IRAN melancarkan gelombang baru serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk pada hari ke-13 perang melawan Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut memicu gangguan keamanan di kawasan, menghantam fasilitas energi, serta mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Di Bahrain, otoritas setempat melaporkan serangan terhadap tangki bahan bakar di Provinsi Muharraq pada Kamis pagi. Pemerintah Bahrain segera meminta warga untuk tetap berada di dalam rumah dan menutup jendela demi keselamatan.
Bahrain diketahui menjadi tuan rumah United States Fifth Fleet milik Angkatan Laut AS dan secara konsisten menjadi salah satu target selama konflik berlangsung.
Baca juga : Iran Umumkan Gelombang Serangan Rudal Terbaru ke Israel dan Pangkalan AS di Timur Tengah
Di Arab Saudi, Kementerian Pertahanan menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah drone yang menuju ladang minyak Shaybah Oil Field serta kawasan distrik kedutaan.
Otoritas Saudi menyebutkan bahwa tujuh drone berhasil dicegat pada Rabu.
Sementara itu, Kuwait melaporkan dua orang terluka setelah sebuah drone musuh menghantam bangunan tempat tinggal.
Baca juga : AS Peringatkan Warga Iran Jauhi Pelabuhan di Selat Hormuz
Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan material pada bangunan tersebut, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Kuwait.
Di Uni Emirat Arab, sistem pertahanan udara dilaporkan tengah merespons ancaman rudal yang mengarah ke wilayah negara tersebut.
Badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), juga melaporkan serangan terhadap sebuah kapal kontainer sekitar 35 mil laut di utara Jebel Ali.
Sementara di Yordania, sirene peringatan dilaporkan berbunyi di berbagai kota setelah meningkatnya ancaman serangan di kawasan tersebut.
Dampak pada Pasar EnergiPerang antara AS-Israel dan Iran sejauh ini dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang serta memicu gangguan besar pada pasar energi dan transportasi global.
Harga minyak mentah Brent pada Kamis dini hari tercatat berada di sekitar US$100 per barel, meningkat lebih dari 38% dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Kondisi ini mendorong sejumlah negara mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar guna meredam guncangan pasokan energi global yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terburuk sejak krisis energi pada 1970-an.
Operasi Terminal Minyak Irak DihentikanDi Irak, pemerintah memutuskan menangguhkan seluruh operasi terminal minyak setelah serangan terhadap kapal tanker di pelabuhan Umm Qasr.
Direktur Jenderal General Company for Ports of Iraq, Farhan al-Fartousi, mengatakan seluruh kegiatan di terminal minyak dihentikan sementara, meskipun pelabuhan komersial tetap beroperasi.
Serangan tersebut melibatkan kapal bermuatan bahan peledak yang menargetkan dua kapal tanker minyak mentah yang sedang melakukan pemuatan di pelabuhan tersebut.
Tim penyelamat dilaporkan menemukan satu jenazah dan berhasil mengevakuasi 38 orang lainnya setelah insiden tersebut.
Selat Hormuz Nyaris LumpuhSituasi semakin tegang karena lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir sepenuhnya terhenti.
Iran sebelumnya menyatakan bahwa selama perang dengan AS dan Israel masih berlangsung, bahkan satu liter pun minyak tidak akan diizinkan diekspor dari kawasan Teluk menuju negara-negara yang dianggap sebagai sekutu kedua negara tersebut. (Al Jazeera/E-4)





