Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Pasar energi Amerika Serikat kembali bergejolak. Harga bensin nasional menembus US$ 3,58 per galon setara Rp 60.315 pada Rabu, 11 Maret 2026, level tertinggi dalam hampir dua tahun. Lonjakan ini terjadi hanya beberapa hari setelah memanasnya konflik AS–Iran yang mengacaukan jalur ekspor minyak di kawasan Selat Hormuz.
Dilansir AFP, Kamis, 12 Maret 2026, gangguan distribusi di titik strategis itu memicu reaksi berantai ke seluruh dunia. Kenaikan harga BBM kini mulai membebani aktivitas ekonomi dan berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya mengampanyekan penurunan biaya energi menjelang pemilihan paruh waktu 2026.
“Geopolitik tidak menunggu. Harga di pom bensin bisa berubah hanya dalam hitungan hari,” kata William Stern, CEO perusahaan pemberi pinjaman usaha kecil di AS, dilnsir AFP, Kamis, 12 Maret 2026.
Sejak Trump mengambil langkah bergabung dengan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, harga bensin di AS meroket hampir 60 sen kenaikan 20% hanya dalam 11 hari. Pergerakan ini bahkan lebih cepat dibanding ledakan harga yang terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Para analis memperingatkan bahwa tekanan harga belum akan mereda. Selain situasi di Hormuz, AS juga memasuki fase produksi bensin musim panas, yang dikenal lebih mahal dan lebih ketat dari sisi standar emisi.
“Harga bensin spot dan grosir melonjak dua digit pada Rabu. Pasar sedang bergerak sangat agresif,” ujar Kepala Analis Minyak Oil Price Information Service, Denton Cinquegrana.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia ikut terkerek naik meski Badan Energi Internasional (IEA) mengajukan rencana pelepasan 400 juta barel dari cadangan strategis global. Namun rencana itu justru menimbulkan tanda tanya besar karena belum ada negara yang menyatakan kesiapan merilis cadangannya.
Editor: Redaktur TVRINews





