Pantau - CEO Huawei ICT Business Group Yang Chaobin mendorong industri teknologi informasi dan komunikasi mempercepat penerapan teknologi 5G-Advanced (5G-A) serta pemanfaatan spektrum U6GHz untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan pada era komunikasi seluler.
Pernyataan tersebut disampaikan Yang Chaobin dalam ajang Mobile World Congress (MWC) Barcelona 2026 di Spanyol yang membahas transformasi jaringan komunikasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.
Ia menyampaikan, "Era teknologi cerdas semakin dekat. Aplikasi AI baru terus bermunculan setiap hari. Untuk itu, sudah saatnya industri bekerja sama untuk memaksimalkan potensi 5G-A."
Yang menjelaskan teknologi 5G-A berperan sebagai jembatan menuju generasi jaringan seluler berikutnya sekaligus menjawab kebutuhan konektivitas baru di era AI.
Ia menilai jaringan komunikasi masa depan tidak hanya fokus pada kapasitas downlink, tetapi juga harus memiliki kemampuan uplink yang tinggi untuk mendukung pertukaran data antara perangkat dan komputasi awan.
Ia menambahkan, "Jaringan masa depan harus mampu menyediakan bandwidth yang sangat tinggi baik untuk uplink maupun downlink guna mendukung pertukaran data multimodal antara perangkat dan komputasi awan untuk aplikasi AI."
Huawei juga memprediksi standar teknologi 6G akan mulai dirumuskan secara global pada 2029 sehingga lima tahun ke depan menjadi periode penting dalam pengembangan layanan seluler berbasis AI.
Huawei mencatat teknologi 5G-A saat ini telah diterapkan di lebih dari 300 kota di berbagai negara dan diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut Yang, pengembangan teknologi ini memerlukan pemanfaatan spektrum frekuensi baru seperti U6GHz untuk meningkatkan kapasitas jaringan seluler global.
Ia menyebut jaringan generasi baru diproyeksikan mampu menyediakan kecepatan downlink hingga 10 Gbps dan uplink mencapai 1 Gbps.
Selain itu, teknologi baru seperti RedCap dan passive IoT juga akan memperluas pemanfaatan jaringan komunikasi dalam berbagai sektor.
Yang juga menyoroti masih adanya kesenjangan akses jaringan di berbagai wilayah dunia yang berpotensi semakin melebar seiring perkembangan teknologi AI.
Ia menyebut sekitar 300 juta orang di dunia masih belum memiliki akses terhadap jaringan seluler.
Huawei melalui solusi RuralStar mengklaim telah membantu menghadirkan konektivitas bagi sekitar 170 juta orang di lebih dari 80 negara.
Ia menekankan, "Era teknologi cerdas bergerak semakin cepat. Dalam lima tahun ke depan, kita harus bekerja sama memenuhi kebutuhan layanan AI melalui komersialisasi 5G-A secara luas."




