Kisah Pengrajin Janur di Kampung Ketupat Bogor, Upah Rp 4.000 per 100 Ketupat

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

BOGOR, KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Kota Bogor, sekelompok warga di Kampung Kebon Danas, Cimahpar, Bogor Utara, menjalani aktivitas yang jauh dari kebisingan jalan raya.

Di kampung ini, jari-jari warga dengan telaten menganyam janur dari daun kelapa hijau menjadi kulit ketupat—salah satu hidangan yang identik dengan perayaan Lebaran.

Sambil menganyam, warga kerap berbincang mengenai kehidupan sehari-hari, saling berbagi cerita dan solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Aktivitas tersebut berlangsung hampir tanpa henti, dengan tumpukan kulit ketupat yang terus bertambah setiap jamnya.

Kampung Kebon Danas pun dikenal sebagai “Kampung Ketupat”, karena sebagian besar warganya menggantungkan penghasilan dari membuat kulit ketupat untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membantu masyarakat menyiapkan hidangan Lebaran.

Baca juga: Tradisi Ketupat Lebaran Bertahan karena Memori Keluarga dan Simbol Budaya

Menganyam ketupat sejak kecil

Proses membuat kulit ketupat membutuhkan pengalaman serta ketelitian agar hasilnya rapi dan kuat saat diisi beras.

Mumun (57), salah satu pengrajin kulit ketupat di kampung tersebut, mengaku sudah menekuni pekerjaan ini sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Dari kelas 4 SD, sudah lama," kata Mumun kepada Kompas.com di Cimahpar, Jumat (13/3/2026).

Dalam sehari, Mumun mampu membuat sekitar 500 kulit ketupat. Ia biasanya mulai bekerja pada pagi hari. Ia tidak bekerja sendirian. Wawa (49) turut menemani Mumun menganyam janur di sebuah bale bambu sederhana.

"Sudah lama pas SD sudah bikin, diajarin Teh Mumun," ujar Wawa saat ditemui Kompas.com.

Dalam satu hari, Wawa juga mampu membuat sekitar 500 kulit ketupat.

"Dari pagi sampai jam 22.00 WIB, dapat 500 lanjut lagi pagi besoknya. Sesudah itu istirahat, besok lagi bikin lagi," tambah dia.

Menurut Mumun, daun kelapa yang mereka gunakan berasal dari seorang pengepul atau “bos” yang mempekerjakan mereka.

"Dari bos, kami mah kuli dibilangnya urung ketupat, daun kelapa ini mah yang ijo," ujar Mumun.

Baca juga: Menganyam Rezeki dari Janur Saat Lebaran Mendekat

Bergantung pada pesanan

Pekerjaan membuat kulit ketupat sebenarnya berlangsung sepanjang tahun, dari satu Lebaran ke Lebaran berikutnya. Namun penghasilan mereka sangat bergantung pada permintaan pasar.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Jika penjualan dari pengepul sedang menurun, para pengrajin seperti Mumun bisa tidak mendapatkan pekerjaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Minta Pastikan BHR Diterima Pekerja Transportasi Online
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Purbaya Pede Investigasi Dagang AS Tak Ganggu Prospek Perdagangan RI
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Pelatih Bela Diri Nasional Tersangka Pencabulan Atlet Ditahan Polda Jatim
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Menag Tegaskan ASN Kemenag Dilarang Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kecam Serangan ke Iran, Spanyol Tarik Permanen Dubesnya dari Israel
• 22 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.