Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) memastikan kondisi global yang memanas tak mengganggu target produksi dua aset yang akhir 2025 lalu mereka akusisi di Australia, Jubilee Metals Limited (JML) dan Wolfarm Limited (WFL).
Christopher Fong, Chief Corporate Affairs & Sustainability Officer BUMI, mengatakan bahwa serangan Amerika Serikat (AS) ke negara produsen minyak terbesar keempat anggota OPEC, Iran, memang membuat harga komoditas minyak dan batu bara melonjak yang itu secara bisnis memang bisa mengerek average selling price (ASP) BUMI. Namun, pihaknya tetap berharap kondisi global lebih stabil demi keberlangsungan usaha.
"Mereka [Wolfarm] akan memulai operasi dalam beberapa minggu ke depan. Dan kami akan membuat pengumuman lebih lanjut dalam bulan depan, tetapi kami mengharapkan return yang baik pada 2026," ujarnya saat ditemui di acara peluncuran logo baru BUMI di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Akhir tahun lalu BUMI resmi merampungkan akuisisi 100% saham WFL dengan total nilai transaksi Rp698,98 miliar atau setara dengan 63,5 juta dolar Australia. Melalui pengambilalihan ini, Bumi Resources kini memperoleh akses langsung terhadap potensi produksi emas dan tembaga dari tambang Wolfram yang berlokasi di Australia Barat.
Pada saat mengumumkan rampungnya akusisi tahun lalu, manajemen menargetkan tambang Wolfram mulai berproduksi dalam satu hingga dua tahun pertama setelah akuisisi. Produksi emas dari tambang ini diharapkan dapat menambah pendapatan perseroan dalam jangka pendek.
Sementara untuk Jubilee, Christopher mengatakan di sana sedang dalam tahap pemindahan pabrik pengolahan. BUMI optimistis tambang emas Jubilee dapat segera dapat berkontribusi pada kinerja keuangan perseroan.
"Jubilee mereka akan memulai sedikit lebih lambat pada tahun ini. Mereka memindahkan pabrik pengolahan, tetapi kami juga mengharapkan produksi akan dimulai pada kuartal IV/2026. Dan itu sebagian besar emas," tandasnya.
Pada Desember 2025, BUMI resmi mencaplok 5.734.770 saham JML atau setara dengan 64,98% dengan nilai transaksi mencapai Rp346,93 miliar atau setara 31,47 juta dolar Australia. JML memiliki tambang emas di Queensland Utara dan Victoria.
Beroperasi sejak 2012, perusahaan ini awalnya fokus menggarap kawasan Croydon di bagian barat Queesland. Area ini memiliki nilai sejarah dalam dunia pertambangan Australia. Di kawasan ini, emas pertama kali ditemukan pada 1885 dan pernah mencapai level produksi tertinggi sepanjang sejarah sebesar 1,9 juta ounce.
Christopher menambahkan, memanasnya gejolak politik yang dipicu AS dan Israel sejauh ini juga belum berdampak pada operasional perseroan. Dia menegaskan, BUMI hingga sekarang tetap beroperasi normal dan siap memenuhi pesanan yang sudah masuk.
"Kami tidak memiliki masalah dengan itu. Dan kami belum melihat biaya [produksi] kami meningkat. Konflik baru berjalan 11 atau 12 hari dan masalah-masalah itu belum sampai kepada kami. Dan kami berharap itu tidak akan terjadi," pungkasnya.





