Masjid Kuno Bondan, Panggung Kayu yang Menaklukkan Waktu

kompas.id
22 jam lalu
Cover Berita

Meski kecil, Masjid Kuno Bondan menyimpan sejarah besar penyebaran Islam. Dibangun tahun 1414, masjid berbahan kayu ini menjadi simbol iman dan takwa yang tidak lekang oleh waktu.

Berbeda dengan mayoritas bangunan di sekitarnya yang dibangun menapak tanah, Masjid Kuno Bondan justru dibangun dengan gaya rumah panggung. Meski terlihat mungil di hadapan Sungai Cimanuk yang membelah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dari sana penyebaran agama Islam di pesisir utara Indramayu bermula.

Dari ruang kecil berukuran 9 meter x 9 meter, ajaran Islam menggema nyaring merambah pesisir Indramayu. Lantaran terletak di Desa Bondan, masyarakat sekitar menyebutnya Masjid Kuno Bondan.

”Seluruh bangunan masjid terbuat dari kayu jati. Beberapa kali direnovasi, termasuk renovasi terbesar pada 1992. Setiap ada perbaikan diupayakan selalu mempertahankan bentuk aslinya,” kata juru pelihara Masjid Kuno Bondan sekaligus petugas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Wilayah Jawa Barat, Mistara Edi Saputra, Senin (2/3/2026).

Tidak banyak literatur yang secara mendalam membahas sejarah berdirinya Masjid Kuno Bondan. Namun, dari berbagai jurnal penelitian, termasuk keterangan dari Mistara yang juga merupakan tokoh masyarakat Desa Bondan, disebutkan bahwa Syekh Dzatul Kahfi mendirikan Masjid Kuno Bondan pada 1414.

Tahun pendirian masjid turut diperkuat dengan temuan angka 1414 pada kubah masjid saat dibongkar pada era 1980-1990-an. Berdasarkan catatan tersebut, disimpulkan Masjid Kuno Bondan berdiri jauh lebih dulu sebelum sistem pemerintahan Indramayu terbentuk pada 1527.

Masjid Kuno Bondan juga dikenal dengan nama Masjid Sapuangin. Nama Sapuangin merujuk pada kemampuan spiritual Syekh Dzatul Kahfi, seorang ulama dari Yaman yang menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Syekh Dzatul Kahfi disebut-sebut menguasai ilmu sapu angin sehingga dipercaya hanya membutuhkan waktu satu malam dalam mendirikan masjid.

Cerita rakyat berdirinya masjid ini menyebutkan tentang kisah cinta Syekh Dzatul Kahfi dengan Nyi Mas Ratu Kencana Wungu. Saat itu, Nyimas Ratu Kencana Wungi dan saudaranya, yakni Ki Rakinem, merupakan tokoh masyarakat penyebar agama Buddha dari Kerajaan Majapahit. Ki Rakinem juga sangat dihormati masyarakat dan dijuluki Ki Gede Bondan.

Kendati demikian, kisah cinta Syekh Dzatul Kahfi dan Nyi Mas Ratu Kencana Wungu yang berbeda keyakinan sempat ditentang oleh Ki Rakinem. Bahkan, Ki Rakinem melakukan berbagai cara untuk menggagalkan pernikahan Syekh Dzatul Kahfi dengan saudara perempuannya.

Kisah cinta dan pernikahan mereka akhirnya direstui setelah Syekh Dzatul Kahfi berhasil memenuhi syarat yang diajukan oleh Ki Rakinem, yakni menangkap banteng di hutan. Syekh Dzatul Kahfi pun menikah dengan Nyi Mas Ratu Kencana Wungu dan mulai menyebarkan ajaran Islam hingga menjadi guru dari Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah.

Ornamen masjid

Seperti namanya, Masjid Kuno Bondan jauh dari kesan modern. Seluruh material bangunan terbuat dari kayu jati yang diperkirakan berasal dari abad ke-15 Masehi. Ventilasi masjid berupa jendela tanpa kaca sehingga udara bisa bebas keluar masuk. Ketika kapasitas masjid terisi penuh 70 orang, ruangan sama sekali tidak terasa pengap.

Bagian lantai dan dinding masjid terbuat dari kayu jati. Lantainya tersusun dari 24 batang kayu dengan variasi ukuran 30 sentimeter (cm), 20 cm, dan 15 cm. Dinding bagian depan dan belakang masjid masing-masing terdiri atas 28 lembar kayu. Adapun dinding samping sebanyak 40 lembar, menunjukkan struktur yang kokoh sekaligus simetris.

Di samping ventilasi udara, di dinding dekat mimbar terdapat delapan lubang berbentuk bintang segi lima yang identik dengan simbol-simbol dalam Islam. Bintang segi lima diyakini sebagai jumlah rukun dalam Islam. Selain itu, bintang juga bermakna bahwa sekecil apa pun pengetahuan yang kita miliki, tetaplah memberikan cahaya untuk menerangi kegelapan.

Di ruang utama berdiri empat tiang penyangga yang menjadi soko guru bangunan. Keempat tiang ini menopang struktur atap sekaligus menjadi pusat keseimbangan ruang. Salah satu tiang di bagian belakang, sebelah kiri dari arah pengimaman, pernah direnovasi pada 1992 dan kini menjadi penanda upaya pelestarian tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Masjid Kuno Bondan memiliki 10 jendela. Empat buah jendela berada di bagian depan serta tiga buah jendela di sisi kanan dan kiri. Bentuk jendelanya menyerupai sisi tabung dengan bagian atas mengerucut.

Baca JugaMasjid-masjid Tua yang Memanggil Kembali

Di bagian dalam, keindahan ukiran terpatri pada mimbar yang terbuat dari kayu jati. Bagian atasnya dihiasi pahatan halus, sementara sebuah tongkat berada di sisi kiri mimbar, disangga besi berkaki dua. Pintu utama masjid di bagian depan ruang utama, dipahat dengan motif kotak-kotak dan masih menggunakan kunci gembok.

Dalam merancang ukuran masjid pun terdapat makna filosofisnya. Ukuran 9 meter x 9 meter berkaitan dengan 99 asmaul husna atau nama-nama baik Allah SWT.

Gaya bangunan masjid turut memasukkan unsur-unsur kebudayaan lokal. Atap Masjid Kuno Bondan berbentuk meru tumpang tiga yang merupakan konsep umum dalam arsitektur bangunan pura-pura Hindu. Sebelum masuknya ajaran Islam, masyarakat di pesisir utara Jawa Barat mayoritas merupakan pemeluk Hindu-Buddha.

Kubah Masjid Kuno Bondan terbuat dari kayu jati yang dilapisi sirap atau genteng berbahan dasar kayu ulin. Menurut Mistara, kayu ulin itu sudah ada sejak masjid didirikan. Namun, pada 2023, renovasi besar kubah masjid dilakukan dalam rangka peremajaan. Kayu ulin lama diganti dengan yang baru.

Beradaptasi dengan lingkungan

Dengan ornamen, material, dan struktur bangunan tersebut, Masjid Kuno Bondan dikenal sebagai masjid panggung. Arsitektur yang sederhana tidak hanya mencerminkan tradisi bangunan pesisir, tetapi juga memperlihatkan cara masyarakat setempat beradaptasi dengan lingkungan alam di sekitarnya.

Di bagian bawah lantai panggung kayu, fondasi masjid ditopang oleh 16 tiang penyangga. Penggunaan desain rumah panggung diyakini berkaitan dengan letak masjid yang sangat dekat dengan Sungai Cimanuk. Lantai dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah sebagai antisipasi untuk melindungi bangunan dari luapan air sungai.

Hal ini sejalan dengan penjelasan peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Libra Hari Inagurasi. Menurut Libra, masjid kuno dengan gaya rumah panggung biasanya didirikan di wilayah pesisir atau tepi sungai.

Libra menjelaskan, masjid kuno menyimpan nilai historis tinggi karena mencerminkan proses akulturasi antara ajaran Islam dan tradisi lokal. Di sisi lain, keberadaan masjid kuno memperlihatkan kekhasan arsitektur Nusantara yang menjadikannya berbeda dengan masjid di jazirah Arab.

Karakteristik umum masjid kuno di Indonesia salah satunya ialah atap tumpang atau limasan bertingkat tiga atau lebih. ”Ornamen ragam hiasnya memperlihatkan kesinambungan dari budaya pra-Islam, Hindu-Buddha, hingga pengaruh Tionghoa dan Eropa,” kata Libra dalam diskusi tentang masjid kuno, beberapa waktu lalu.

Sejak 2023, Masjid Kuno Bondan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Hal ini membawa konsekuensi hukum bagi pihak-pihak yang bermaksud mengubah bentuk bangunan masjid. Selain itu, status cagar budaya mewajibkan pemerintah daerah untuk terlibat dalam pemeliharaan masjid agar tetap lestari.

Baca JugaMasjid Kuno Menyimpan Jejak Peradaban dan Tradisi yang Hidup

Lewat sebuah tempat sederhana berupa masjid bergaya rumah panggung, Syekh Dzatul Kahfi berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam. Tanpa menegasikan kultur lokal yang telah lebih dulu melekat, ajaran Islam dengan mudah diterima masyarakat.

Dari Masjid Kuno Bondan, peradaban baru dimulai. Hingga ratusan tahun kemudian, masjid kayu tersebut tetap berdiri tegak dan dikenang sebagai panggung pertama penyebaran Islam di pesisir utara Indramayu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pilih Dashcam Utamakan Punya Multi Kamera, Pantau Luar dan Dalam Mobil
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
PMI Indramayu Jadi Korban Kekerasan hingga Tewas di Arab Saudi, KP2MI Turun Tangan
• 15 menit laludisway.id
thumb
Menag Tetapkan Agus Fatoni Sebagai Pimpinan Baznas
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Dekranasda Sulsel Gelar Festival Ramadan, Pasar Ramadan, dan Gerakan Pangan Murah di Makassar
• 13 jam laluterkini.id
thumb
Jusuf Kalla Bareng Para Mantan Dubes Bahas Situasi Timur Tengah hingga BoP
• 2 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.