Mojtaba Khamenei Peringatkan Negara Teluk Tutup Pangkalan AS atau Hadapi Serangan

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Teheran: Dalam pernyataan pertamanya sejak menjadi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa seluruh pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk harus segera ditutup. Jika tidak, pangkalan tersebut akan menjadi sasaran serangan Iran.

Pernyataan itu disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran, IRIB pada Kamis, 12 Maret 2026. Pesan tersebut dibacakan oleh seorang penyiar, sementara Mojtaba Khamenei sendiri belum terlihat di depan publik sejak perang dimulai.

Khamenei, putra dari pemimpin sebelumnya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara AS dan Israel, mengatakan bahwa Teheran tetap menginginkan hubungan baik dengan negara-negara tetangga meskipun akan terus menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat.

“Iran, tanpa berupaya mendominasi kawasan, sepenuhnya siap menjalin persatuan dan hubungan hangat dengan negara-negara tetangganya,” ujarnya, dikutip dari Middle East Eye, Jumat, 13 Maret 2026.
 

Baca Juga :

Pemimpin Tertinggi Iran Perintahkan Blokir Selat Hormuz dan Ancam Pangkalan Militer AS

“Negara-negara di kawasan harus menutup pangkalan militer Amerika Serikat; jika tidak, kami akan terpaksa menyerangnya kembali,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus menggunakan “tuas penutupan Selat Hormuz.”

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang terletak di antara Semenanjung Musandam di Oman dan wilayah Iran. Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik paling vital bagi perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima produksi minyak global serta sepertiga perdagangan gas alam cair dunia melewati perairan tersebut.

Dalam lebih dari sepekan terakhir, Iran secara efektif telah menutup jalur tersebut dan mengancam akan menyerang kapal tanker yang mencoba melintas. Beberapa kapal tanker dilaporkan telah terkena serangan dalam beberapa hari terakhir.

Khamenei juga menyinggung kemungkinan pembukaan front baru dalam konflik yang sedang berlangsung.

“Front lain yang belum banyak dipahami musuh dan dapat diaktifkan jika situasi perang berlanjut akan dibuka berdasarkan pertimbangan kepentingan,” katanya.

Ia menyatakan bahwa kelompok perlawanan di Yaman, merujuk pada Ansar Allah atau Houthi, “juga akan menjalankan tugasnya,” sementara kelompok bersenjata di Irak disebut ingin membantu Iran. Hingga kini, kelompok Houthi belum terlibat langsung dalam konflik tersebut.

“Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan besar pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan serangan,” tambahnya.

Khamenei juga menyatakan bahwa warga Iran yang terluka akibat konflik akan menerima perawatan medis gratis serta kompensasi keuangan. Ia mengisyaratkan bahwa dana tersebut akan diperoleh melalui reparasi perang.

“Kami akan menuntut ganti rugi perang dari musuh atas perang yang mereka paksakan kepada kami,” ujarnya.

“Jika musuh menolak, kami akan menyita sebanyak mungkin aset mereka yang kami anggap layak; dan jika itu tidak memungkinkan, kami akan menghancurkan properti mereka dalam jumlah yang setara,” lanjutnya.

Serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah anggota keluarga lainnya, termasuk istri pemimpin baru tersebut, Zahra Adel, ibunya Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, seorang putra, serta saudara perempuannya.
Siapa Mojtaba Khamenei? Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota Mashhad di timur laut Iran, yang dikenal sebagai salah satu pusat keagamaan paling penting di negara tersebut.

Ia merupakan putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei serta cucu ulama Syiah Sayyed Javad Khamenei.

Tumbuh pada masa pergolakan Revolusi Islam Iran, Mojtaba menyaksikan langsung perjalanan politik ayahnya dari tokoh revolusioner hingga menjadi presiden dan kemudian pemimpin tertinggi Iran.

Ia kemudian menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri politisi konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen Iran, Gholam-Ali Haddad-Adel.

Zahra Haddad-Adel termasuk di antara korban yang tewas dalam serangan yang menargetkan kediaman keluarga Khamenei di Teheran.

Seperti banyak tokoh senior dalam kalangan ulama Iran, Mojtaba menempuh pendidikan teologi di kota Qom, pusat utama studi Syiah di negara tersebut.

Di sana ia mempelajari fikih Islam dan teologi di bawah bimbingan sejumlah ulama terkemuka, termasuk Mahmoud Hashemi Shahroudi, Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi.

Para analis menyebut Mojtaba menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pengajar di seminari-seminari di Qom, termasuk mengajar tingkat lanjutan dalam kajian fikih yang dikenal sebagai dars-e kharej, tingkat tertinggi dalam pendidikan seminari.

Meski telah lama aktif di lingkungan keagamaan Iran, ia tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan maupun menduduki posisi melalui pemilihan umum.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kursi Terbatas Hanya 308 Tiket! Kemenhub Kembali Buka Kuota Tambahan Mudik Gratis 2026
• 2 menit lalukompas.tv
thumb
Mudik Lebaran, Warga Jakbar Bisa Titip Kendaraan di Kantor Polisi
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menko Airlangga: Asia Perlu Perkuat Sinergi Hadapi Dinamika Ekonomi Global
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sinergi Mahasiswa dan Brigade Pangan, Tanam Perdana Padi di Lahan Baru Parangloe Gowa Menggunakan Drone
• 6 jam laluterkini.id
thumb
Sejumlah Isu Humaniora Jadi Sorotan, dari Pemulihan Tesso Nilo hingga Percepatan Imunisasi Campak
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.