Prabowo Kebut Proyek PLTS 100 GW, Industri Siap Ekspansi Kapasitas Produksi

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Respons Presiden Prabowo Subianto terhadap eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran yang menimbulkan disrupsi pasokan energi, salah satunya dengan mengebut pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) agar Indonesia terlepas dari ketergantungan impor.

Proyek pembangunan PLTS 100 gigawatt (GW) sejatinya ditargetkan rampung dalam 3-4 tahun ke depan. Namun, Prabowo menilai perlu ada akselerasi sehingga dia mempercepat targetnya menjadi 2 tahun.

Ketua Umum Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), I Made Sandika, mengatakan pelaku industri pada dasarnya mendukung komitmen transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT), terutama PLTS dengan memanfaatkan rantai pasok di dalam negeri.

Made mengakui utilisasi pabrik produksi anggota APAMSI selama ini masih rendah. Kendati begitu, dia memastikan pelaku industri terus berkomitmen untuk memperbarui teknologi dan kapasitas produksi.

"Hingga saat ini, kapasitas produksi anggota APAMSI sebesar 10 GWp per tahun, dan siap untuk melakukan ekspansi kapasitas produksi sejalan dengan berjalannya program pemerintah," ungkapnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (14/3).

Made menilai, percepatan program pembangunan PLTS 100 GW akan menjadi pembuktian untuk mencapai swasembada energi dengan memanfaatkan kemampuan nasional. Hanya saja, menurutnya, penambahan kapasitas harus dihitung secara hati-hati.

"Kami perlu memperhitungkan berjalannya produksi dan penambahan investasi yang kami lakukan, tetap hati-hati dan mempertimbangkan kesiapan market yang benar benar akan terealisasi," imbuhnya.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari, mengatakan industri panel surya siap berinvestasi jika terdapat kepastian penyerapan atau offtaker.

"Industri akan siap jika ada kepastian offtaker, karena prinsipnya pada saat ada kepastian offtake, maka industri akan siap untuk melakukan investasinya," tuturnya.

Mada menyebut tanpa keterlibatan dan intervensi pemerintah lebih lanjut dari sisi kebijakan maupun peraturan, maka industri akan sulit untuk berkembang.

"Kita sangat apresiasi inisiatif Presiden, apalagi dengan kondisi perang, minyak sulit. Maka ketahanan energi domestik harus dikuatkan. PLTS dapat sebagai solusi untuk hal tersebut," tandas Mada.

Sebelumnya, Prabowo mengatakan berbagai skenario dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian nasional memang harus disiapkan, yang sekaligus dapat mempercepat agenda transformasi termasuk mencapai swasembada energi.

"Menurut saya krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Akhirnya kita dipaksa akselerasi. Kita sudah mengerti masalahnya. Dari dulu kita ingin swasembada pangan swasembada energi. Kita sudah mengarah ke situ. Tapi sekarang akan mempercepat," ungkapnya saat Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3).

Prabowo menuturkan, konflik global juga memaksa Indonesia mempercepat optimalisasi sumber daya yang melimpah di dalam negeri untuk kebutuhan energi, seperti panas bumi, air, hingga tenaga surya.

"Kita akan melaksanakan pembangunan yang sangat cepat terhadap tenaga surya, yang kita rencananya kita akan melakukan 100 gigawatt yang kita targetkan harus selesai dalam 2 tahun yang akan datang ini. 100 Gigawatt itu adalah 100.000 Megawatt," tegas Prabowo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komisi III DPR Kecam Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus, Minta Polisi Tangkap Pelaku
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Menteri Pertanian: Cadangan Beras Nasional Cukup Hingga Akhir 2026
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Jalan Sicincin-Malalak-Balingka Belum Bisa Dilalui Kendaraan Pemudik
• 4 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Posko Angkutan Lebaran Bandara Juanda Resmi Beroperasi Pantau Arus Mudik
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Alasan Remaja Gemar Bermedsos karena Penuhi Kebutuhan Identitasnya
• 5 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.