FAJAR, MAKASSAR — Pertandingan antara PSM Makassar dan Persis Solo diprediksi menjadi salah satu laga paling menentukan dalam perebutan posisi aman di papan bawah kompetisi. Duel yang akan digelar pada 4 April 2026 di Stadion Gelora BJ Habibie itu disebut-sebut layaknya laga final bagi kedua tim yang sedang berjuang menghindari zona degradasi.
Bagi PSM Makassar, pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin. Ia menjadi momentum untuk menyelamatkan musim yang sejauh ini berjalan jauh dari harapan.
Evaluasi Internal PSM
Asisten pelatih PSM, Ahmad Amiruddin, mengungkapkan bahwa tim pelatih bersama manajemen telah melakukan evaluasi menyeluruh setelah serangkaian hasil kurang memuaskan.
Menurutnya, salah satu persoalan terbesar yang dihadapi tim saat ini adalah mentalitas pemain.
“Memang semenjak hasil kurang bagus di Parepare, kami bersama manajemen dan pemain langsung mengadakan rapat internal. Yang kami bahas pertama itu masalah teknis yang menyebabkan PSM seperti ini,” ujar Amiruddin.
Namun setelah pembahasan lebih mendalam, tim pelatih menemukan bahwa faktor mental juga memiliki pengaruh besar terhadap performa tim di lapangan.
Dalam beberapa pertandingan terakhir, PSM dinilai tampil tanpa kepercayaan diri penuh—bahkan seolah sudah kalah sebelum pertandingan dimulai.
Menghidupkan Kembali Spirit Siri’ Na Pacce
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim pelatih dan manajemen sepakat menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi identitas klub.
Spirit siri’ na pacce kembali ditekankan sebagai fondasi mental para pemain.
Dalam budaya Bugis-Makassar, siri’ na pacce merupakan simbol harga diri, solidaritas, dan keberanian untuk tidak menyerah dalam situasi sulit.
“Problem pertama yang kami temukan adalah mentalitas. Akhirnya kami sepakat untuk mengembalikan kembali spirit siri’ na pacce yang menjadi slogan PSM Makassar,” jelas Amiruddin.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dedikasi para pemain terhadap klub tidak pernah diragukan.
“Yang paling penting, dedikasi pemain untuk klub ini sangat-sangat tinggi,” tambahnya.
Pesan Legenda PSM
Legenda PSM, Syamsuddin Umar, juga menyampaikan pandangan serupa.
Menurutnya, dalam situasi krisis seperti sekarang, status pemain tidak lagi menjadi hal utama.
Yang lebih penting adalah kebangkitan tim secara kolektif.
“Tidak penting lagi apakah dia pemain asing, anak Makassar, atau pemain lokal. Sekarang yang paling penting adalah kebangkitan tim agar bisa kembali meraih poin penuh,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa seluruh pemain harus memahami makna siri’ na pacce sebagai karakter utama PSM.
“Semua harus tahu itu. Mau pemain asing atau lokal, semuanya harus mengerti makna spirit siri’ na pacce. Tanpa itu, sama saja dikali nol,” tegasnya.
Persis Solo Sedang Bangkit
Sementara itu, calon lawan PSM sedang berada dalam tren positif.
Persis Solo baru saja meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas Bali United di Stadion Manahan.
Dalam laga tersebut, gol Persis dicetak oleh Dejan Tumbas dan dua gol dari Bruno Gomes.
Kemenangan itu membawa Persis keluar dari zona degradasi sekaligus mengangkat posisi mereka ke peringkat ke-15 klasemen sementara.
Selain itu, hasil tersebut juga menyelamatkan posisi pelatih kepala Milomir Seslija yang sebelumnya dikabarkan berada di ambang pemecatan.
Duel Penentu Nasib
Dengan situasi kedua tim yang masih berada di papan bawah, pertemuan PSM dan Persis Solo dipastikan berlangsung panas.
Bagi PSM, laga ini menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa semangat siri’ na pacce masih hidup dalam tim.
Sementara bagi Persis Solo, kemenangan akan semakin menjauhkan mereka dari ancaman degradasi.
Karena itu, pertandingan di Parepare nanti tidak sekadar pertandingan biasa.
Bagi kedua tim, ia adalah laga hidup dan mati—pertarungan yang bisa menentukan nasib mereka di kompetisi musim ini.





