Hello Mr. Trump, Begini Cara Islam Menaklukkan Iran Persia

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia  - Penaklukan Persia oleh pasukan Muslim pada abad ke-7 merupakan salah satu perubahan geopolitik paling dramatis dalam sejarah dunia. Dalam waktu relatif singkat, Kekaisaran Sassanid runtuh dan wilayah Persia masuk ke dalam kekuasaan kekhalifahan Islam.

Keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan. Jika dilihat dari sudut pandang strategi, ekspansi tersebut mencerminkan kombinasi kekuatan internal, peluang geopolitik, serta momentum kelemahan lawan.

Kekaisaran Sasanian (Sassanid) merupakan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Persia yang menjadi cikal bakal identitas Iran modern. Kekaisaran ini berdiri pada 224 M hingga 651 M dan didirikan oleh Ardashir I setelah berhasil menumbangkan Dinasti Parthia.

Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Sassanid sangat luas. Kekaisaran ini mencakup hampir seluruh wilayah Iran modern, serta meluas hingga Irak, sebagian kawasan Kaukasus, Asia Tengah, hingga wilayah Arabia dan Levant. Dengan cakupan wilayah tersebut, secara geografis dan politik Sassanid dapat dianggap sebagai negara Iran pada masa kuno.

Dalam sejarah Iran, Sassanid juga dikenal sebagai kekaisaran Persia terakhir sebelum datangnya Islam. Kekuasaan dinasti ini berakhir pada abad ke-7 setelah kalah dalam peperangan melawan pasukan Arab Muslim.

Pada masa itu, wilayah tersebut lebih dikenal dengan nama Persia oleh dunia internasional. Nama Iran sendiri baru digunakan secara resmi pada 1935, ketika pemerintah Iran meminta negara-negara lain menggunakan sebutan tersebut dalam hubungan diplomatik dan internasional.
Sejak Persia hingga berganti nama Iran, negara tersebut kerap berjibaku dalam konflik dan perang. Terbaru, Iran terlibat perang melawan Israel vs Amerika Serikat yang dipimpin Donad Trump.

Persatuan Bangsa Arab Setelah Islam

Salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki negara Muslim awal adalah persatuan bangsa Arab.

Sebelum Islam muncul, Jazirah Arab dikenal sebagai wilayah yang dipenuhi konflik antarsuku. Namun setelah Islam berkembang, banyak suku Arab yang sebelumnya terpecah berhasil dipersatukan dalam satu komunitas politik dan religius.

Baca: Empat Khalifah, Empat Krisis: Ujian Berat di Awal Sejarah Islam

Persatuan ini menciptakan solidaritas militer yang kuat. Pada masa khalifah pertama, Abu Bakr, kekuatan tersebut mulai diarahkan keluar Jazirah Arab. Ia mengirim 18.000 pasukan sukarelawan ke wilayah Mesopotamia di bawah pimpinan jenderal Khalid ibn al-Walid.

Pasukan Khalid ibn al-Walid merupakan tentara muslim yang memiliki motivasi religius yang kuat. Mereka percaya bahwa mati di medan perang demi membela agama Allah akan mengantarkan mereka ke surga. Motivasi ini membentuk semangat tempur yang tinggi

Kemenangan 4 pertempuran besar yang diraih Khalid membuka jalan bagi ekspansi yang lebih luas ke wilayah Persia.

Persia Sedang Dilanda Krisis

Keberhasilan pasukan Muslim juga tidak lepas dari kondisi geopolitik Persia yang sedang rapuh.

Kekaisaran Sassanid, penguasa Persia, mengalami perang yang berkepanjangan melawan Bizantium dari 602 hingga 628 M. Konflik ini menguras sumber daya militer dan ekonomi negara secara besar-besaran.

Di sisi lain, situasi internal juga tidak stabil. Setelah wafatnya kaisar Persia, Khosrow II, pada 628 M, kekaisaran mengalami pergantian penguasa secara cepat disertai konflik politik di kalangan elite.

Selain itu, kebijakan pajak yang berat membuat sebagian masyarakat tidak puas terhadap pemerintahan pusat. Kondisi tersebut membuat struktur kekuasaan Sassanid semakin rapuh ketika menghadapi invasi dari luar.

Pertempuran yang Menentukan Runtuhnya Persia

Salah satu titik balik paling penting terjadi dalam Pertempuran al-Qadisiyyah pada tahun 636 M. Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim yang dipimpin oleh Sa'd ibn Abi Waqqas berhadapan dengan tentara Persia di bawah komando jenderal Rostam Farrokhzad.

Kemenangan pasukan muslim pada pertempuran ini membuka jalan untuk merebut ibu kota Kekaisaran Sassanid, Ctesiphon. Jatuhnya pusat pemerintahan tersebut menjadi simbol bahwa kekuasaan Persia mulai runtuh.

Beberapa tahun kemudian, pertempuran lain yang tak kalah penting terjadi pada 642 M, yaitu Pertempuran Nahavand. Pertempuran ini sering dijuluki sebagai "Victory of Victories" karena dampaknya yang sangat besar.

Kekalahan Persia dalam pertempuran ini hampir sepenuhnya mengakhiri perlawanan militer terorganisasi dari Kekaisaran Sassanid. Setelah kemenangan tersebut, pasukan Muslim mampu menembus lebih jauh ke wilayah dataran tinggi Iran, membuka jalan bagi penaklukan wilayah Persia secara menyeluruh.

Raja terakhir Persia, Yazdegerd III, berusaha melanjutkan perlawanan dengan berpindah dari satu kota ke kota lain untuk mencari dukungan dan mengumpulkan kembali kekuatan militer, namun upaya tersebut tidak berhasil.

Pada akhirnya, Yazdegerd III terbunuh di Merv pada tahun 651 M. Peristiwa ini menandai berakhirnya Kekaisaran Sassanid sekaligus mengakhiri salah satu kekuatan besar yang pernah mendominasi kawasan Timur Tengah.

Dampak Besar Penaklukan Persia

Penaklukan Persia oleh pasukan Muslim pada abad ke-7 turut mengubah arah sejarah kawasan tersebut.

Secara politik, wilayah Persia kemudian menjadi bagian dari kekhalifahan Islam dan masuk ke dalam jaringan pemerintahan serta perdagangan dunia Islam yang sedang berkembang.

Dalam segi agama, Islam menggeser posisi dominan Zoroastrianisme di persia. Meski begitu, Zoroastrianisme tidak sepenuhnya hilang dan komunitasnya tetap bertahan di beberapa wilayah seperti Fars dan Kerman hingga sekarang.

Menariknya, identitas budaya Persia tidak lenyap setelah penaklukan. Sebaliknya, masyarakat Persia beradaptasi dengan menggabungkan tradisi lama dengan unsur-unsur Islam.

Dari proses ini lahir budaya Islam-Persia yang kemudian memainkan peran besar dalam perkembangan peradaban dunia Islam, terutama pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Pada periode ini, banyak ilmuwan Persia muncul sebagai tokoh penting dalam Zaman Keemasan Islam:

Warisan Persia juga mempengaruhi sistem pemerintahan dunia Islam. Model birokrasi yang berkembang di Persia kemudian menjadi inspirasi bagi berbagai kekaisaran Islam berikutnya, termasuk Seljuk Empire dan Safavid Empire.

Penaklukan ini akhirnya melahirkan perpaduan budaya yang memperkaya peradaban Islam dan meninggalkan warisan intelektual yang bertahan hingga berabad-abad kemudian.



(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Astra Kirim Ratusan Unit Alkes hingga Puluhan Ambulans untuk PEnanganan Korban Terdampak Bencana Suamatera
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Fans Garuda Berbondong-bondong Komentari Jersey Baru Timnas Indonesia: Waduh
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Bahlil Lapor Prabowo Soal Gerak Satgas Transisi Energi, Selepas Lebaran Tancap Gas
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Kapolri, Panglima, hingga Menko PMK Naik Heli Cek Kesiapan Mudik di Merak
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Menkes Sebut Donasi 31 Ambulans untuk Daerah Bencana di Sumatra Wujud Gotong Royong Masyarakat
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.