Bisnis.com, JAKARTA — Bitcoin sempat melesat ke US$74.000 pada rentang perdagangan terbarunya sebelum akhirnya kembali terkoreksi. Aset kripto terbesar ini mengalami fluktuasi seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Melansir Bloomberg, Sabtu (14/3/2026), mata uang digital tersebut naik hingga 5,3% mendekati angka US$74.000, sebelum kemudian kenaikan tersebut terpangkas sekitar setengahnya. Sejak awal Februari, Bitcoin telah diperdagangkan dalam rentang kasar antara US$60.000 hingga US$75.000.
Kepala analis pasar di FxPro, Alex Kuptsikevich menyebut konflik Iran telah menjadi penggerak utama ayunan harga tajam Bitcoin. Token ini telah naik lebih dari 8% sejak pertempuran dimulai, di mana beberapa pedagang menganggapnya sebagai instrumen lindung nilai terhadap kenaikan harga.
"Tampaknya Bitcoin mulai menarik perhatian sebagai safe haven, naik di tengah volatilitas pasar keuangan. Para pembeli jelas mencoba menggerakkan pasar untuk memicu short squeeze baru selama akhir pekan, periode saat volatilitas biasanya berkurang," katanya.
Menurutnya, situasi ini terjadi seiring pernyataan terbaru dari Presiden Donald Trump dan pemimpin Iran Mojtaba Khamenei yang menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda pada konflik.
Perang tersebut terus mengganggu aliran energi dan mengejutkan pasar global. Iran telah memberi sinyal niatnya untuk tetap menutup Selat Hormuz secara efektif, membuat investor waspada terhadap risiko eskalasi lebih lanjut.
Baca Juga
- Opsi Investasi Bitcoin di Tengah Lonjakan Harga Minyak & Fluktuasi Rupiah
- Bitcoin Rebound Tembus US$71.000 di Tengah Volatilitas Pasar akibat Konflik Iran
- Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Bitcoin Turun ke Level Terendah 7 Hari
Adapun, konsultan utama dan pendiri Venn Link Partners, Cici Lu McCalman, mencatat bahwa Bitcoin menunjukkan resiliensi dengan kembali melampaui US$70.000 setelah sempat merosot di bawah US$63.000 saat terjadi penarikan risiko awal akibat perang Iran. Namun, ia menambahkan bahwa aksi harga saat ini lebih terlihat seperti stabilisasi daripada kembalinya kepercayaan penuh pada posisi risk-on.
Dalam beberapa minggu terakhir, aliran modal mulai kembali masuk ke Bitcoin setelah aksi jual selama berbulan-bulan yang sempat menekan harganya hingga hampir setengah dari rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 pada Oktober lalu.
ETF Bitcoin Spot di AS berada di jalur untuk mencatat arus masuk bersih selama tiga minggu berturut-turut, rekor terlama sejak Juli. Dana tersebut telah menarik lebih dari US$1,6 miliar dalam sebulan terakhir.
Damien Loh, Chief Investment Officer di Ericsenz Capital, menyebut bahwa resistensi atas kemungkinan tertahan di sekitar US$75.000 kecuali pasar kembali pulih—yang mungkin dipicu oleh berakhirnya perang Iran. Kendati demikian, dia menegaskan bahwa secara keseluruhan, performa Bitcoin tetap baik dibandingkan aset lainnya.





