Iran masih menutup Selat Hormuz usai diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel. Selat Hormuz itu masih horor bagi kapal tanker minyak karena bisa jadi sasaran rudal.
Komandan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan setiap kapal militer Amerika Serikat (AS) atau sekutunya yang melintasi Selat Hormuz akan menjadi sasaran. Dilansir Al-Jazeera, komentar ini muncul setelah klaim Menteri Energi AS Chris Wright yang menyebut Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak melalui selat tersebut, sebuah unggahan yang kemudian dihapusnya dari X.
"Klaim tentang sebuah kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS sama sekali tidak benar. Setiap pelayaran armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone bunuh diri Iran," kata kepala angkatan laut IRGC Alireza Tangsiri.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan AS 'menyebarkan berita palsu' tentang Selat Hormuz untuk memanipulasi pasar keuangan. Unggahan X Abbas Araghchi muncul setelah AS menarik kembali klaim bahwa salah satu kapal perangnya telah mengawal kapal tanker energi melalui Selat Hormuz hari ini.
IRGC menyatakan negara-negara akan mendapatkan akses tanpa hambatan untuk melintasi Selat Hormuz, jika mereka mengusir Duta Besar AS dan Israel dari wilayah mereka.
"Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya, akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok," kata IRGC dalam pengumumannya pada Senin (9/3) malam.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang biasanya menangani sekitar 20 persen dari perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Namun, menurut perusahaan analisis Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di sana menurun 90 persen dalam seminggu.
Kapal Kargo Thailand Diserang
Tiga awak kapal diyakini terjebak di atas kapal kargo Thailand yang terkena proyektil Iran saat melintasi Selat Hormuz. Hingga saat ini, mereka belum berhasil diselamatkan.
IRGC mengatakan pada hari Rabu (11/3), bahwa mereka telah menyerang kapal Mayuree Naree yang terdaftar di Thailand, serta sebuah kapal berbendera Liberia, di Selat Hormuz karena kapal-kapal tersebut mengabaikan "peringatan".
Kapal Thailand tersebut terkena proyektil pada Rabu pagi saat melintasi jalur perairan Teluk itu, setelah berangkat dari pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab.
Kedua proyektil tersebut merusak ruang mesin Mayuree Naree dan menyebabkan kebakaran.
"Tiga awak kapal dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di ruang mesin," kata perusahaan transportasi Thailand, Precious Shipping dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Kamis (12/3/2026). Disebutkan bahwa pihak berwenang sedang berupaya menyelamatkan mereka.
(idn/idn)





