Selat Hormuz Terus Ditutup, Harga Minyak Melonjak, AS Siapkan Berbagai Opsi

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Sebagai akibat meningkatnya serangan Iran terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah, harga minyak dunia naik sementara pasar saham terus mengalami penurunan. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (12/3/2026) menyatakan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir lebih penting daripada kenaikan harga minyak. Sepanjang minggu ini harga minyak terus berfluktuasi.

EtIndonesia. Pada Kamis (12/3/2026), pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei mengancam bahwa penutupan Strait of Hormuz harus terus dilakukan sebagai alat untuk menekan Amerika Serikat. Militer Iran pada Rabu juga memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga 200 dolar per barel, yang menyebabkan harga minyak mentah terus meningkat.

Harga minyak mentah Brent crude naik 9% dan sempat kembali menyentuh 100 dolar per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate crude naik 6% hingga sekitar 93 dolar per barel.

Menurut laporan pasar minyak bulanan terbaru dari International Energy Agency (IEA), pasokan minyak global pada bulan Maret diperkirakan akan berkurang sekitar 8 juta barel per hari, setara dengan hampir 8% dari permintaan global.

Sementara itu, produksi minyak negara-negara Teluk di Timur Tengah telah berkurang setidaknya 10 juta barel per hari. Jika jalur pelayaran tidak segera pulih, kerugian pasokan diperkirakan akan terus bertambah.

 “Ya, kemarin kami telah melepaskan 400 juta barel minyak ke pasar dengan tujuan menstabilkan pasar minyak, dan kami melihat dampak yang signifikan,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol. 

IEA juga menyatakan bahwa Saudi Arabia dan United Arab Emirates sedang meningkatkan penggunaan jalur ekspor minyak alternatif yang tidak melalui Selat Hormuz, serta berencana menambah pasokan minyak global antara April hingga Juni.

AS mempertimbangkan berbagai langkah

Untuk menahan lonjakan tajam harga minyak, Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan.

Dalam sebuah unggahan pada Kamis, Trump menulis:  “Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh melampaui negara lain. Jadi ketika harga minyak naik, kami bisa menghasilkan banyak uang. Namun sebagai presiden, bagi saya hal yang lebih penting dan bermakna adalah mencegah kekaisaran jahat Iran memiliki senjata nuklir, agar tidak menghancurkan Timur Tengah bahkan seluruh dunia.”

Menteri Energi AS Chris Wright pada Rabu malam mengatakan bahwa setelah mendapat otorisasi dari Presiden Trump, Amerika Serikat akan melepaskan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional. Proses pengiriman diperkirakan memerlukan waktu sekitar 120 hari.

Pasar saham global ikut melemah

Pada Kamis pagi, indeks saham utama di Wall Street turun, dan pasar saham Asia juga ikut melemah.

Reporter NTD Television Guo Yuexi melaporkan dari Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Air Sedunia 2026, Lonjakan Konsumsi dan Akses Air Minum Jadi Sorotan
• 31 menit lalurepublika.co.id
thumb
Sempat Terendam Banjir dan Rusak, Jalur Mudik Semarang-Godong Kini Bisa Dilewati
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Video: Ekspansi Saat Perang, Tekstil RI Incar Pasar Australia-Afrika
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Airlangga: Defisit APBN Berpotensi Naik Jika Harga Minyak Naik
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Hidayat Nur Wahid Dorong Pemerintah Segera Wujudkan Ditjen Pesantren
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.