Cerita Laleilmanino Ciptakan OST Na Willa, Terinspirasi Kaki Palsu Tokoh Dul

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Grup musik Laleilmanino kembali dipercaya untuk menggarap lagu soundtrack (OST) film Visinema, berjudul Na Willa. Lagu itu berjudul Sikilku Iso Muni ini memiliki cerita unik di balik proses penciptaannya.

Salah satu personel, Nino, bercerita pada awalnya mereka merasa bingung karena minimnya informasi detail mengenai film tersebut di tahap awal produksi.

"Waktu diajak ngobrol, awalnya masih meraba, karena sama seperti waktu film JUMBO, sebenarnya kami belum dikasih tahu apa-apa tentang filmnya. Cuma dikasih lihat kayak mood board aja sih, mood board aja," kenang Nino dalam press screening di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/3).

Seiring berjalannya diskusi, tim produksi memberikan arahan yang lebih spesifik mengenai perbedaan proyek ini dengan proyek film mereka sebelumnya.

Jika sebelumnya lagu mereka merangkum keseluruhan cerita, kali ini fokusnya jauh lebih tajam.

"Kalau JUMBO lagunya kayak kesimpulan cerita besarnya JUMBO. Kalau di film Na Willa, lagunya bercerita tentang satu adegan yang spesifik gitu," jelas Nino.

Adegan spesifik yang dimaksud adalah momen emosional yang melibatkan tokoh bernama Dul. Nino mengungkap, inspirasi lagu ini datang dari sebuah benda yang menjadi bagian penting dari karakter tersebut.

"Adegan di mana Dul akhirnya terlihat kakinya berganti dengan kaki palsu dari kayu," ungkap Nino.

Selain visual, jargon yang sering muncul dalam buku aslinya juga menjadi pondasi kuat lirik. Sang produser, Anggia Kharisma, menekankan pentingnya kalimat tersebut dimasukkan ke dalam elemen musik.

"Dan berulang kali Anggia bilang tentang jargon 'Sikilku Iso Muni' ini penting banget di dalam buku ini. Akhirnya kami coba bikin lagu berangkat dari situ," tambah Nino.

Bawa Gaya Musik 60-an

Dari sisi musik, lagu Sikilku Iso Muni sangat kental dengan nuansa masa lalu. Laleilmanino sengaja membawa pendengar kembali ke era tahun 60-an melalui aransemen yang mereka susun.

"Itu arahan juga dari sutradara, dari Rian juga, Anggia juga, dan Novi. Mereka pengin bikin mood-nya suasananya seperti vintage, classic tahun 60-an," kata Nino.

Untuk menghidupkan suasana vintage, Laleilmanino mengeksplorasi genre musik yang populer pada masa itu agar selaras dengan filmnya.

"Di mana akhirnya kami membuat musik yang sedikit bunyinya, genrenya itu ragtime, dan ada suasana jazz-nya juga era-era 60-an," pungkas Nino.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Ancaman Konflik Global, Prabowo Percepat Swasembada Pangan dan Energi
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Masuk di Klaster Dana Pendidikan, Anggaran MBG Tak Bisa Diotak-Atik
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Duduk Perkara Rifaldo Aquino Buron TPPO di Kamboja hingga Diburu Intepol
• 15 jam laludetik.com
thumb
Wujud Bus Transjakarta Blok M–Bandara Soetta: Ada Tempat Koper Penumpang
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Berkutik Lagi, Momen Cindy Rizap Kepergok Jalan Bareng Mantan Viral Kembali Usai Isu Perselingkuhan Suami Maissy
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.