Perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran semakin memanas dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Hal ini menandakan Iran sulit untuk dikalahkan.
Hal itu sampaikan Pakar Strategi Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati dalam Podcast To The Po!nt Aja SindoNews, pada Jumat (13/3/2026).
“Iran terlalu besar untuk dikalahkan dan dianggap remeh. Secara militer habis, untuk tactical output 90 punya Iran selesai, yang lain hanya nyalakan kalau perlu saja, semua mati atau hancur. Tetapi di sisi lain, kemampuan serangnya Iran tidak pernah berkurang,” ujarnya.
Baca juga: Iran Sebut Pesawat KC-135 Amerika Ditembak Jatuh Sistem Rudal, Tepis Klaim AS
Sebaliknya, kemampuan pertahanan Amerika dan Israel semakin berkurang. Awalnya mampu menjatuhkan 70 dari serangan Iran, lama-lama 50 dan kini hanya 15. Artinya, kini Iran tidak perlu mengirim banyak rudal untuk menyerang. “Kalau tadinya ngirim 15 rudal, drone-nya 10 namanya asimetris, sekarang dia cukup ngirim satu atau dua rudal pasti masuk. Lebih irit sekarang. Jadi Iran menghabisi lawan pada perang pertama, kedua, dan ketiga dengan mengirimkan banyak rudal dan drone. Drone seharga 20.000 Dollar dan rudal jelajah seharga 500 ribu Dollar itu sanggong dengan dua hingga tiga rudal patriot seharga 4 juta Dollar. Negara sebesar Amerika pun itu sangat boros,” katanya.
Alumni US Air War College menyebut pada hari pertama perang, Kuwait kehabisan rudal pencegat patriot. Bahkan sampai menggunakan rudal di era perang Teluk pada 1991.
Lihat video: Ngeri! Detik-Detik Peluncuran Masif Rudal Balistik Iran Fase 40”Radar untuk mendeteksi rudal balistik jarak jauh, di seluruh dunia hanya ada 8 unit, sebanyak 4 di antaranya ada di Timur Tengah, keempat-empatnya itu dihancurkan. Satelit BeiDou bantuan dari China sangat ampuh. Jadi tidak hanya mengirim GPS tapi juga data dan informasi, sehingga rudal-rudal jarak jauh masih bisa dikendalikan,” ujarnya.
Tidak hanya itu, paska latihan militer bersama dengan Iran pada bulan lalu, kata dia, China tidak kembali tetapi menyiagakan lima kapal perang modern terdiri atas tiga kapal destroyer, satu kapal perusak, dan satu kapal suplai logistik. “Ada di situ, mengawal tangker China, radarnya AESA yang bisa menangkap pesawat siluman, nongkrong di sana. Enggak ada diberitakan?,” ujarnya.
Mantan penerbang pesawat tempur F-16 ini menyebut saat ini, seluruh pangkalan Amerika Serikat yang dibangun mulai perang dingin yang membuat Amerika hegemoni di Timur Tengah itu hancur. “Banyak pangkalan yang dibagi dua, separuh ada pangkalan yang miliknya Kuwait, sebelahnya Amerika. Yang diserang punya Amerika saja, Kuwait utuh. Sempat Kuwait diserang kembali karena ada pesawat Amerika yang landing di situ karena tidak bisa refuel, karena darurat. Pangkalan Kuwait yang diserang,” katanya.
Agung menambahkan, Iran menyerang kebanyakan target militer atau yang dianggap militer, jarang pernah target sipil. Jadi sekarang kalau pesawat Amerika mau mendarat, dia mendarat di tempat di bandara sipil. Tidak mungkin di pangkalannya lagi. Tidak mungkin dia isi bahan bakar di dermaganya.
“Enggak mungkin ada mess nya lagi, enggak ada rumah sakitnya, sudah pergi semua. Dicurigai ada juga yang tewas di situ, lepas dari berapa orang. Kan enggak mungkin ada ruangan besar pusat komando dijebol gitu, orangnya cuma sedikit, kan enggak mungkin,’ katanya.
Original Article




