Gejolak Energi Global Jadi Momentum RI Percepat Energi Terbarukan

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang memicu fluktuasi harga energi dan gangguan rantai pasok, dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT). 

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar untuk mendukung upaya tersebut. Potensi tersebut perlu terus dioptimalkan agar mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan emisi.

“Potensi energi surya Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 3.200 gigawatt, yang menjadi salah satu sumber energi bersih strategis untuk didorong pengembangannya di masa depan,” ujar Eniya dalam agenda Launching of The 12th Indo EBTKE ConEx 2026, Jumat (13/3/2026).

Dia menilai percepatan transisi energi membutuhkan dukungan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri hingga masyarakat.

Dalam upaya memperkuat kolaborasi tersebut, Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal EBTKE bersama para pemangku kepentingan sektor energi bersih akan menggelar The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 pada 2–4 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. 

Forum yang mengusung tema “Turning Ambition into Action: Accelerating Clean Energy Transition in Indonesia and ASEAN” ini diharapkan menjadi platform kolaborasi strategis bagi pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, dan mitra pembangunan untuk mempercepat transisi energi bersih di Indonesia dan kawasan ASEAN.

“Kami berharap penyelenggaraan IndoEBTKE ConEx tahun ini dapat berlangsung lebih besar dan lebih baik, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia,” ujarnya.

Tak hanya pengembangan energi terbarukan, pemerintah juga menilai aspek konservasi energi perlu diperkuat sebagai bagian dari strategi transisi energi yang berkelanjutan.

“Selain mendorong pengembangan energi baru terbarukan, kita juga perlu memperkuat upaya konservasi energi melalui penerapan manajemen energi dan efisiensi energi di berbagai sektor, sehingga penggunaan energi menjadi lebih hemat, efisien, dan berkontribusi pada penurunan emisi,” tambahnya.

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar menyampaikan bahwa komitmen percepatan energi bersih juga tercermin dalam peningkatan target EBT pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Baca Juga : PLN Butuh Suntikan Dana Rp3.000 Triliun untuk Implementasikan RUPTL Anyar

Dia menyebut, porsi EBT dalam rencana tersebut meningkat hingga mencapai 76%, yang menunjukkan arah dukungan PLN terhadap transisi energi. Menurutnya, pencapaian target tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku industri, dan investor.

Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Zulfan Zahar menilai penguatan sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

“Melalui IndoEBTKE ConEx 2026, kami mendorong sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional untuk membangun ekosistem energi bersih yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global,” jelasnya.

Dia menambahkan forum tersebut juga diharapkan dapat mendorong implementasi nyata dari agenda transisi energi di kawasan. “IndoEBTKE ConEx 2026 tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang kolaborasi nyata yang mempertemukan inovasi teknologi, pembiayaan hijau, dan kebijakan progresif. Kami ingin memastikan bahwa ambisi transisi energi di kawasan benar-benar diwujudkan melalui aksi nyata dan kemitraan strategis,” tegasnya.

Ketua Umum MASKEEI Andhika Prastawa menambahkan bahwa efisiensi energi akan menjadi salah satu pilar penting dalam pencapaian target Net Zero Emission.

“Kami mendorong penguatan implementasi efisiensi energi melalui berbagai inisiatif inovatif, termasuk pengembangan platform Energy Efficiency as a Service, yang diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi hemat energi di sektor industri maupun komersial,” jelasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Lebaran, Pemerintah Pastikan Harga Pangan Masih Terkendali Meski Permintaan Naik
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Elnusa (ELSA) Siapkan Strategi Pacu Produksi Migas 1 Juta Barel 
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Teheran Siaga 1, Kemlu Mulai Evakuasi Tahap Kedua WNI dari Iran
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dompet Dhuafa Gulirkan Mudik Kalcer, Sasar 750 Pemudik dengan Tujuan hingga ke Sumatra
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menko Yusril: Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Serangan terhadap Demokrasi
• 5 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.