CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menegaskan bahwa Teheran akan memberikan respons militer yang jauh lebih keras jika Amerika Serikat atau Israel berupaya membunuh Pemimpin Tertinggi baru mereka, Mojtaba Khamenei.
Pernyataan tersebut disampaikan Jalali kepada kantor berita RIA Novosti pada Sabtu (14/3/2026), menanggapi spekulasi mengenai potensi ancaman terhadap suksesor Ayatollah Ali Khamenei tersebut.
Jalali menekankan bahwa serangan balasan Iran yang terjadi saat ini hanyalah permulaan dari konsekuensi atas tewasnya pemimpin sebelumnya.
"Anda sedang melihat tanggapan Iran hari ini," ujar Jalali singkat namun tegas.
Ia menjelaskan bahwa kemarahan rakyat Iran telah mencapai puncaknya. "Kami menuntut pembalasan darah untuk pemimpin kami (Ayatollah Ali Khamenei). Rakyat menuntut keadilan atas pertumpahan darah ini. Amerika telah dan akan menghadapi pembalasan yang sangat berat di masa depan," tambahnya.
Ketegangan di kawasan meningkat drastis pasca serangan udara besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Serangan yang menyasar berbagai titik strategis di Teheran tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil, tetapi juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran merespons cepat dengan meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Pada 8 Maret, Dewan Pakar Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya. Meski hingga kini ia belum muncul di hadapan publik, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa sang Pemimpin Tertinggi yang baru dalam kondisi baik, meskipun sempat mengalami luka ringan dalam serangan sebelumnya.
Washington dan Tel Aviv awalnya berdalih bahwa serangan tersebut adalah langkah preventif untuk melumpuhkan program nuklir Iran.
Namun, retorika yang berkembang belakangan menunjukkan bahwa agenda utama operasi militer tersebut adalah mendorong terjadinya perubahan rezim di Teheran.
Sumber: ANTARA/Sputnik/RIA Novosti




