FAJAR, BEIRUT – Eskalasi perang di Timur Tengah memanas. Hizbullah meluncurkan 100 roket ke Israel utara. Operasi besar ini berlangsung serentak dengan serangan dua gelombang rudal dari Iran. Sirene pun meraung-raung tanpa henti.
Situasi di wilayah pendudukan kini berada dalam kekacauan hebat akibat rentetan serangan udara tersebut. Pemerintah Israel pun kini menghadapi tekanan internal dan diplomatik yang semakin meningkat.
Kelompok pejuang Hizbullah secara resmi mengumumkan “Operation Devoured Straw” pada Kamis (12/3/2026) sebagai balasan atas agresi yang dilakukan Israel terhadap Lebanon. Serangan masif 100 roket tersebut memicu suara sirene yang meraung tanpa henti di seluruh wilayah Israel utara hingga kawasan tengah.
Tidak hanya roket dari Lebanon, media setempat melaporkan deteksi dua gelombang rudal yang diluncurkan langsung dari Iran menuju sasaran strategis di Israel. Serangan drone tambahan juga menghantam titik-titik krusial di Dataran Tinggi Golan, Metulla, dan Misgav Am.
Klaim Kerusakan dan Respons Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyoroti sensor ketat yang diterapkan otoritas militer Israel terhadap pemberitaan dampak serangan. Ia menyebut langkah tersebut diambil karena pemerintah Benjamin Netanyahu panik melihat kekuatan Angkatan Bersenjata Iran.
“Laporan dari lapangan menunjukkan kerusakan total akibat rudal kami, para pemimpin mereka panik, dan sistem pertahanan udara dalam kekacauan. Kami baru saja memulai,” tegas Araghchi melalui akun X miliknya.
Dinamika Diplomatik
Berbeda dengan konflik pada Juni 2025 lalu, pihak Iran kali ini menegaskan penolakan terhadap tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat maupun Israel.
Sementara itu, Menlu Israel Gideon Saar menyatakan bahwa negaranya tidak menginginkan “perang tanpa akhir”, namun tetap berkomitmen melanjutkan operasi militer.
Saat menerima kunjungan Menlu Jerman Johann Wadephul, Saar mengungkapkan kriteria kemenangan bagi negaranya.
Tujuan Israel: menghilangkan ancaman eksistensial dari Iran untuk jangka panjang.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, sebelumnya telah menyoroti kekhawatiran besar di Eropa karena hingga kini belum ada tanda-tanda rencana penghentian konflik antara poros AS-Israel dan Iran.
Situasi ini terus berkembang pesat sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026, yang kini telah memasuki hari ke-12 dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah secara menyeluruh. (*)





