Hampir 1 dari 10 Anak Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Apa Penyebabnya?

suara.com
9 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Program CKG Kemenkes mendeteksi hampir 10% dari 7 juta anak terindikasi masalah kesehatan mental, didominasi kecemasan dan depresi.
  • Tren percobaan bunuh diri remaja melonjak signifikan dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023.
  • Pemerintah berencana perluasan skrining dan tindak lanjut melalui puskesmas, menyoroti peran lingkungan asuh dan sekolah.

Suara.com - Di tengah berbagai persoalan kesehatan masyarakat, satu temuan terbaru dari Kementerian Kesehatan memunculkan alarm baru mengenai kesehatan mental anak Indonesia. Dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ditemukan bahwa hampir satu dari sepuluh anak menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental.

Temuan ini berasal dari skrining terhadap jutaan anak di berbagai daerah. Angkanya tidak kecil, bahkan sudah menyentuh ratusan ribu anak yang mengalami gejala kecemasan dan depresi. Situasi ini menegaskan bahwa kesehatan mental anak bukan lagi isu pinggiran, melainkan masalah kesehatan publik yang mendesak untuk ditangani. 

Apa yang Ditemukan dalam Skrining Kesehatan Anak?

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memetakan kondisi kesehatan masyarakat secara lebih luas, termasuk kesehatan mental anak.

Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, hampir 10 persen di antaranya terindikasi mengalami masalah kesehatan mental. Temuan tersebut mengungkap dua gejala utama yang paling banyak muncul, yaitu kecemasan dan depresi. 

Rinciannya menunjukkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala kecemasan, sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa angka tersebut bukan hal kecil.

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi. 

Temuan ini menjadi gambaran awal dari kondisi kesehatan mental anak di Indonesia. Pemerintah sendiri menargetkan program skrining ini akan terus diperluas agar semakin banyak anak yang bisa terdeteksi sejak dini.

Baca Juga: Refleksi Kehidupan di Balik TKP dalam Buku Things Left Behind

Infografis kesehatan mental remaja. (Suara.com/Syahda)

Mengapa Masalah Ini Perlu Diwaspadai?

Gangguan kesehatan mental pada anak bukan hanya persoalan emosional sesaat. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius ketika mereka tumbuh dewasa. Salah satu indikator yang paling mengkhawatirkan ialah meningkatnya angka percobaan bunuh diri pada remaja. 

Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2015, angka percobaan bunuh diri pada anak tercatat sekitar 3,9 persen. Namun pada 2023, angka tersebut melonjak menjadi 10,7 persen. 

Kenaikan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental anak tidak bisa dipandang sebagai masalah individu semata. Ia berhubungan dengan banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi psikologis, relasi sosial, hingga tekanan lingkungan.

Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting. Dengan mengetahui gejala lebih awal, intervensi bisa dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi krisis kesehatan jiwa yang lebih serius.

Apa Penyebab Anak Mengalami Gangguan Mental?

Kementerian Kesehatan menyebut bahwa masalah kesehatan mental pada anak tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor lingkungan yang memengaruhi kondisi psikologis mereka.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa lingkungan sekitar anak memiliki peran penting dalam membentuk kesehatan mental.

"Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar,” kata Budi. 

Secara umum, ada beberapa faktor yang paling sering memengaruhi kondisi mental anak.

Pertama, lingkungan keluarga. Relasi antara orang tua dan anak, pola asuh, hingga konflik dalam keluarga dapat berdampak langsung pada kesehatan mental anak.

Kedua, lingkungan sosial. Interaksi dengan teman sebaya, tekanan sosial, hingga pengalaman perundungan dapat memicu stres dan kecemasan pada anak.

Ketiga, lingkungan sekolah. Beban akademik, tuntutan prestasi, serta dinamika pergaulan di sekolah juga sering menjadi sumber tekanan psikologis.

Ketiga faktor ini saling berkaitan dan membentuk ekosistem psikologis anak dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Tanggung Jawab Negara?

Temuan dari program CKG membuka kenyataan bahwa masalah kesehatan mental anak membutuhkan pendekatan yang lebih serius dari negara.

Pemerintah berencana memperluas skrining kesehatan mental hingga menjangkau puluhan juta anak di seluruh Indonesia, sehingga deteksi dini dapat dilakukan secara lebih sistematis. 

Selain itu, anak-anak yang terindikasi mengalami gejala gangguan mental akan mendapatkan tindak lanjut dari fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Pemerintah juga mendorong peningkatan jumlah tenaga psikolog klinis serta layanan bantuan krisis kesehatan jiwa.

Namun upaya negara tidak bisa berdiri sendiri. Keluarga, sekolah, dan masyarakat juga memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman secara emosional bagi anak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IJTI: Tolak Imperialisme Platform Global di Tanah Air!
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Sahur Sehat di Tengah Tren “Sahur Scroll” Saat Ramadan
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dua Tanker Diledakkan, Iran Kirim Ultimatum: Harga Minyak Akan Melonjak Brutal!
• 8 jam lalusuara.com
thumb
133 KK Korban Banjir di Gayo Lues Pindah ke Huntara
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Mudik Lebaran 2026, ASDP Prediksi Penumpang Naik 9 Persen
• 10 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.