Wall Street Anjlok Lebih dari 1,5 Persen, Harga Minyak Hampir USD 100 per Barel

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis (12/3). Tekanan muncul setelah serangan Iran terhadap dua kapal tanker minyak memicu lonjakan harga minyak mentah hingga mendekati USD 100 per barel, yang memperbesar kekhawatiran inflasi dan mendorong investor keluar dari pasar saham.

Ketiga indeks utama saham AS kompak jatuh lebih dari 1,5 persen dalam aksi jual besar-besaran. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan, kecuali sektor energi yang justru menguat seiring melonjaknya harga minyak. Bahkan beberapa saham defensif juga mencatatkan penurunan cukup dalam.

Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 739,42 poin atau 1,56 persen menjadi 46.677,85. Sementara itu, Indeks S&P 500 turun 103,22 poin atau 1,52 persen menjadi 6.672,58, dan Nasdaq Composite melemah 404,15 poin atau 1,78 persen ke level 22.311,98. Penurunan ini membuat S&P 500 mencatatkan pelemahan persentase tiga hari terbesar dalam sebulan terakhir.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama gejolak pasar. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyatakan komitmennya untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute pengiriman energi paling vital di dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) juga memperingatkan bahwa konflik dengan Iran dapat menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi. Kondisi ini memicu lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Di pasar komoditas, kontrak berjangka minyak mentah WTI untuk pengiriman bulan depan melonjak 9,7 persen. Sementara minyak Brent naik 9,2 persen hingga menyentuh kisaran USD 100 per barel.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah meminta perusahaan minyak dan pelayaran domestik untuk bersiap menghadapi kemungkinan pengecualian terhadap Undang-Undang Jones yang telah berlaku selama seabad. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menekan lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri.

"Ada kesadaran bahwa penyelesaian konflik Timur Tengah semakin tertunda," kata Ryan Detrick, Kepala Ahli Strategi Pasar di Carson Group di Omaha.

"Ini adalah mentalitas 'jual dulu, baru bertanya kemudian'. Belum ada sektor yang aman di luar sektor energi," imbuhnya.

Pasar juga mencermati pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan pada 17 Maret. Meski data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih terkendali, lonjakan harga minyak akibat konflik Iran belum tercermin dalam data tersebut.

Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, investor akan menyoroti ringkasan proyeksi ekonomi terbaru untuk melihat potensi perubahan perkiraan inflasi.

"Di balik kenaikan harga minyak mentah yang melonjak, terdapat kesadaran bahwa kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada akhir tahun ini semakin menipis," ungkap Detrick.

Di sisi lain, kekhawatiran terkait kualitas kredit juga meningkat. Perusahaan ekuitas swasta asal Swiss, Partners Group, memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar kredit swasta berpotensi meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang.

Beberapa saham sektor keuangan turut tertekan. Morgan Stanley membatasi penarikan dana pada salah satu dana kredit swastanya, sementara JPMorgan Chase mencatat penurunan nilai sejumlah pinjaman kepada dana kredit swasta. Saham Morgan Stanley turun 4,1 persen, sedangkan JPMorgan melemah 1,6 persen.

Di antara 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor energi mencatat kenaikan terbesar sebesar 1,0 persen. Sebaliknya, sektor industri mengalami penurunan paling dalam hingga 2,5 persen.

Pergerakan saham individual juga cukup beragam. Operator aplikasi kencan Bumble melonjak 34,2 persen setelah proyeksi pendapatan kuartal keempatnya melampaui ekspektasi analis. Sebaliknya, peritel diskon Dollar General anjlok 6,1 persen setelah memproyeksikan penjualan tahunan yang lebih lemah dari perkiraan pasar.

Saham perusahaan pupuk pertanian juga menguat karena harga komoditas melonjak. Indeks S&P Pupuk dan Bahan Kimia Pertanian naik 4,9 persen, didorong oleh ketergantungan sektor tersebut pada jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.

Selain itu, saham perusahaan kimia LyondellBasell dan Dow masing-masing naik 10,3 persen dan 9,3 persen setelah Citigroup menaikkan peringkat keduanya. Peningkatan tersebut didorong peluang ekspor baru di tengah gangguan rantai pasok di Timur Tengah.

Pada perdagangan berikutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data tersebut meliputi sentimen konsumen, pesanan barang tahan lama, laporan lowongan kerja, serta data pengeluaran konsumsi pribadi.

Dari sisi pergerakan saham, jumlah saham yang turun jauh melampaui yang naik. Di Bursa Efek New York (NYSE), rasio saham turun terhadap naik mencapai 4,18 banding 1, dengan 117 saham mencatat rekor tertinggi baru dan 198 menyentuh level terendah baru.

Sementara di Nasdaq, sekitar 1.100 saham menguat dan 3.600 saham melemah dengan rasio 3,27 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 17 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 25 rekor terendah baru, sedangkan Nasdaq mencatat 33 rekor tertinggi baru dan 172 rekor terendah baru.

Total volume perdagangan di bursa saham AS mencapai 19,96 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20,05 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arus Mudik 2026 Diproyeksikan Naik 9,4 Persen, ASDP Siapkan 222 Kapal Hadapi Lonjakan 5,8 Juta Pemudik
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sindiran Timothée Chalamet ke Dunia Opera Dibalas Elegan oleh Andrea Bocelli
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Gianni Infantino Sebut Indonesia Contoh Sukses Pendanaan FIFA Forward
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Waktu Adalah Nyawa: Lima Rahasia Pemimpin Sejati Mengelola Hari-harinya
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Buntut Izin SMK IDN Dicabut Gubernur KDM, Orang Tua Datangi Gedung Sate Pertanyakan Nasib Anak
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.