Masyarakat Indonesia mengenal tradisi mudik yang identik dengan momen Lebaran. Di momen ini, para perantau kembali ke kampung halamannya untuk berkumpul dengan sanak keluarga dan kerabat sekaligus merayakan hari kemenangan usai melewati bulan Ramadan.
Mudik menjadi fenomena sosiokultural di Indonesia yang bisa disaksikan setiap tahun. Tidak hanya sekadar berkumpul, para perantau tersebut juga membawa oleh-oleh khas asal kota perantauan untuk keluarga di kampung serta berkunjung ke makam para leluhur.
Seperti apa asal-usul masyarakat Indonesia mengenal mudik? Berikut rinciannya.
Mudik Lebaran, Tradisi Rutin Masyarakat IndonesiaDalam artikel Almega dkk berjudul "Fenomena Mudik sebagai Sarana Penyempurnaan Ibadah" (2023) yang dimuat di jurnal sociologie, disebutkan bahwa manusia menyadari akan asal-usulnya dari tiga aspek secara historis yaitu genetik, transendental, dan ruang atau tempat. Ketiga aspek ini yang membuat manusia sadar akan asal-usul yang melekat pada dirinya.
Di antara ketiga aspek tersebut, menurut Almega dkk, mudik termasuk ke dalam aspek ruang atau tempat. Mudik tidak bisa dipisahkan dari asal-usul ruang atau tempat karena kesadaran manusia terkait asal-usul kedaerahannya.
Almega dkk berpendapat bahwa mudik merupakan sebuah fenomena sosial yang pada dasarnya dimaknai sebagai pulang kampung ke kampung halaman. Hal tersebut berkaitan dengan kesadaran manusia akan asal-usul ruang atau tempatnya. Melalui mudik, manusia kembali berinteraksi kembali dengan daerah asalnya setelah lama merantau.
Indonesia sudah mengenal aktivitas mudik sejak zaman sejak zaman Kerajaan Majapahit pada 1200-an yang pada saat itu dilakukan oleh masyarakat Jawa. Pusat Kerajaan Majapahit sendiri berada di Mojokerto, Jawa Timur.
Aktivitas mudik dilakukan oleh pejabat Majapahit yang berkuasa di luar Majapahit, yaitu kembali ke pusat kota untuk bertemu dengan Raja sekaligus memanfaatkan momen tersebut untuk berkumpul kembali dengan keluarga. Pada masa itu, mudik tidak dilakukan pada masa Lebaran dan istilah mudik sendiri juga masih belum dikenal.
Tradisi mudik masih dilanjutkan hingga masa Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1500-an. Para pejabat kerajaan tersebut melakukan mudik saat hari raya besar untuk mengunjungi keluarga mereka di kampung. Akan tetapi, perkembangan mudik di masa Kerajaan Mataram ini masih bersifat hipotetik.
Mengutip dari buku "Pertanian dan Kemiskinan di Jawa" (2002), tradisi mudik lekat dengan kebiasaan para petani Jawa yang mengunjungi tanah kelahirannya untuk berziarah ke makam leluhur. Menurut mereka, mendoakan leluhur termasuk ke dalam aspek spiritualitas dan sebuah kewajiban yang perlu ditunaikan.
Istilah mudik sendiri mulai dikenal pada tahun 1950-an. Kata "mudik" memiliki kata dasar berbahasa Jawa "udik" yang berarti kampung. Ada juga yang menyebutkan bahwa "mudik" merupakan singkatan bahasa Jawa dari mulih dilik yang memiliki arti "pulang sebentar".
Arribathi dan Aini dalam artikelnya berjudul "Mudik dalam Perspektif Budaya dan Agama:Kajian Realistis Perilaku Sumber Daya Alam" (2018) yang dimuat dalam jurnal CICES, menjelaskan bahwa istilah mudik kembali mencuat pada 1970-an ketika orang desa beramai-ramai datang ke Jakarta. Mereka kembali ke kampung halaman setiap Idul Fitri karena memiliki durasi libur yang panjang untuk bertemu keluarga dan membersihkan makam leluhur.
Meskipun identik dengan perayaan Idul Fitri, Arribathi dan Aini menyebut agama Islam sendiri tidak mengenal mudik sebagai ibadah. Namun, tulis artikel itu, filosofi mudik sendiri masih berhubungan dengan arti dari istilah "Idul Fitri", yaitu "kembali ke suci atau kodrat (asal-muasal)". Bila keduanya dikaitkan, mudik dapat dimaknai sebagai kembali ke asal masing-masing yaitu kampung halaman.
Perkiraan Daerah Asal dan Tujuan Terbanyak Pemudik Tahun 2026Kemenhub merilis prediksi pemudik tahun 2026 dalam situsnya pada Rabu (25/2). Berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub, jumlah pemudik tahun ini diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau 50,60%.
Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan pergerakan pemudik terbanyak tahun ini dengan jumlah 30,97 juta orang. Disusul DKI Jakarta dengan jumlah 19,93 juta orang dan Jawa Timur sebesar 17,12 juta orang.
Masih dari survei yang sama, arus terbesar tujuan mudik tahun ini adalah Jawa Tengah dengan jumlah 38,71 juta orang. Kemudian disusul Jawa Timur dengan jumlah 27,29 juta orang dan Jawa Barat sebanyak 25,09 juta orang.
Di level kabupaten-kota, asal perjalanan didominasi oleh wilayah yang padat penduduk seperti Jakarta Timur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bekasi. Di sisi tujuan, pergerakan banyak terkonsentrasi di Jawa Tengah.
Daerah Jabodetabek dengan asal pergerakan terbesar adalah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang. Sedangkan, provinsi yang menjadi tujuan favorit masyarakat Jabodetabek adalah Jawa Tengah.
Sementara itu, Mabes Polri menyampaikan perkembangan terkait persiapan arus mudik lebaran Idul Fitri 1447 H, Rabu (11/3). Mabes Polri menyebut bahwa puncak arus mudik akan terjadi lebih awal yaitu pada tanggal 13 Maret dengan arus balik yang diprediksi akan dimulai pada 24 Maret.
Penulis: Safina Azzahra Rona Imani





