Dalam suasana duka, satu ekspresi emosi yang paling sering dijumpai adalah menangis. Dan itu memang cara yang umum untuk mengekspresikan kesedihan. Meski begitu, kesedihan dan duka tidak melulu disalurkan lewat menangis. Ada berbagai cara lain yang dilakukan untuk menyalurkan rasa sedih.
Saking lekatnya duka dengan tangisan, orang akan cenderung bertanya-tanya saat ada seseorang yang tidak menangis dalam suasana duka. Contohnya adalah ketika penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu (7/3).
Di dunia maya, banyak pengguna media sosial yang bertanya-tanya mengapa sang istri, aktris Sheila Dara, tidak tampak menangis. Ada pula yang melontarkan berbagai pertanyaan mengenai cara berduka mereka, seperti mengapa Sheila dan para pelayat tidak memakai baju hitam—warna yang identik dengan duka—hingga mengapa banyak pelayat yang tersenyum saat berfoto di depan pusara.
Padahal, menurut Psikolog dan Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Gita Aulia Nurani, S.Psi, M.Psi., menangis bukanlah satu-satunya cara untuk mengekspresikan kesedihan. Dia menjelaskan, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk berduka.
“Dalam psikologi, duka atau grief dipahami sebagai respons yang sangat personal terhadap kehilangan. Setiap orang memiliki latar belakang pengalaman, hubungan dengan orang yang hilang, kepribadian, serta budaya yang berbeda, sehingga cara mereka mengekspresikan duka juga berbeda,” jelas Gita ketika diwawancarai kumparanWOMAN pada Kamis (12/3).
Gita menjelaskan, ada orang yang memilih mengekspresikan emosi dengan lebih terbuka, seperti dengan menangis. Namun, ada juga orang yang memilih menyibukkan diri sendiri atau berfokus dengan kegiatan tertentu. Menurutnya, tidak ada satu cara berduka yang sama untuk semua orang.
“Beberapa orang mengekspresikan duka melalui beberapa cara, seperti refleksi diri, doa, menulis, berbicara dengan orang terdekat, atau bahkan dengan tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Jadi, tidak menangis bukan berarti seseorang tidak berduka,” ungkap Gita.
Gita pun menyebut, tidak menangis di situasi duka adalah hal yang normal. Ada orang yang memilih memproses duka secara lebih internal dan kognitif, seperti melakukan hal-hal praktis atau menyibukkan diri.
“Hal tersebut sering kali merupakan cara individu mengelola emosi agar tetap dapat berfungsi. Yang penting adalah apakah orang tersebut tetap bisa memproses perasaannya dalam jangka waktu tertentu, bukan apakah ia menangis atau tidak,” tegas Gita.
Cara sehat untuk berdukaGita menjelaskan, tidak ada “standar” atau cara yang “tepat” untuk berduka, mengingat setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman masing-masing. Kendati demikian, dalam ranah psikologi, ada beberapa hal yang dianggap sehat dalam menyalurkan duka.
Contohnya adalah mengakui dan menerima bahwa kita sedang kehilangan; memberi ruang bagi emosi, baik sedih, marah, maupun bingung; berbicara dengan orang yang dipercaya; tetap menjaga rutinitas dasar seperti makan, tidur, dan aktivitas harian; hingga mencari dukungan sosial atau profesional bila duka terasa sangat berat.
Yang terpenting dalam perjalanan menyembuhkan luka adalah mendapatkan dukungan tepat dari orang terdekat. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan ruang untuk dia mengekspresikan emosi, menghindari kalimat yang terkesan meremehkan perasaan, menawarkan bantuan praktis, hingga menjaga kontak dengan orang yang tengah berduka.
“Sering kali yang paling dibutuhkan oleh orang yang berduka bukan nasihat, melainkan perasaan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kehilangan tersebut,” tutup Gita.





