Beirut: Kelompok Hezbollah mengumumkan telah meluncurkan 25 gelombang serangan menggunakan roket dan drone yang menargetkan posisi militer, pemukiman, serta konsentrasi pasukan Israel di wilayah utara dan tengah Israel.
Serangan ini diklaim sebagai balasan atas gempuran udara Israel yang menghantam puluhan kota di Lebanon, termasuk pinggiran selatan Beirut.
Berdasarkan pernyataan resmi kelompok tersebut, Hezbollah membombardir kota Nahariya dan Kiryat Shmona dengan tembakan roket beberapa kali dalam sehari. Selain itu, pangkalan udara Meron yang menjadi pusat kendali dan pengawasan udara di utara Israel turut menjadi sasaran drone, yang diklaim berhasil merusak salah satu sistem radar di fasilitas tersebut.
Seperti dilansir Anadolu, Jumat 13 Maret 2026, dalam eskalasi terbaru ini, Hezbollah juga melaporkan serangan terhadap beberapa objek vital militer Israel.
Markas unit komando angkatan laut Shayetet 13 di pangkalan Atlit, selatan Haifa, dihantam dengan rudal presisi, lalu Pangkalan Glilot di dekat Tel Aviv, yang menjadi markas Unit Intelijen Militer 8200, menjadi sasaran serangan udara.
Pusat pelatihan pangkalan militer Beit Lid di pusat Israel, yang menampung kamp pelatihan Brigade Nahal dan Pasukan Terjun Payung, turut menjadi sasaran roket. Hezbollah mengklaim telah menggempur sistem pertahanan udara Israel di Maalot-Tarshiha dan wilayah dekat kota Caesarea.
Di medan tempur darat, Hezbollah melaporkan telah menyerang konsentrasi tentara Israel di sejumlah titik perbatasan Lebanon Selatan, termasuk Merkaba, Blat, Tel al-Hamamess, Jabal Warda, dan Adaisseh, menggunakan roket serta artileri.
Konflik ini meletus sejak 2 Maret lalu sebagai respons Hezbollah atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel. Israel membalas dengan kampanye militer besar-besaran, termasuk serangan udara di Beirut dan memulai invasi darat terbatas di wilayah selatan Lebanon sejak 3 Maret.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nasser El Din, melaporkan bahwa rangkaian serangan Israel hingga saat ini telah menyebabkan 687 orang tewas, termasuk 98 anak-anak. Selain itu, tercatat sebanyak 1.774 orang mengalami luka-luka akibat eskalasi militer yang terus meluas di wilayah Lebanon.
(Kelvin Yurcel)




