Bisnis.com, JAKARTA — Lebih dari tiga per empat komoditas yang disasar dalam pajak karbon lintas batas Uni Eropa atau Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) berasal dari pasar yang tidak menerapkan mekanisme harga karbon atau dengan harga yang sangat murah. Kondisi ini berpotensi mengerek biaya impor bagi sebagian besar pelaku usaha Uni Eropa.
Seiring dengan berlakunya CBAM per 1 Januari 2026, para importir di Uni Eropa yang mendatangkan produk industri dan komoditas dari pasar-pasar yang tak menerapkan mekanisme harga karbon harus menanggung biaya karbon yang lebih besar.
“Hanya mekanisme harga karbon domestik kredibel yang dapat menutup biaya kewajiban tersebut. Hal ini membuat kesiapan harga karbon, bukan hanya volume perdagangan, menjadi pemicu utama tingkat paparan,” demikian analisis dari BloombergNEF, dikutip Kamis (12/3/2026).
Kesiapan harga karbon yang rendah mengindikasikan bahwa eksportir berasal dari negara yang tidak memberlakukan mekanisme pasar karbon. Sementara itu, kesiapan yang moderat menunjukkan kawasan dengan mekanisme harga karbon yang beroperasi, tetapi kredibilitasnya lebih rendah daripada Uni Eropa dalam EU Emissions Trading System (ETS). Adapun kesiapan yang tinggi mengindikasikan mekanisme harga karbon yang sejalan dengan EU ETS.
Sebagai catatan, hanya 20% dari impor produk-produk yang dijangkau CBAM ke wilayah Uni Eropa pada 2024 berasal dari negara dengan kesiapan harga karbon yang tinggi. Sebagai contoh, Inggris dan Kanada telah mengoperasikan sistem perdagangan karbon atau pajak karbon yang dapat mengurangi dampak CBAM.
Tingkat paparan dari sisi sektor bahkan lebih timpang. Hampir 90% impor pupuk yang dilakukan Uni Eropa berasal dari negara berkembang dengan tingkat kesiapan harga karbon yang rendah, seperti Mesir, Maroko dan Aljazair.
Baca Juga
- Prospek Pembiayaan Adaptasi Iklim Global 2026, China Paling Jumbo
- Uni Eropa Luncurkan Dana Investasi Baru untuk Biayai Transisi Energi
- Arah Permintaan Kredit Karbon ketika Harga Migas Makin Panas
Sementara itu, pasokan baja dan aluminium ke pasar Uni Eropa didominasi oleh negara-negara dengan kesiapan harga karbon yang tinggi.
Komisi Eropa sejauh ini belum memberikan klarifikasi soal bagaimana mekanisme penilaian dan pengurangan harga karbon. Ketidakpastian ini membuat importir tidak dapat sepenuhnya mengukur besarnya potensi keringanan.
Meskipun demikian, sebagian besar importir industri masih bergantung pada pasar dengan kesiapan harga karbon yang rendah dan menghadapi risiko tinggi berupa tagihan karbon yang besar.





