Militer AS Kerahkan Ratusan Pesawat Tempur untuk Serangan Udara, Hancurkan 16 Kapal Penebar Ranjau Iran di Dekat Selat Hormuz– Video Dirilis

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

Etindonesia. Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat. Baru-baru ini muncul laporan bahwa Iran menempatkan ranjau laut di jalur energi utama dunia, yaitu Selat Hormuz. Pada 10 Maret, militer Amerika Serikat menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran di dekat selat Hormuz. Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan bahwa hari itu merupakan serangan paling intens sejak perang melawan Iran dimulai.

Selat Hormuz merupakan jalur transportasi energi paling penting di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan produk energi global melewati kawasan ini. 

Menurut laporan CNN yang mengutip sumber dari komunitas intelijen Amerika Serikat, jumlah ranjau laut yang telah ditempatkan Iran di selat itu masih relatif terbatas, sekitar beberapa puluh ranjau, sehingga belum mencapai tingkat blokade penuh.

U.S. forces eliminated multiple Iranian naval vessels, March 10, including 16 minelayers near the Strait of Hormuz. pic.twitter.com/371unKYiJs

— U.S. Central Command (@CENTCOM) March 10, 2026

Namun pihak AS menilai bahwa Iran masih memiliki sekitar 80% hingga 90% kapal cepat kecil dan kapal penebar ranjau. Jika Iran meningkatkan operasi, mereka dapat menyebarkan ratusan ranjau laut dalam waktu singkat, yang berpotensi menimbulkan ancaman serius bagi transportasi energi global.

Menanggapi hal ini, pada 10 Maret Presiden AS Donald Trump menulis di platform Truth Social untuk memperingatkan bahwa jika Iran menempatkan ranjau di Selat Hormuz, Amerika Serikat menuntut agar ranjau tersebut segera disingkirkan. Jika tidak, Iran akan menghadapi “konsekuensi yang sangat serius yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

U.S. forces are degrading the Iranian regime's ability to project power at sea and harass international shipping. For years, Iranian forces have threatened freedom of navigation in waters essential to American, regional and global security and prosperity. pic.twitter.com/gIBN02mowh

— U.S. Central Command (@CENTCOM) March 10, 2026

Pada 11 Maret, United States Central Command mengumumkan melalui platform X (Twitter) bahwa pada 10 Maret militer AS telah menghancurkan sejumlah kapal angkatan laut Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau di dekat Selat Hormuz.

Unggahan tersebut juga menyertakan video operasi militer yang memperlihatkan penghancuran kapal-kapal Iran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menulis di X bahwa:  “Di bawah arahan Presiden Trump, Komando Pusat AS terus menyingkirkan kapal penebar ranjau yang belum digunakan di Selat Hormuz—menghancurkannya dengan presisi tanpa belas kasihan. Kami tidak akan pernah membiarkan teroris menyandera Selat Hormuz.”

Ia juga memperingatkan:  “Untuk rezim Iran yang lemah: kalian telah secara resmi diperingatkan!”

Pada hari yang sama, United States Central Command menyatakan bahwa militer AS sedang melemahkan kemampuan rezim Iran dalam memproyeksikan kekuatan di laut dan mengganggu pelayaran internasional. Selama bertahun-tahun, militer Iran telah mengancam kebebasan navigasi di perairan yang sangat penting bagi keamanan dan kemakmuran Amerika Serikat, kawasan, dan dunia.

Hundreds of air assets continue to deliver devastating combat power against the Iranian regime during Operation Epic Fury. pic.twitter.com/aqzHqdnVoh

— U.S. Central Command (@CENTCOM) March 11, 2026

Komando Pusat AS juga mengatakan bahwa dalam “Operation Epic Fury”, ratusan pesawat tempur terus melakukan serangan yang menghancurkan terhadap rezim Iran.

Pada 10 Maret pagi, Menteri Perang Pete Hegseth dan Kepala Joint Chiefs of Staff Jenderal Dan Caine mengadakan konferensi pers di Pentagon.

 “Hari ini sekali lagi akan menjadi hari dengan intensitas serangan udara tertinggi terhadap target di dalam Iran. Kami akan mengerahkan lebih banyak pesawat tempur dan pembom, melakukan lebih banyak serangan udara, dan intelijen kami lebih akurat serta lebih andal daripada sebelumnya,” kata Hegseth. 

Ia juga menyatakan bahwa jumlah rudal yang diluncurkan Iran dalam 24 jam terakhir adalah yang paling sedikit dibandingkan kemampuan peluncuran mereka.

Sementara itu, Jenderal Dan Caine mengatakan bahwa serangan berkelanjutan militer AS telah menurunkan peluncuran rudal Iran terhadap Israel dan sekutunya di Teluk hingga 90%, dan serangan drone satu arah berkurang 83%.

Operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel sejauh ini telah menyerang sekitar 5.000 target di dalam Iran, dan Amerika Serikat terus melemahkan kekuatan angkatan laut Iran. (Hui)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puncak Musim Kemarau 2026 Bakal Lebih Kering, Kapan Terjadinya?
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Perbedaan Orang Baik Hati dan People Pleaser yang Sering Tertukar
• 13 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pihak Denada Kecewa Sidang Kembali Tertunda, Kuasa Hukum Ressa Beri Sindiran Menohok
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Peluk Hangat Prabowo Sambut Kedatangan Menhan Australia di Kertanegara
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia-Jepang Perkuat Kerja Sama Industri, Energi Bersih, dan Teknologi
• 16 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.