Tergoda Harum Rempah ”Pasa Pabukoan” di Kota Padang

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Para pengunjung mulai memadati puluhan lapak pedagang pasa pabukoan di Ruang Terbuka Hijau Imam Bonjol, Kota Padang, Sumatera Barat. Mereka terpikat oleh aroma rempah lauk-pauk serta harumnya penganan dan minuman manis yang dijual di sana.

Puluhan jenis makanan dan minuman tampak menggiurkan. Apalagi di saat-saat terakhir menjelang berbuka, tenggorokan dan perut mulai mulai meronta karena haus dan lapar. Berbagai menu di pasa pabukoan terasa menggugah selera seraya menikmati hangatnya Kota Padang pada Sabtu (7/3/2026) sore. 

Ada beragam menu berbuka yang tersedia di pasa pabukoan, mulai dari minuman, penganan, hingga lauk-pauk pendamping makanan berat. Aneka rupa minuman manis dan segar seperti es cendol, es campur, es rumput laut, es sumsum, es timun, es nata de coco, dan es blender pun menarik untuk dicicipi.

Untuk penganan, tersedia berbagai jenis gorengan, perkedel jagung, sala lauak, bakwan, risoles, pastel, perkedel kentang, hingga tahu isi. Ada pula penganan manis tradisional seperti onde-onde, godok batinta, lopis, lapek bugih, lemang tapai, putu mayang, serabi, dan kolak.

Tidak perlu khawatir mencari teman makan nasi karena tersedia beragam lauk masakan padang dan kapau beserta gulai kambing dan dalca. Beragam mi dan bihun goreng serta sayur anyang, gado-gado, dan sayur pical pun siap disantap sebagai pelengkap makanan berat. 

Baca JugaNasi Kapau Menjadi Pilihan Menu Berbuka Puasa

Pasa pabukoan atau pasar perbukaan merupakan pasar musiman yang diadakan setiap bulan Ramadhan di berbagai daerah di wilayah Sumbar. Di Kota Padang, pasa pabukoan secara resmi diadakan setiap tahun oleh Dinas Perdagangan Kota Padang di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol. Pasa pabukoan pun jadi destinasi bagi warga berburu makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

”Kami tiga-empat kali sepekan belanja takjil di pasa pabukoan ini. Rasanya sesuai dengan selera kami dan harganya relatif terjangkau,” kata Ayu Gumela Sari (38), warga Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara. 

Sore itu, Ayu dan ibunya keluar dari areal pasa pabukoan dengan tangan penuh tentengan. Gulai cancang, sayur pical, ikan asin goreng, es cendol, dan putu mayang berpindah tangan dengan total belanjaan Rp 80.000. Makanan itu untuk berbuka puasa bagi empat orang, termasuk suami dan anaknya.

Menurut Ayu, makanan dan minuman yang dijual di pasa pabukoan relatif bervariasi. Ia dan keluarganya tidak pernah bosan berbelanja karena apa yang dibeli dapat disesuaikan dengan selera. Ia juga merasa berbelanja di pasa pabukoan lebih simpel dan hemat daripada membuat menu berbuka sendiri. 

”Di bulan puasa ini, kan, kita butuhnya sedikit-sedikit tapi variasinya banyak. Jika dibuat sendiri, biayanya besar, ribet, dan makan waktu. Kalau beli, kami tinggal masak nasi saja di rumah,” katanya.

Selain berburu takjil, pasa pabukoan juga menjadi destinasi untuk ngabuburit. Mursyida (57), warga Kelurahan Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji, misalnya, singgah ke pasa pabukoan RTH Imam Bonjol bersama suaminya untuk mengisi waktu senggang menjelang berbuka sembari jalan-jalan ke Pasar Raya Padang yang berdekatan dengan lokasi itu.

Di pasa pabukoan, Mursyida membeli perkedel jagung, mi goreng, es cendol, dan gulai ikan karang. ”Sambil jalan-jalan naik Trans Padang, kami singgah ke sini. Ingin coba bagaimana pula rasanya menu yang dijual di pasa pabukoan ini. Dari tampilan, sepertinya enak,” katanya.

Pasa pabukoan tidak hanya jadi daya tarik bagi umat Islam, tetapi juga umat agama lainnya. Tiga sekawan Hana (17), Melani (17), dan Okta (17), yang menjalankan puasa Katolik, misalnya, berbelanja rendang, ikan dencis, perkedel kentang, dan es blender di pasa pabukoan untuk makan malam. 

”Menunya menarik, apalagi banyak makanan tradisional. Harganya juga worth it,” kata Hana, siswa SMA Katolik Xaverius Padang. Ia datang bersama dua temannya, Melani dan Okta, siswa SMA Don Bosco Padang.

Baca JugaRendang dan Solidaritas dari Ranah Minang
Rezeki Ramadhan 

Bagi pedagang, pasa pabukoan menjadi momen menangguk rezeki di bulan Ramadhan. Pendapatan mereka bisa meningkat berkali lipat dibandingkan hari-hari biasa.

Ismet Ibrahim (65), pedagang gulai kambing ”AIN”, misalnya, omzetnya meningkat dua kali lipat selama Ramadhan. Setiap hari selama Ramadhan, ia bisa memasak dua ekor kambing muda—sekitar 250 porsi—dan semuanya habis terjual di pasa pabukoan. Satu porsi gulai kambing AIN dibanderol Rp 50.000.

”Ramadhan membuka rezeki lebih banyak,” kata Ismet.

Ismet sehari-hari memasak gulai kambing berdasarkan resep sang kakek yang telah berjualan sejak 1937 di Kelurahan Padang Pasari, Kecamatan Padang Barat. Ismet biasanya melayani pesanan katering untuk acara akikah atau pesta dan mulai ikut berjualan gulai kambing di pasa pabukoan bersama orangtuanya sejak usia 13 tahun.

Selain kambing, pria keturunan Irak dan India itu juga menjual dalca seharga Rp 15.000 per porsi. Bumbu dalca sama dengan gulai kambing, tetapi isiannya antara lain terdiri dari terung, mangga muda, tomat hijau, cabai hijau, dan sumsum kaki kambing.

”Kalau tidak sanggup beli gulai kambing, bisa beli dalca yang lebih murah,” ujar Ismet.

Zulherman (72), pedagang lemang tapai, mengaku, rezekinya juga meningkat selama Ramadhan. Dalam sehari, ia bisa menjual 25 batang lemang di pasa pabukoan RTH Imam Bonjol seharga Rp 75.000 per batang (1 batang = 8 porsi). Pengunjung dapat pula membeli per porsi seharga Rp 10.000 beserta tapai ketan hitam.

Zulherman hanya rutin berjualan lemang tapai saat ada pasa pabukoan. Di hari biasa, dia fokus berdagang gorengan. Selain itu, lemang tapai hanya dibuat jika ada pesanan untuk pesta, Idul Fitri, atau acara hari besar lainnya.

”Pendapatan kami jauh lebih baik dibanding hari biasa. Istilah kampungnya, saat bulan puasa, kami bisa mencari lima gantang beras sehari. Kalau hari biasa, mungkin hanya dapat satu gantang beras sehari,” katanya. 

Secara terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang Junie Nursyamza, Selasa (10/3/2026), mengatakan, tahun ini pihaknya kembali mengadakan pasa pabukoan di RTH Imam Bonjol dari awal hingga akhir Ramadhan. Total ada 35 pedagang yang berjualan di pasa pabukoan.

Baca JugaLemang yang Dirindukan Saat Ramadhan Datang

Selain membantu perekonomian usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kata Junie, keberadaan pasa pabukoan juga diharapkan menjadi tempat menyediakan menu berbuka yang aman bagi masyarakat. Para pedagang dibina oleh dinas, dan kualitas makanannya diawasi oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) Padang dan dinas kesehatan.

”Dengan adanya pasa pabukoan ini, masyarakat bisa berbelanja di tempat strategis dan gampang dijangkau. Kualitas produknya juga terjaga dan bervariasi,” kata Junie.

Junie menambahkan, selain di RTH Imam Bonjol, pasa pabukoan juga ada di berbagai titik di Padang yang digelar secara swadaya oleh masyarakat. Namun, sebagian besar tidak berkoordinasi dengan dinas perdagangan.

Sekilas sejarah

Tidak diketahui tahun pasti pasa pabukoan mulai muncul di Kota Padang. Namun, dari penuturan para pedagang senior, pasa pabukoan yang mereka ikuti telah berlangsung puluhan tahun. 

Ismet ingat, orangtuanya mulai berjualan gulai kambing di pasa pabukoan di sekitar Pasar Raya Padang sejak 1974. Saat itu ia ikut berjualan dengan orangtuanya hingga 1976 sampai akhirnya berhenti karena menjadi atlet sepak bola. Ismet mulai kembali berjualan gulai kambing secara mandiri di pasa pabukoan tahun 1992.

”Dulu, kami bawa meja masing-masing, berjualan di emperan toko,” katanya.

Di masa lampau, kata Ismet, lokasi pasa pabukoan berpindah-pindah di sekitar Pasar Raya Padang. Baru selepas pandemi Covid-19, lokasi pasa pabukoan rutin berada di RTH Imam Bonjol.

Zulherman mengaku tidak tahu persis kapan pasa pabukoan ini muncul. Namun, ia sudah ikut berjualan di pasa pabukoan dari tahun 1991. Lokasinya pun berpindah-pindah, mulai dari sekitar Pasar Raya Padang, di sekitar Padang Teater, depan Balai Kota lama, dan lainnya. 

”Sebelumnya sudah ada juga, tapi saya baru ikut tahun 1991. Dulu jenis makanan yang dijual tidak sebanyak sekarang,” katanya. 

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Syamdani, Selasa (10/3/2026), memperkirakan pasa pabukoan mulai marak muncul di Padang tahun 1980-an. Kemunculan ini seiring dengan semakin banyaknya warga yang menjadi pekerja formal/kantoran penuh waktu.

”Sebelum tahun 80-an, orang masih cenderung memasak sendiri. Ketika terjadi perubahan zaman, banyak orang bekerja kantoran dan sangat sibuk, orang pun ingin praktis. Hampir tidak ada waktu untuk memasak. Kalaupun ada waktu sepulang kerja, ia sudah letih dan lelah,” kata Syamdani. 

Kondisi tersebut, lanjut Syamdani, kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang berjiwa usaha sehingga memantik kemunculan pasa pabukoan. Mulanya mungkin berjualan di depan rumah, kemudian berkembang seiring besarnya minat dari pembeli.

Menurut Syamdani, keberadaan pasa pabukoan di Padang semakin marak sejak 1990-an, terutama setelah Reformasi 1998. Kesibukan warga semakin berlipat karena banyaknya jumlah mahasiswa di Kota Padang yang juga dikenal sebagai kota pendidikan. 

Baca JugaNasi Kapau Merantau ke Nusantara

Karena tingginya peminat, pasa pabukoan semakin marak, terutama di pusat-pusat keramaian dan di kawasan sekitar kampus. ”Bahkan, mahasiswa yang hobi memasak pun menangkap peluang ini dan ikut berjualan,” ujar Syamdani.

Selain menjadi peluang ekonomi, kata Syamdani, keberadaan pasa pabukoan secara tidak langsung ikut melestarikan kuliner tradisional yang mulai jarang ditemukan di bulan-bulan biasa, seperti onde-onde, anyang rawan, dan putu mayang.

”Ini kesempatan bagi kita untuk mengalkulasi apa saja makanan-makanan tradisional yang dimiliki masyarakat, khususnya di Kota Padang,” ujarnya.

Pada akhirnya, pasa pabukoan bukan sekadar tempat berburu hidangan berbuka puasa. Lebih dari itu, pasa pabukoan menjadi ruang yang menghadirkan kehangatan tradisi dan kekayaan kuliner Minangkabau.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Situasi Timteng Memanas, JK Tekankan Pentingnya RI Berpegang Pada GNB
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Bos OJK Ungkap Bakal Bertemu MSCI Lagi Pekan Ini
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sinopsis JEJAK DUKA DIANDRA SCTV Episode 67, Hari Ini Kamis 12 Maret 2026: Pesan Misterius Bikin Jordan Panik, Ayah Diandra Diduga Jadi Korban Balas D
• 11 jam lalutabloidbintang.com
thumb
BSI Fest Ramadhan 1447 H: Semarak Ramadhan di Aceh
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Trump Klaim Iran di Ambang Kekalahan Perang
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.