JAKARTA, KOMPAS — Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah tajam pada Jumat (13/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terkoreksi 224 poin atau 3,05 persen ke level 7.137. Pelemahan terjadi hampir sepanjang sesi perdagangan seiring meningkatnya tekanan sentimen global dan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, kepada Kompas, mengatakan, pelemahan pasar mencerminkan perubahan sikap investor global yang kembali menghindari aset berisiko (risk-off). Tekanan terlihat merata di seluruh sektor, tanpa ada sektor yang mampu bertahan di zona hijau.
“Pasar menunjukkan tekanan yang cukup besar hari ini. Hampir seluruh sektor mengalami pelemahan, menandakan investor sedang sangat berhati-hati terhadap risiko global,” ujar Hendra.
Sentimen negatif terutama datang dari lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent kembali menembus level di atas 100 dolar AS per barel dan diperdagangkan di kisaran 101,48 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah Iran memperkuat ancaman penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama distribusi energi global. Kekhawatiran gangguan pasokan membuat pasar mengantisipasi lonjakan inflasi energi yang dapat menekan pemulihan ekonomi global.
Lonjakan harga energi tersebut juga mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Sebelumnya, pasar memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve, akan memangkas suku bunga hingga sekitar 50 basis poin pada 2026. Kini, ekspektasinya turun menjadi sekitar 20 basis poin.
Perubahan ekspektasi ini mendorong investor global mengurangi eksposur di aset berisiko, termasuk aset di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Sentimen eksternal juga tercermin dari pelemahan mayoritas bursa Asia serta depresiasi sejumlah mata uang kawasan. Nilai tukar rupiah turut melemah mendekati level Rp 16.900 per dolar AS.
Di pasar saham domestik, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sekitar Rp 221 miliar pada perdagangan hari ini. Aliran dana keluar tersebut mempertegas sikap kehati-hatian investor global terhadap risiko geopolitik dan potensi inflasi.
Tim analis BRI Danareksa Sekuritas, dalam ulasan penutupan pasar, menilai bahwa koreksi IHSG juga dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Selain lonjakan harga minyak dan koreksi bursa global, pasar juga mencermati potensi tekanan terhadap fiskal Indonesia.
“Jika harga minyak berada jauh di atas asumsi APBN, maka berpotensi meningkatkan tekanan pada fiskal negara,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas.
Dari sisi domestik, BRI Danareksa Sekuritas melihat bahwa pasar juga mencermati pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut opsi defisit APBN melebihi 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terbuka. Keputusan ini akan mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto.
Meski belum ada keputusan resmi, wacana pelebaran defisit menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama jika harga minyak dunia tetap tinggi.
Meski belum ada keputusan resmi, wacana pelebaran defisit menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama jika harga minyak dunia tetap tinggi.
Hendra juga menilai, kenaikan harga energi berpotensi memperlebar defisit fiskal karena subsidi energi bisa meningkat signifikan. Kondisi ini juga berisiko memengaruhi persepsi lembaga pemeringkat global terhadap stabilitas fiskal Indonesia.
“Ketika harga minyak masih di kisaran 60 dolar AS per barel saja APBN sudah menghadapi tekanan defisit, apalagi sekarang berada di atas 100 dolar AS. Jika defisit melebar, risiko terhadap peringkat kredit bisa meningkat dan pada akhirnya membuat biaya utang pemerintah ikut naik,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi. Selama harga minyak tetap berada di level tinggi dan ketegangan geopolitik belum mereda, investor diperkirakan masih mempertahankan posisi defensif.
Secara teknikal, analis BRI Danareksa Sekuritas melihat IHSG berada dalam tren koreksi dengan pola lower high–lower low, sementara indikator MACD masih berada di area negatif.
Level support atau batas bawah utama saat ini berada di kisaran 7.100 hingga 7.000, setelah sebelumnya area 7.200 gagal dipertahankan. Jika tekanan global berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support tersebut pada awal pekan depan.
Di sisi lain, sektor perbankan masih dinilai menjadi penopang utama indeks apabila terjadi upaya rebound terbatas. Namun secara keseluruhan, arah pasar dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta dinamika kebijakan moneter global.





