-
-
-
-
-
Belakangan warganet khususnya di Jakarta tengah mengeluhkan kesulitan mendapat ojek online (ojol) untuk melayani kebutuhan antar penumpang, makanan, maupun barang menjelang Lebaran. Rupanya, fenomena ini memiliki sebab-akibat.
Sejumlah pengemudi menjelaskan bahwa lonjakan permintaan pada periode Ramadan membuat mereka lebih selektif memilih order, terutama yang tarifnya lebih tinggi dan jaraknya lebih efisien karena kondisi jalan cenderung macet.
Hal ini pun berakibat pada pesanan dengan tarif rendah atau titik penjemputan yang jauh sering diabaikan, sehingga pengguna harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan driver. Tak ayal masyarakat menghadapi kondisi 'krisis ojol'.
Bukan hanya customer, para driver juga menilai kondisi 'krisis ojol' ini disebabkan besarnya potongan yang diambil perusahaan aplikator dari pendapatan pengemudi. Mereka menilai potongan dan berbagai skema biaya dari platform dapat mencapai hampir 50% dari penghasilan driver, jauh di atas ketentuan pemerintah yang mengatur bagi hasil sekitar 15% + 5%.
Hal ini pun membuat serikat pekerja juga mengaitkan masalah ini dengan kecilnya Bonus Hari Raya (BHR) yang diterima pengemudi, yang dinilai tidak sebanding dengan potongan yang selama ini dibayarkan kepada aplikator. Selain itu, banyaknya driver yang mudik serta lonjakan permintaan di saat hujan lebat juga menjadi faktor lain yang menyebabkan 'krisis ojol'.
Jika kamu adalah salah satu yang mengalami dampak dari 'krisis ojol', harap memperhatikan pula jam-jam sibuk sepanjang akhir Ramadan ini yang biasanya dimulai pada 15:30 WIB dan puncaknya pada 16:00-18:00 WIB. Sebaiknya bisa mengalokasikan waktu lebih untuk proses pemesanan dan rencana perjalanan. (ND)





