Pertanda Buruk Muncul di Dekat RI, Lebih Banyak dari Seabad Lalu

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Karang staghorn yang terisi kembali terlihat di perairan Pulau Man Nai, lepas pantai tenggara provinsi Rayong, Thailand, 28 Februari 2024. (REUTERS/Staff)

Jakarta, CNBC Indonesia - Timbunan perak ditemukan di wilayah utara laut Indonesia, tepatnya di dasar Laut China Selatan. Kandungannya juga terus bertambah lebih dari satu abad lalu.

Temuan tersebut berasal dari penelitian Hefei University of Technology dan Guangdong Ocean University of China. Tim peneliti mengambil sampel dari kedalaman 1.878 meter dari dasar laut lepas pantai Vietnam untuk mempelajari sejarah 3.200 tahun inti sedimen.

Temuan itu juga merujuk pada dampak pemanasan global karena aktivitas manusia. Sebab Tempat pengambilan sampel adalah wilayah yang terus tertiup angin dan membuatnya digantikan dengan air laut yang dingin dan kaya nutrisi, yang membuatnya sensitif pada perubahan lingkungan.


Baca: Makhluk Mungil Bawa Jutaan Kematian, Ilmuwan Teriak Tanda Kiamat

Tercatat kandungan perak yang ada di dasar laut bertambah sejak 1850-an. Saat itu merupakan awal revolusi industri dan lonjakan level Co2 juga terjadi di atmosfer.

Dilaporkan perak yang ditemukan adalah dari aktivitas manufaktur. Yakni sisa proses pembuatan peraltan fotografi.

Para peneliti juga menemukan faktor peningkatan musim panas di Asia Timur akibat pemanasan global. Ini membuat hujan deras dan angin kencang membawa nutrisi ke permukaan laut, mikroorganisme laut juga lebih produktif melakukan fotosintesis.

Mikroorganisme itu menyerap material perak dan kandungan metal dalam air laut. Kemudian sisa mikroorganisme mati membawa perak ke dasar laut.

Kemungkinan kondisi ini bisa terjadi di seluruh pantai yang ada di muka Bumi, bukan hanya di Laut China Selatan.

Ternyata masalah temuan itu tak hanya berhenti pada temuan perak dan mineral. Keduanya juga bisa mengundang aktivitas pertambahan dasar laut untuk perak, tembaga, timbal, hingga emas.

Material-material itu dibutuhkan untuk membuat baterai, misalnya nikel, mangan hingga kobalt.

Jika aktivitas penambangan meningkat, akan berdampak pada lingkungan hidup. Termasuk jika merusak keseimbangan laut.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Warga RI Doyan Belanja Online di Ramadan,Fintech Jamin Keamanan

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mau Berburu Outfit Lebaran? Beauty Intip Yuk GlamLocal yang Hadirkan Fashion dari Brand Lokal
• 19 jam laluherstory.co.id
thumb
Polda Metro Jaya Gelar Night Run 2026, Diikuti 1.778 Peserta
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Pemkab Penajam Paser Utara Usulkan Pelimpahan 168 Kilometer Jalan Sepaku ke Otorita IKN
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Wamenpar Minta Pemda Awasi Tarif Pantai Anyer, Cegah "Getok Harga" saat Lebaran
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Kecam Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis HAM Andrie Yunus, Ketua Serumpun Syarikat Islam: Tindakan Keji dan Tidak Berperikemanusiaan
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.