REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) harus membayar mahal perang yang mereka mulai terhadap Iran. Pejabat Pentagon mengungkapkan dalam pertemuan tertutup di Capitol Hill bahwa enam hari pertama perang yang dibantu Israel tersebut telah menelan biaya lebih dari 11,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 186 Triliun).
Angka tersebut merupakan estimasi paling komprehensif yang diungkapkan sejauh ini. Meski demikian, para pejabat mengakui bahwa nilai tersebut belum mencakup biaya besar lainnya, seperti mobilisasi pasukan dan penempatan perangkat keras militer yang dilakukan sebelum serangan pertama diluncurkan, lapor Al Mayadeen.
Baca Juga
Warna Loreng Pada Harimau
Komentar Aktor China Zhang Linghe tentang Asia Tenggara Bikin SEAblings Marah
Kesalnya Presiden Lee Usai AS Tarik Sistem Pertahanan Udara (THAAD) dari Korsel
Laporan yang disampaikan kepada komite Kongres menyebutkan, dalam dua hari pertama serangan, pemerintahan AS telah menghabiskan sekitar 5,6 miliar dolar AS khusus untuk amunisi.
Dalam pemboman awal, militer AS menggunakan berbagai senjata canggih, termasuk bom luncur AGM-154, yang harga per unitnya mencapai 578 ribu hingga 836 ribu dolar AS.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Mengingat tingginya biaya tersebut, Pentagon mengisyaratkan akan mulai beralih ke alternatif yang lebih murah, seperti perangkat Joint Direct Attack Munition (JDAM) yang memiliki sistem pemandu seharga 38 ribu dolar AS per unit.
Asap masih mengepul dari Kilang Minyak Shahran setelah serangan udara tadi malam di Teheran, Iran, 8 Maret 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)