Kisah KH Abdul Wahid Hasyim Menginap di Gontor

republika.co.id
21 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Dadang Irsyamuddin, Alumnus Gontor 2013

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada satu pertanyaan yang cukup sering muncul ketika orang membicarakan Pondok Modern Darussalam Gontor. “Gontor itu sebenarnya Muhammadiyah ya?”

Baca Juga
  • BRI Insurance Edukasi Ratusan Mahasiswa di Surabaya tentang Asuransi
  • Warna Loreng Pada Harimau
  • Serba-Serbi Itikaf: Definisi, Tempat dan Durasi

Pertanyaan ini sudah lama beredar di berbagai kalangan pesantren. Bagi sebagian orang, Gontor terlihat terlalu modern untuk disebut pesantren tradisional. Tidak ada tradisi tahlilan rutin seperti yang lazim dijumpai di banyak pesantren Nahdlatul Ulama.

Santrinya berbicara bahasa Arab dan Inggris setiap hari. Kurikulumnya rapi seperti sekolah modern, sementara metode belajar kitab tidak selalu memakai pola sorogan atau bandongan sebagaimana pesantren klasik.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Dalam peta organisasi Islam Indonesia yang sering dipahami secara dikotomis, kesimpulannya menjadi cepat: jika tidak NU, berarti Muhammadiyah. Padahal kenyataan di dalamnya jauh lebih kompleks, bahkan jauh lebih menarik.

Pesantren yang Menolak Dimasukkan ke Kotak

Sejak awal berdiri, Gontor memang menolak ditempatkan dalam satu label organisasi. Para pendirinya mendeklarasikan bahwa Gontor “berdiri di atas dan untuk semua golongan.”

Namun justru karena sikap itu, Gontor sering disalahpahami.

Ketika orang melihat Gontor tidak identik dengan ritual tertentu seperti manaqiban atau tahlilan rutin, mereka mengira pesantren ini menjauh dari tradisi NU. Ketika santrinya tidak selalu bersarung ke mana-mana, Gontor dianggap terlalu modern.

Ketika kurikulum bahasa asingnya kuat, sebagian orang menyimpulkan ia dekat dengan model modernis. Bahkan di awal pendiriannya, dilabelin pro penjajah karena mengajarkan santri untuk memakai jas dan kemeja ala barat.

Padahal jika seseorang benar-benar hidup di dalam pesantren itu, gambaran yang muncul justru berbeda. Santri Gontor tetap membaca doa dan dzikir setelah shalat berjamaah. Mereka mengenal qunut dalam shalat Subuh. Ada seni hadrah dan tradisi shalawat yang juga hidup di banyak pesantren NU. Bacaan shalat seperti lafaz Allahu Akbar kabiran walhamdulillahi katsira juga dituliskan dalam buku ajar.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Puncak Mulai Pembangunan Perkantoran Terpadu di Gome, Tonggak Kemajuan Daerah
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Komisi VIII Komitmen Percepat Bahasan RUU Pengelolaan Keuangan Haji
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Aset Konsolidasi BPKH Rp238,99 Triliun pada 2025, Nilai Manfaat Tetap Terjaga
• 15 jam laludisway.id
thumb
Praperadilan Ditolak, Kuasa Hukum Pertanyakan Surat Pemanggilan Gus Yaqut ke KPK Hari Ini
• 21 jam lalusuara.com
thumb
Hari Ini, Eks Sekretaris MA Nurhadi Hadapi Tuntutan Gratifikasi dan TPPU
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.