Sebanyak 295 perlintasan kereta api sebidang di Jawa Timur (Jatim) diketahui tidak memiliki penjagaan maupun palang pintu. Hal itu menjadi perhatian khusus menjelang dimulainya arus mudik lebaran 2026.
Denny Michels Adlan Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya DJKA mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi intens dengan Dinas Perhubungan dan Polda Jatim untuk memitigasi keselamatan di 295 perlintasan sebidang tersebut.
Hal itu disampaikan Denny dalam kegiatan kunjungan Hartanto Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden ke Stasiun Surabaya Pasarturi terkait kesiapan arus mudik di Jatim, Kamis (12/3/2026).
Dia mengatakan pihaknya bersama Pemprov dan Polda Jatim telah berkomitmen menyiapkan skema penjagaan selama masa angkutan mudik berlangsung.
Denny menyebut nantinya akan ada 24 kereta api fakultatif dan tambahan yang akan melintas. Oleh karena itu penjagaan di perlintasan sebidang harus diperketat.
“Dari 1001 perlintasan sebidang, ada 295 yang tidak terjaga. Saya benar-benar concern, mengingat ada 24 KA fakultatif dan tambahan yang akan lewat. Petugas PJL (Penjaga Lintasan) harus diedukasi betul,” kata Denny, Kamis (12/3/2026).
Dia mengatakan, edukasi dan sosialisasi kepada petugas PJL akan terus dimasifkan untuk meminimalisir risiko kecelakaan selama arus mudik.
Kemudian, sebelum posko angkutan mudik dimulai, Denny menyebut kegiatan ramp check sudah dilakukan untuk memastikan kesiapan armada melayani penumpang.
“Baik itu memeriksa kesiapan stasiun fasilitasnya seperti apa, kesiapan sarananya dan lokomotifnya,” ungkapnya.
Kemudian terkait proyeksi penumpang di stasiun, Denny menyebut ada peningkatan 3 persen dalam periode mudik tahun ini. Yang mana Stasiun Gubeng diprediksi melayani 10.000 orang perhari sedangkan Pasarturi melayani 9.000 orang.
“Untuk di Stasiun Gubeng itu bisa 10.000 orang per hari, kalau di Pasar Turi di kisaran 8.500 sampai 9.000 penumpang per hari,” jelasnya.(wld/bil/ham)




