Campak Meningkat, IDAI:  Lengkapi Imunisasi Anak

kompas.id
15 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Kasus campak yang tengah meningkat saat ini memerlukan respons yang cepat untuk memastikan seluruh anak di Indonesia bisa terlindungi. Salah satunya dengan memastikan setiap anak telah mendapatkan imunisasi lengkap, termasuk imunisasi campak.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Piprim Basarah Yanuarso di Jakarta, Kamis (12/3/2026) menuturkan, peningkatan kasus campak di Tanah Air patut menjadi alarm serius bagi sistem kesehatan nasional. Penyakit campak merupakan penyakit yang mengancam jiwa yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi.

“Anak-anak kita jangan menjadi korban. Jadi kita perlu dorong bersama untuk sesuai yang sebetulnya bisa dicegah, vaksinnya juga ada, dan gratis di puskesmas. Hanya masyarakat masih ada yang ragu-ragu untuk menggunakannya,” katanya.

Menurut Piprim, peningkatan kasus campak di Indonesia berkaitan dengan tren penurunan cakupan imunisasi campak pada anak-anak. Pada 2025, cakupan imunisasi campak-rubella untuk dosis pertama sebesar 82,6 persen, sementara dosis kedua sebesar 77,6 persen. Jumlah itu menurun dari tahun 2024 yang tercatat sebesar 92,0 persen untuk dosis pertama dan 82,3 persen untuk dosis kedua.

Baca JugaCampak, Wabah Penyakit Menular, dan Peringkat Indonesia
Baca JugaCampak yang Terabaikan
Baca JugaCampak Masih Mengancam Anak-anak

Ia mengimbau agar orangtua tidak lagi ragu memberikan vaksinasi campak pada anak-anaknya. Jika perlu, vaksinasi kejar bisa diberikan untuk melengkapi dosis vaksin yang dibutuhkan. Vaksin campak diberikan sesuai jadwal sebanyak dua kali pada usia sembilan bulan dan dilanjutkan dosis kedua pada usia 15 bulan.

Vaksinasi campak perlu diberikan kepada setiap anak agar perlindungan tidak hanya didapatkan oleh satu individu saja, melainkan untuk membentuk perlindungan kelompok.

Vaksinasi campak perlu diberikan kepada setiap anak agar perlindungan tidak hanya didapatkan oleh satu individu saja, melainkan untuk membentuk perlindungan kelompok. Cakupan imunisasi campak ditargetkan bisa mencapai 95 persen.

“Campak ini bisa menular ke 12-18 orang, itu lebih menular dari Covid-19. Karena penyakit (campak) ini sangat menular, maka cakupan imunisasinya pun harus sangat tinggi di atas 95 persen supaya kekebalan komunitas terjaga dengan baik,” ujar Piprim.

Perlindungan komunitas tersebut sangat penting pada anak-anak dengan kondisi rentan. Itu seperti anak dengan gizi buruk, malanutrisi, anak dengan penyakit kronis, anak dengan penyakit jantung bawaan, dan anak dengan kondisi imunokompromais yang tidak bisa mendapatkan vaksinasi.

Pentingnya imunisasi campak pada anak telah disadari oleh Ayu (29), warga Kramat Jati, Jakarta Timur. Bersama dengan ibunya, Ayu membawa anaknya Hana (15) untuk mendapatkan imunisasi campak di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur. Ia termasuk ibu yang cukup ketat terhadap jadwal imunisasi anaknya.

Ayu pun mengungkapkan bahwa ia tidak percaya terhadap hoaks ataupun informasi keliru mengenai imunisasi. Efek samping dari pemberian imunisasi pada anaknya pun dinilai biasa dan selama ini bisa ditangani dengan baik.

“Biasanya ada demam, tapi itu bisa sembuh tidak lama kemudian. Soal hoaks saya tidak percaya, saya lebih percaya dokter. Saya juga lebih percaya imunisasi ini bisa menjaga anak saya tetap sehat,” katanya.

Keraguan

Piprim menyebutkan, masih adanya orangtua yang ragu untuk memberikan vaksinasi campak pada anaknya yang menjadi tantangan dalam capaian cakupan imunisasi di Indonesia. Kesenjangan dalam cakupan imunisasi pun masih ditemukan di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama pada tahun 2025 menunjukkan, wilayah dengan cakupan tertinggi yakni Banten (119,2 persen), DKI Jakarta (109,7 persen), dan Sumatera Selatan (105,0 persen). Sementara, daerah dengan cakupan imunisasi terendah berada di Papua Pegunungan (8,6 persen), Papua Tengah (25,4 persen), dan Aceh (39,2 persen).

Baca JugaMenangkal Hoaks Imunisasi, Melindungi Lebih Banyak Anak Indonesia
Baca JugaCampak Juga Terjadi pada Usia Dewasa, Gejala Tidak Khas dan Bisa Lebih Berat
Baca JugaImunisasi Lindungi Anak dari Kecacatan

“Kalau cakupan imunisasi ini turun, itu KLB (kejadian luar biasa) akan muncul. Bahkan ketika suatu daerah cakupannya turun dari 90 persen ke 80 persen saja, itu bisa muncul KLB karena penyakit ini memang sangat mudah menular,” ujar Piprim.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi menuturkan, saat pandemi Covid-19, banyak anak yang melewatkan jadwal imunisasinya. Kondisi itu menyebabkan kantung-kantung wilayah yang rentan terhadap penularan campak.

Untuk itu, ia pun berharap agar orangtua segera membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi, termasuk imunisasi campak. Imunisasi campak aman dan efektif. Berbagai isu yang salah tentang keamanan vaksin yang beredar di masyarakat tidak berdasarkan kajian ilmiah.

“Vaksin MR yang digunakan di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat dan mendapatkan izin edar dari BPOM. Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu membawa anaknya imunisasi,” kata Hartono.

Tatalaksana

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Edi Hartoyo menambahkan, tatalaksana dan pengendalian infeksi campak juga tidak kalah penting untuk diperhatikan. Tatalaksana campak diberikan secara suportif karena belum ada antivirus yang spesifik untuk mengobati campak.

Namun, terdapat satu intervensi penting yang terbukti mampu menurunkan angka kematian akibat campak hingga 50 persen. Intervensi itu dilakukan dengan memberikan vitamin A sesuai dengan rekomendasi WHO.

“Dosisnya adalah 50.000 unit untuk bayi di bawah 6 bulan, 100.000 unit untuk usia 6 bulan sampai 1 tahun, dan 200.000 unit untuk anak di atas 1 tahun, diberikan selama 2 hari berturut-turut,” ujar Edi.

Sementara untuk anak dengan kondisi gizi buruk atau memiliki komplikasi pada mata, dosis vitamin A tambahan bisa diberikan pada dua minggu berikutnya. Selain itu, pastikan anak yang tertular ataupun yang dicurigai campak melakukan isolasi agar penularan tidak semakin meluas.

Pasien campak dapat menularkan virus sejak empat hari sebelum ruam muncul sampai empat hari setelah ruam muncul. “Apabila pasien dirawat di rumah sakit, pasien tetap perlu dirawat di ruang isolasi airborne dengan ventilasi baik dan petugas kesehatan harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai,” ucap Edi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menkeu Purbaya Pimpin Sidang Hambatan Usaha Hari Ini
• 29 menit lalutvrinews.com
thumb
Whoosh Kembali Normal 14 Maret, Ini Jadwal Lengkap 62 Perjalanan per Hari Jakarta–Bandung
• 22 jam laludisway.id
thumb
Kawasaki Ajukan Paten Rangka Modular untuk Motor Listrik
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Kali Kedua Rapat Bareng Presiden, Hasan Nasbi Hadir di Istana, Sinyal Comeback ke Kabinet?
• 14 jam lalusuara.com
thumb
Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah, Prabowo Kebut Swasembada Energi 
• 20 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.