Iran Ancam Targetkan Nvidia hingga Microsoft karena Terkait Militer AS

katadata.co.id
17 jam lalu
Cover Berita

Perang Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi meluas ke sektor teknologi global. Iran mengancam akan menargetkan perusahaan teknologi AS seperti Nvidia, Microsoft, Google, Oracle, IBM, dan Palantir Technologies setelah dugaan serangan Israel terhadap sebuah bank di Teheran.

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa militer negara itu akan mulai menargetkan pusat ekonomi dan bank yang terkait dengan AS dan Israel. Ancaman tersebut muncul setelah sebuah cabang bank di Ibu Kota Iran dilaporkan terkena serangan pada malam sebelumnya dan menewaskan sejumlah karyawan.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) disebut mengeluarkan ancaman tersebut pada hari ke-12 konflik. Sebuah kantor berita yang berafiliasi dengan IRGC bahkan merilis daftar kantor dan infrastruktur milik perusahaan teknologi AS yang dianggap memiliki keterkaitan dengan pengembangan teknologi militer.

Daftar itu mencakup sejumlah raksasa teknologi global yang memiliki kantor, pusat riset, atau infrastruktur digital di Israel dan wilayah Timur Tengah. Menurut kantor berita Tasnim News Agency, perluasan target ini merupakan konsekuensi dari perubahan pola perang yang kini tidak lagi hanya menyerang fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur ekonomi.

“Seiring meluasnya cakupan perang regional menjadi perang infrastruktur, cakupan target sah Iran pun meluas,” tulis laporan tersebut.

Komando militer gabungan Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, bahkan memperingatkan masyarakat untuk tidak berada dalam radius satu kilometer dari bank yang berpotensi menjadi sasaran serangan.

Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran baru bagi industri teknologi global. Banyak perusahaan teknologi AS memiliki operasi penting di Timur Tengah, terutama di Israel yang menjadi salah satu pusat riset dan pengembangan utama di luar Amerika Serikat.

Sebagai contoh, Intel memiliki 9.335 karyawan di Israel dan mengoperasikan fasilitas manufaktur serta pusat riset di Haifa dan Yerusalem. Meski demikian, perusahaan semikonduktor tersebut tidak disebut dalam daftar target yang beredar.

Selain kantor dan fasilitas riset, infrastruktur digital seperti pusat data juga berisiko menjadi sasaran. Sejak konflik pecah pada akhir Februari, beberapa pusat data milik Amazon Web Services di Timur Tengah dilaporkan sempat offline akibat serangan drone.

Iran mengklaim serangan tersebut sengaja menargetkan pusat data di Uni Emirat Arab dan Bahrain karena diduga menampung beban kerja militer Amerika Serikat.

Jika ancaman ini benar-benar diwujudkan, kerugian bagi industri teknologi bisa sangat besar. Terutama pusat data merupakan infrastruktur mahal yang membutuhkan investasi miliaran dolar untuk dibangun. Kerusakan pada fasilitas tersebut dapat menimbulkan biaya perbaikan hingga jutaan dolar.

Lebih penting lagi, sebagian besar polis asuransi standar tidak menanggung kerugian akibat perang atau aksi militer. Artinya, perusahaan teknologi kemungkinan harus menanggung sendiri seluruh kerusakan jika fasilitas mereka menjadi sasaran konflik.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berompi Tahanan, Yaqut: Saya Tidak Menerima Sepeser Pun, Semua untuk Keselamatan Jemaah!
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Respons Klaim Trump, Iran: Kami yang Tentukan Akhir Perang | SAPA MALAM
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Ketika Pejabat Jakarta Menjelma Jadi Model untuk Angkat Pamor Busana Tanah Abang
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Eks Menag Yaqut Ditahan KPK, Massa Banser Geruduk Gedung Merah Putih
• 14 jam laluokezone.com
thumb
Jabatan Kaster TNI Dihidupkan Lagi, Seberapa Relevan dengan Tantangan Perang Modern?
• 19 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.