Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berencana menghentikan operasional pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang menggunakan bahan bakar solar secara bertahap dan menggantinya dengan energi baru terbarukan (EBT), terutama pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan panas bumi.
Rencana tersebut disampaikan Bahlil usai menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan untuk melaporkan perkembangan pembahasan Satuan Tugas Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi.
Bahlil menjelaskan, rapat perdana Satgas EBTKE telah digelar dan dihadiri delapan menteri serta perwakilan dari PT PLN (Persero). Dalam rapat tersebut dibahas langkah-langkah percepatan transisi energi, termasuk konversi pembangkit berbahan bakar solar.
“Saya melaporkan perkembangan pembahasan Satgas EBTKE, energi baru terbarukan dan juga konversi kendaraan dari bensin ke listrik. Kemarin kami sudah melakukan rapat perdana yang dihadiri delapan menteri di ESDM termasuk PLN,” ujar Bahlil di Istana, Kamis (12/3).
Ia mengatakan pemerintah menargetkan langkah awal program ini sudah bisa mulai dijalankan dalam waktu dekat. PLTD yang disetop akan digantikan dengan pembangkit berbasis energi terbarukan seperti PLTS dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau geothermal.
“Pertama yang akan kita selesaikan adalah diesel-diesel, pembangkit yang menggunakan solar. Itu akan kita selesaikan semua dengan PLTS dan juga geothermal,” kata Bahlil.
Menurutnya, PLTD yang akan dihentikan operasinya tersebar di berbagai wilayah Indonesia, terutama pembangkit yang masih bergantung pada bahan bakar solar. Namun penghentian PLTD tidak dilakukan secara langsung, pemerintah akan membangun terlebih dahulu pembangkit penggantinya sebelum PLTD dimatikan.
“Bangun dulu penggantinya. Kalau disetop sebelum dibangun, kan tidak ada listriknya. Jadi paralel, begitu sudah COD pembangkit baru, PLTD-nya dimatikan,” jelasnya.
Bahlil menambahkan langkah ini juga dilatarbelakangi ketidakpastian kondisi geopolitik global yang memengaruhi pasokan dan harga energi fosil, terutama minyak mentah yang sempat tembus di atas USD 100 per barel.
“Dalam kondisi geopolitik perang ini kita tidak bisa memastikan energi kita seperti apa dalam jangka panjang. Karena itu kita optimalkan seluruh potensi energi dalam negeri yang bisa dikonversi dari fosil,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga berencana melakukan perubahan terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk menyesuaikan arah transisi energi nasional.





