JAKARTA, KOMPAS.com - Suara berkumandangnya takbir menjelang Hari Perayaan Idul Fitri sering kali meruntuhkan hati sebagian besar orang yang mendengarnya.
Di tengah takbir yang berkumandang sepanjang malam, sebagian besar Umat Muslim akan sibuk melakukan berbagai persiapan, seperti membereskan rumah, memasak makanan dalam jumlah banyak, menyiapkan baju untuk shalat Id, hingga mempersiapkan perlengkapan untuk mudik di hari Lebaran.
Namun, hiruk pikuk mempersiapkan perayaan Lebaran bersama keluarga kerap kali tidak dirasakan para pekerja yang tidak pernah mendapatkan cuti.
Di malam takbiran, mereka justru harus beristirahat untuk mempersiapkan tenaga, karena harus bekerja di momen Lebaran seharian penuh.
Baca juga: Para Pekerja yang Tak Pernah Dapat Cuti Lebaran, Tahan Sedih di Perantauan
Ada kerinduan sekaligus rasa sedih yang selalu menggelayuti hati para pekerja yang tidak pernah mendapatkan cuti di hari Lebaran.
Mereka hanya bisa gigit jari, ketika sebagian besar orang berbondong-bondong meninggalkan Jakarta untuk pergi ke kampung halamannya.
Kondisi tersebut harus dirasakan pertama kali oleh salah satu perantau asal Riau, bernama Hani (25) yang memilih bekerja sebagai seorang jurnalis di Jakarta.
Sebenarnya, ini merupakan tahun kedua dirinya merayakan Idul Fitri di Jakarta.
Namun, di tahun lalu kedua orangtuanya datang ke ibu kota, sehingga Hani tetap bisa merayakan Lebaran bersama keluarga, meski di tanah rantau.
Tapi di tahun ini, ia terpaksa harus merayakan Lebaran di Jakarta seorang diri dan jauh dari keluarga, karena belum mendapatkan jatah cuti yang lama.
Selain hari liburnya terbatas, ongkos yang mahal juga menjadi pertimbangan untuk tidak pulang ke Riau tahun ini.
"Pas 2023 padahal masih ada tiket yang di bawah Rp 1 juta menjelang Lebaran. Tapi, sekarang sudah di atas Rp 1 juta," kata Hani ketika diwawancarai Kompas.com, Rabu (11/3/2026).
Baca juga: Mudik Lebaran 2026 Dibayangi Kemacetan Klasik hingga Hujan Lebat
Sementara jika naik bus, ia merasa tidak sanggup karena harus menghabiskan waktu berhari-hari di jalan, meski harga tiketnya lebih murah.
Hani mengaku, sebenarnya sudah sempat berencana pulang ke Riau sejak awal Ramadhan.
Namun, karena ada kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditunda, ia harus mengurungkan niat untuk pulang ke rumah.
Beruntung, kedua orangtuanya memahami kondisi putrinya yang tidak bisa pulang Lebaran di tahun ini.
Rindu kampung halamanHani menyadari, tidak bisa cuti di hari Lebaran sudah menjadi risiko pekerjaannya sebagai seorang jurnalis.
Ia pun tidak bisa menyalahkan profesi yang dipilihnya itu.
Tapi, rasa rindu kampung halaman terus menggelayuti hatinya saat ini.




