Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi outlook atau prospek peringkat jangka panjang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (indonesia Eximbank) menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai revisi outlook itu bisa membuat cost of fund atau biaya dana Indonesia Eximbank menjadi mahal.
Kemudian, lanjutnya, biaya bunga naik karena persepsi risiko dan kemampuan mengembalikan dana simpanan turun. Begitu juga saat menerbitkan obligasi di pasar valas menjadi semakin sulit diserap.
“Implikasinya bunga penyaluran pinjaman terutama ke UMKM berorientasi ekspor jadi lebih tinggi bunganya dan plafon bisa lebih rendah,” kata Bhima kepada Bisnis, Kamis (12/3/2026).
Oleh karena itu, dia berpendapat strateginya adalah harus memperbaiki tata kelola Danantara. Hal ini karena penilaian rating yang dilakukan terkait dengan keseluruhan manajemen risiko Danantara.
Menurut Bhima, Danantara jangan sampai masuk ke proyek yang berisiko tinggi seperti gasifikasi batu bara dan juga dividend payout ratio BUMN harus dirasionalisasikan.
Baca Juga
- Indonesia Eximbank (LPEI) Buka Suara usai Fitch Pangkas Outlook
- Menilik Prospek Bank Pelat Merah usai Outlook Dipangkas Moody's dan Fitch
- Fitch Pangkas Outlook, Analis Jelaskan Dampaknya ke Bank Himbara
“Jadi, Fitch Ratings dan Moodys Ratings itu mengingatkan soal besarnya dividen BUMN yang diambil Danantara itu bisa menghambat capex,” sebutnya.
Sementara itu, Strategic Research Manager Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai revisi outlook LPEI atau Indonesia Eximbank menjadi negatif mencerminkan kuatnya keterkaitan lembaga tersebut dengan kondisi kredit negara.
Baginya, perubahan itu mengikuti revisi outlook sovereign Indonesia, sehingga risiko utama yang dihadapi Indonesia Eximbank adalah meningkatnya sovereign linkage risk.
“Artinya, jika peringkat sovereign benar-benar diturunkan, maka besar kemungkinan rating lembaga ini juga akan ikut tertekan karena selama ini profil kreditnya banyak ditopang oleh ekspektasi dukungan pemerintah,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (12/3/2026).
Dari sisi operasional, jelasnya, outlook negatif ini berpotensi memicu repricing risiko di pasar keuangan. Pasalnya, investor global biasanya menjadikan rating sebagai acuan utama dalam menentukan premi risiko, sehingga perubahan outlook dapat meningkatkan biaya pendanaan, khususnya untuk pembiayaan valas yang menjadi sumber utama bagi Indonesia Eximbank dalam menyalurkan kredit ekspor.
Jika biaya dana meningkat, imbuhnya, ruang margin Indonesia Eximbank bisa tertekan dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi daya saing pembiayaan bagi eksportir nasional.
“Selain itu, revisi outlook juga dapat memunculkan persepsi bahwa kapasitas fiskal pemerintah untuk memberikan dukungan tidak sekuat sebelumnya, meskipun komitmen dukungan itu sendiri masih tetap ada,” tegas Yusuf.
Oleh sebab itu, dia menyarankan Indonesia Eximbank memperkuat fondasi fundamentalnya sehingga tidak terlalu bergantung pada dukungan negara dalam penilaian kredit. Baginya, penguatan kualitas aset, kecukupan modal, serta manajemen risiko pembiayaan ekspor menjadi kunci agar profil kreditnya lebih fundamental-driven.
Selain itu, ujarnya, diversifikasi sumber pendanaan juga penting. Misalnya dengan memperbesar porsi pendanaan domestik melalui obligasi rupiah atau memperluas kerja sama dengan lembaga keuangan pembangunan internasional seperti Asian Development Bank, World Bank, maupun Japan Bank for International Cooperation, yang umumnya menyediakan pembiayaan jangka panjang dengan biaya yang lebih stabil.
“Di saat yang sama, transparansi kinerja dan komunikasi yang proaktif kepada investor juga penting untuk menjaga kepercayaan pasar selama periode outlook negatif,” tegasnya.
Selanjutnya, Indonesia Eximbank juga dinilai perlu memastikan setiap penugasan kebijakan dari pemerintah tetap memiliki mekanisme kompensasi risiko yang jelas agar tidak membebani neraca lembaga.
“Dalam jangka menengah, perbaikan outlook pada akhirnya juga sangat terkait dengan perbaikan outlook sovereign Indonesia sendiri, sehingga kontribusi Indonesia Eximbank dalam memperkuat ekspor nasional dan stabilitas devisa menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki persepsi risiko negara di mata lembaga pemeringkat,” tutup Yusuf.





