Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Norwegia sedang meminta untuk membeli kredit karbon dari proyek PLTS Apung yang ada di RI.
Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan pihak Norwegia menawarkan harga karbon berada di kisaran USD 20 sampai USD 40 per ton.
“Sekarang dia (Norwegia) sudah mau banget. Kira-kira harganya segitu. USD 20-40 per ton. Nah ini sedang ditawarkan,” kata Eniya dalam sambutannya di acara Launching The 12th EBTKE ConEx 2026 di Hotel DoubleTree, Jakarta Pusat, Jumat (13/3).
Eniya mengatakan harga tersebut ditawarkan seiring dengan model pendanaan yang dinilai cukup menguntungkan. Meski begitu, kata Eniya, pihaknya masih menelaah lebih lanjut rencana tersebut, khususnya terkait pengembangan PLTS Apung.
“Tapi proyek PLTS Apung mungkin jadi tahun berapa? Tahun depan entah berapa, 7 tahun lagi, 5 tahun lagi. Kira-kira harga karbon masih segitu atau enggak? Nah ini yang harus punya justifikasi,” ujar Eniya.
Eniya juga menyebut sudah ada beberapa lokasi yang menjadi perhatian pihak Norwegia. Meski belum diketahui secara pasti dari mana informasi mengenai lokasi tersebut diperoleh.
“Jadi akan nanti rekomendasinya dari Kementerian ESDM,” tutur Eniya.
Kementerian ESDM mengungkapkan target puncak emisi (peak emission) Indonesia akan bergeser dari sebelumnya pada 2030, molor menjadi 2035. Puncak emisi merupakan kondisi ketika total emisi gas rumah kaca suatu kawasan mencapai titik tertingginya dan kemudian mulai menurun. Pergeseran target ini menjadi pekerjaan besar bagi komitmen transisi energi Indonesia.





