Wakil Ketua Badan Penganggaran Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) H. Johan Rosihan bersama lembaga penelitian MY Institute menggagas program pendidikan kepemudaan bernama Sekolah Pilar Muda untuk memperkuat pemahaman kebangsaan generasi muda melalui pendekatan yang lebih inovatif dan partisipatif.
Johan mengatakan program ini lahir dari refleksi terhadap berbagai kegiatan sosialisasi kebangsaan yang sebelumnya telah dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa. Pada Desember 2025, kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI dilaksanakan di beberapa titik yang melibatkan pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, komunitas pemuda, serta berbagai unsur masyarakat. Dalam kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan penyampaian materi mengenai nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga dilakukan survei evaluasi kepada para peserta untuk mengetahui bagaimana generasi muda memandang kegiatan sosialisasi tersebut.
"Hasil evaluasi menunjukkan temuan yang cukup menarik. Para peserta pada umumnya menyatakan bahwa nilai-nilai kebangsaan tetap dianggap penting bagi generasi muda. Namun, mereka juga menyampaikan bahwa metode sosialisasi yang dilakukan selama ini masih cenderung bersifat satu arah. Para peserta menginginkan kegiatan kebangsaan yang lebih partisipatif, dialogis, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat secara langsung dalam aksi sosial di masyarakat," ungkap Johan dalam keterangannya, Kamis (12/3/2026).
Banyak responden juga mengusulkan agar kegiatan kebangsaan dikaitkan dengan persoalan nyata yang mereka hadapi di daerah masing-masing, seperti isu lingkungan, ketahanan pangan, dan berbagai persoalan sosial di tingkat lokal. Generasi muda tidak hanya ingin memahami nilai-nilai kebangsaan secara teoritis, tetapi juga ingin mempraktikkannya melalui kegiatan nyata yang berdampak bagi masyarakat.
Berangkat dari aspirasi tersebut, Johan Rosihan bersama MY Institute kemudian merancang sebuah program pendidikan kepemudaan yang tidak hanya berfungsi sebagai forum sosialisasi kebangsaan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, diskusi, dan aksi sosial bagi generasi muda. Program tersebut kemudian dikenal dengan nama Sekolah Pilar Muda.
Sekolah Pilar Muda dirancang sebagai program pendidikan kepemudaan berbasis komunitas yang mengintegrasikan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI dengan pengembangan kepemimpinan dan gerakan sosial pemuda. Program ini tidak hanya menekankan pemahaman terhadap Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi juga mendorong generasi muda untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk aksi nyata di masyarakat.
Dalam konsepnya, Sekolah Pilar Muda nantinya menempatkan pemuda sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran kebangsaan. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilatih untuk membaca persoalan sosial di daerahnya, merumuskan gagasan solusi, serta mengembangkan berbagai inisiatif sosial yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
Program ini menyasar pelajar dan pemuda berusia 15 hingga 24 tahun dari seluruh wilayah Kabupaten Sumbawa. Peserta berasal dari berbagai sekolah, komunitas pemuda, serta kelompok masyarakat yang memiliki minat terhadap isu-isu sosial dan kebangsaan. Melalui kegiatan sosialisasi yang dilakukan sejak Februari hingga Maret 2026, informasi mengenai Sekolah Pilar Muda diperkenalkan kepada para pelajar di berbagai sekolah di wilayah Sumbawa, mahasiswa di lingkungan kampus, serta komunitas pemuda dan kelompok lintas agama di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Pilar Muda dirancang melalui beberapa tahapan seleksi dan pembelajaran yang cukup komprehensif. Tahap pertama dimulai dengan proses pendaftaran terbuka bagi pemuda di seluruh wilayah Kabupaten Sumbawa. Peserta yang ingin mengikuti program ini diwajibkan mengirimkan berkas administrasi serta karya tulis berupa esai yang memuat gagasan dan analisis mereka mengenai persoalan sosial di daerah masing-masing.
Esai tersebut tidak hanya berisi opini pribadi, tetapi juga harus disusun berdasarkan hasil diskusi atau wawancara dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, ataupun komunitas lokal di sekitar peserta. Dengan cara ini, peserta didorong untuk memahami persoalan sosial secara langsung dari masyarakat serta belajar merumuskan gagasan solusi yang relevan dengan kondisi daerah.
Tema esai yang ditawarkan dalam program ini berkaitan dengan berbagai isu strategis di Kabupaten Sumbawa, seperti persoalan lingkungan dan alam, ketahanan pangan dari perspektif generasi muda, serta gerakan kepemudaan dalam menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat. Tema-tema tersebut dipilih karena dianggap dekat dengan kehidupan generasi muda sekaligus relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Setelah tahap pendaftaran dan pengumpulan berkas selesai, panitia kemudian melakukan seleksi administrasi dan penilaian terhadap karya tulis yang telah dikirimkan oleh para peserta. Dari tahap ini akan dipilih sejumlah peserta terbaik dari berbagai wilayah yang kemudian diundang untuk mengikuti tahap wawancara.
Seleksi wawancara dilakukan untuk menilai lebih jauh kualitas gagasan peserta, pemahaman mereka terhadap isu sosial, kemampuan berpikir kritis, serta komitmen sosial yang dimiliki. Selain itu, aspek kepemimpinan, pengalaman organisasi, serta kemampuan komunikasi juga menjadi bagian penting dalam proses penilaian.
Peserta yang berhasil melewati tahap seleksi wawancara kemudian ditetapkan sebagai peserta Sekolah Pilar Muda dan diundang untuk mengikuti kegiatan karantina pendidikan kepemudaan yang berlangsung selama lima hari nantinya di Sumbawa.
Karantina ini menjadi inti dari proses pembelajaran dalam Sekolah Pilar Muda. Dalam kegiatan ini para peserta mengikuti berbagai kelas tematik, diskusi kebijakan, serta simulasi sidang yang dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan kemampuan merumuskan solusi terhadap persoalan sosial.
Kelas-kelas yang diberikan kepada peserta mencakup berbagai materi penting, seperti critical thinking, manajemen organisasi, kepemimpinan pemuda, serta pemahaman mengenai isu-isu strategis yang dihadapi daerah. Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai nilai-nilai Empat Pilar MPR RI sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan sidang selayaknya anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang membahas mengenai esai sosial yang sebelumnya telah ditulis pada masa pendaftaran. Di samping itu, peserta yang terpilih nantinya akan berdialog langsung dengan berbagai tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, serta pemimpin daerah. Pertemuan dengan tokoh-tokoh tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami berbagai perspektif mengenai pembangunan daerah dan tantangan kebangsaan yang dihadapi masyarakat.
Dalam kegiatan Sekolah Pilar Muda ini para peserta dilatih untuk menyampaikan gagasan, menyusun argumentasi, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan lainnya.
Melalui proses tersebut, para peserta Sekolah Pilar Muda tidak hanya belajar memahami persoalan daerah, tetapi juga dilatih untuk merumuskan solusi secara sistematis dan menyampaikannya dalam forum. Proses ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya demokrasi dan partisipasi generasi muda dalam kehidupan publik.
Salah satu hasil utama dari proses pembelajaran tersebut adalah lahirnya berbagai gagasan proyek sosial kepemudaan yang dirancang oleh para peserta. Setiap peserta atau kelompok regional diminta untuk merancang kegiatan sosial yang dapat dilaksanakan di daerah masing-masing setelah program Sekolah Pilar Muda selesai.
Proyek sosial tersebut diarahkan pada berbagai tema strategis yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, seperti gerakan pelestarian lingkungan, edukasi ketahanan pangan di tingkat komunitas, penguatan literasi masyarakat, serta berbagai inisiatif sosial yang melibatkan generasi muda dalam pembangunan daerah.
Melalui proyek sosial ini, nilai-nilai kebangsaan yang dipelajari dalam Sekolah Pilar Muda diharapkan tidak berhenti pada tingkat pemahaman, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata di masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, Sekolah Pilar Muda tidak hanya menjadi program pendidikan kebangsaan, tetapi juga menjadi wadah pembentukan pemimpin muda yang memiliki kepedulian sosial dan kemampuan merumuskan solusi bagi persoalan masyarakat.
MY Institute sebagai mitra pelaksana program memiliki pengalaman dalam berbagai kegiatan literasi dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat gerakan pendidikan kebangsaan yang lebih inklusif serta menjangkau berbagai kelompok masyarakat, terutama generasi muda.
Kegiatan sosialisasi yang dilakukan di berbagai sekolah, kampus, serta komunitas masyarakat di Sumbawa sejak awal tahun 2026 menunjukkan bahwa generasi muda memiliki minat yang besar terhadap isu-isu kebangsaan ketika disampaikan melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan mereka.
Para pelajar, mahasiswa, dan komunitas pemuda yang mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan antusiasme tinggi dalam berdiskusi mengenai peran generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa serta menghadapi berbagai tantangan sosial di masa depan.
Ke depan, Sekolah Pilar Muda diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan pendidikan kebangsaan yang lebih luas dan berkelanjutan. Program ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan lokal, tetapi juga sebagai model pendidikan kepemudaan yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui gerakan ini diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya memahami nilai-nilai kebangsaan secara teoritis, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam tindakan nyata bagi masyarakat.
"Di tengah dinamika globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, pendidikan kebangsaan menjadi semakin penting bagi generasi muda Indonesia. Nilai-nilai Empat Pilar MPR RI dapat menjadi fondasi moral yang membimbing generasi muda dalam menghadapi berbagai perubahan zaman," terang Johan.
"Melalui Sekolah Pilar Muda, generasi pelajar dan pemuda diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang kritis, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjadi penggerak perubahan positif di masyarakat," imbuhnya.
Dengan demikian, Sekolah Pilar Muda tidak hanya menjadi ruang belajar bagi generasi muda, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam membangun masa depan bangsa melalui penguatan karakter kebangsaan dan kepemimpinan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
(prf/ega)




