Bisnis.com, JAKARTA — Emiten produsen makanan ringan merek Taro, PT FKS Food Sejahtera Tbk. (AISA) tak hanya menggenjot penjualan Taro tetapi juga Mie Kremezz dengan memanfaatkan momentum Ramadan dan Idulfitri 2026.
VP Marketing & New Product Development Snacking 2 FKS Food Sejahtera, Fendy Susanto mengatakan salah satu strategi menggenjot penjualan produk Mie Kremezz adalah dari variasi produk, cara makan yang unik, dan beragam rasa dari Mie Kremezz.
Perseroan telah merilis sejumlah varian di antaranya Mie Kremezz Shorr, Mie Kremezz Mixx, Mie Kremezz Krezz, dan varian terbaru Mie Kremezz Wave yang bergelombang.
“Targetnya adalah Ramadan yang lebih ceria dan penuh kegembiraan bagi generasi muda. Segmen pasar anak muda terutama anak-anak. Dengan setiap varian memberikan sensasi keseruan tersendiri,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (13/3/2026).
Direktur Utama AISA Gerry Mustika masih optimistis terhadap daya tahan konsumsi makanan ringan di Indonesia pada tahun ini. AISA menilai, di tengah tekanan daya beli, konsumen masih menjadikan makanan ringan sebagai kebutuhan yang relatif terjangkau, sehingga permintaannya cenderung stabil.
“Kami melihat pasar snack tetap menjadi kategori yang resilien di tengah tantangan ekonomi pada tahun ini. Dengan inovasi dan kolaborasi yang tepat, peluang pertumbuhan masih sangat terbuka,” ujarnya.
Tak hanya itu, Gerry menilai persaingan dengan produk impor tetap sehat. Produk lokal dinilai masih unggul berkat pemahaman terhadap selera konsumen Indonesia, fleksibilitas ukuran dan harga, serta inovasi rasa yang berkelanjutan.
Gerry menuturkan bahwa banyak rencana kolaborasi yang pada tahun ini sudah disiapkan untuk menjaga kinerja penjualan. Tak hanya itu, investasi yang akan dilakukan juga masih berada dalam koridor yang telah targetkan.
Adapun, berdasarkan laporan keuangan yang berakhir 31 Desember 2025 AISA mencatat penjualan Rp1,96 triliun atau bertumbuh 1,95% dari Rp1,92 triliun pada 2024, dengan tingkat asset turnover sebanyak 0,94 kali.
Di tengah pertumbuhan penjualan tersebut, beban pokok penjualan 2025 justru berhasil ditekan 1,47% (year-on-year) menjadi Rp1,2 triliun, sehingga laba bruto melompat 7,8% menjadi Rp762,87 miliar dari Rp707,7 miliar pada 2024.
Sementara itu, besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2025 senilai Rp89,13 miliar atau meningkat 28,29% dibandingkan dengan laba bersih pada 2024.
---
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





