan masuk ke Board of Peace) dan banyak negara di Timur Tengah yang tunduk pada keinginan Amerika dan Israel.
Keempat, Iran ingin menyampaikan pada negara-negara Arab bahwa mereka tidak perlu menggantungkan keamanan nasionalnya pada Amerika dan negara barat sekutunya. Negara-negara tetangga Iran ini ternyata memiliki pertahanan udara yang cukup rapuh. Walaupun Amerika melengkapi mereka dengan sistem pertahanan udara, mereka ternyata tidak mampu menghalau semua serangan Iran.
Pangkalan dan aset militer Amerika di negara-negara Arab ini berhasil dihantam oleh senjata-senjata Iran. Iran berhasil menghancurkannya. Bahkan, sistem pertahanan udara yang dianggap canggih dan sebagai simbol superioritas pertahanan udara milik Amerika—seperti The Terminal High Altitude Area Defence (THAAD)—pun berhasil dihancurkan.
Padahal, biaya produksi senjata—seperti drone Iran yang digunakan untuk menyerang—jauh lebih murah dibanding senjata-senjata pertahanan udara yang di-instal di negara-negara Arab tersebut.
Beredar kabar bahwa negara-negara Arab kecewa kepada Amerika. Pasalnya, mereka telah mengeluarkan biaya yang besar, bahkan memberikan wilayahnya untuk pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Namun, negeri Paman Sam ini tidak berhasil menjaga keamanan mereka dari serangan luar. Negara-negara Arab juga dikabarkan kecewa karena Amerika lebih memprioritaskan perlindungan Israel dibanding negara-negara Arab.
Kelima, Iran harus mempersiapkan perang jangka panjang. Amerika-Israel sejauh ini belum menunjukkan indikasi untuk deeskalasi dan atau masuk ke meja perundingan. Demikian juga Iran terhadap Amerika-Israel. Demi menjaga keberlanjutan perang, Iran perlu mengefisiensikan penggunaan senjatanya.
Karenanya, langkah untuk berhenti menyerang negara-negara tetangganya adalah cara untuk menghemat penggunaan senjata untuk mempersiapkan perang jangka panjang tersebut. Harus diakui bahwa Iran masih kalah jauh dibanding Amerika soal kekuatan militer, terutama dari segi kepemilikan senjata—apalagi jika kekuatan militer Amerika digabungkan dengan milik Israel.
Ditambah lagi, negara-negara sekutu Amerika-Israel seperti Inggris dan Prancis mengindikasikan akan membantu melawan Iran. Situasi ini memaksa Iran harus lebih siap dengan segala skenario, termasuk dalam strategi membuat perang berlarut-larut.
Iran adalah kelanjutan peradaban Persia. Peradaban yang telah hidup ribuan tahun. Perang bukanlah hal yang asing bagi mereka. Terlepas dari semua itu, menghentikan serangan ke negara-negara tetangga adalah pilihan yang tepat.
Semoga ini adalah langkah awal untuk menghentikan perang.




