Ekspor Indonesia ke Timur Tengah Tetap Berjalan Meski Biaya Angkut Naik

pantau.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan aktivitas ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah masih berjalan normal meskipun terjadi kenaikan biaya pengangkutan barang akibat dinamika logistik global.

Pernyataan Menteri Perdagangan

Budi Santoso menyampaikan pernyataan tersebut kepada pers usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Jakarta pada Jumat, 13 Maret 2026.

Ia mengatakan informasi mengenai kondisi ekspor tersebut diperoleh dari pelaku usaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI).

"Iya, mereka (eksportir) menyampaikan memang ada beberapa pengaruh, terutama untuk ekspor ke Timur Tengah," kata Budi Santoso.

Menurut dia, permintaan komoditas Indonesia dari negara-negara Timur Tengah masih relatif stabil.

Budi Santoso menjelaskan kendala utama yang dihadapi para eksportir saat ini adalah meningkatnya biaya logistik atau biaya pengangkutan barang.

"Permintaan dari Timur Tengah sebenarnya tidak turun. Yang menjadi naik itu (biaya) angkutannya," ujarnya.

Meski biaya transportasi meningkat, para eksportir Indonesia tetap melanjutkan aktivitas ekspor ke kawasan tersebut.

Dampak Konflik Timur Tengah

Pemerintah berharap kondisi logistik global dapat segera membaik sehingga aktivitas perdagangan internasional dapat berjalan lebih lancar.

Badan Pusat Statistik sebelumnya menyatakan konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mempengaruhi aktivitas perdagangan global.

Namun dampak konflik tersebut terhadap perdagangan Indonesia dinilai relatif kecil.

Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah mencapai sekitar 9,06 miliar dolar Amerika Serikat.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 3,5 persen dari total ekspor nasional Indonesia.

Negara tujuan utama ekspor Indonesia di kawasan Timur Tengah antara lain Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman.

Komoditas utama yang diekspor Indonesia ke kawasan tersebut meliputi minyak sawit dan turunannya, kendaraan dan bagian kendaraan, logam mulia, serta berbagai produk kimia.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat dalam beberapa waktu terakhir akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran jalur perdagangan internasional di kawasan tersebut.

Salah satu jalur strategis yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz yang merupakan rute utama pengiriman minyak dan berbagai komoditas dari kawasan Teluk menuju pasar global.

Gangguan pada jalur tersebut berpotensi mempengaruhi biaya logistik dan distribusi perdagangan internasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Data Dukcapil: Penduduk Indonesia Terbanyak Berasal dari Shio Tikus
• 12 jam lalusuara.com
thumb
Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Jumat, 13 Maret 2026
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Krisis 2026 Nyata, Harga Laptop Bakal Naik Rp 6 Juta Lebih
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Momentum Ramadan, IJTI Korwil Tangsel Gelar Kegiatan Berbagi ke Masyarakat Mmembutuhkan
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Kejagung Dinilai Progresif Berantas Korupsi
• 8 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.