Guru yang Tidak Bisa Membaca

erabaru.net
19 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada masa itu, mahasiswa asing di Amerika hanya bisa bertahan kuliah dengan bekerja keras saat liburan musim panas. Penulis pun demikian. Mengandalkan tenaga muda dan tubuh yang kuat, penulis menerima pekerjaan bergaji tinggi sebagai penebang kayu di Colorado.

Mandor memperkenalkan penulis pada seorang rekan kerja—seorang pria kulit hitam tua, bertubuh besar dan kekar, mungkin sudah lebih dari enam puluh tahun. Semua orang memanggilnya “Luther”.

Sepanjang musim panas, ia tak pernah memanggil nama penulis. Di antara bibir tebalnya, penulis selalu menjadi:
“Anakku.”

Awalnya penulis sedikit takut padanya. Namun ketika terpaksa berinteraksi, penulis menemukan sesuatu yang tak terduga—di balik kulit gelap dan tubuh kokohnya, tersimpan hati yang lembut dan penuh pengertian.

Seiring waktu, penulis mulai mengaguminya. Dan ketika musim panas berakhir, ia menjadi salah satu orang yang paling membekas dalam hidup penulis—seorang tua yang membimbing jiwa muda yang masih naif untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Matahari Pasti Terbenam

Suatu hari, pagi-pagi dahi penulis terbentur batang besi truk hingga membengkak. Siang harinya, ibu jari penulis tertimpa alat berat. Namun di bawah terik matahari sore, saya tetap harus menebang pohon.

Ia mendekati penulis. Penulis menggeleng sambil mengeluh,
“Hari ini benar-benar sial dan menyakitkan.”

Ia menunjuk matahari dan berkata lembut,
“Jangan takut, anakku. Seberat apa pun satu hari, benda itu pasti akan terbenam. Dan dalam kenangan, tidak ada lagi kesialan dan rasa sakit.”

Kami pun kembali bekerja. Tak lama, matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat.

Selangkah dari Neraka

Suatu ketika, dua pekerja bertengkar hebat. Mereka sudah menggulung lengan baju, siap berkelahi. Luther berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga masing-masing.

Entah apa yang ia katakan, keduanya perlahan menurunkan tangan dan akhirnya saling berjabat tangan.

Saya penasaran dan bertanya,
“Apa yang kau katakan pada mereka?”

Ia tersenyum tipis.
“Aku hanya bilang: kalian berdiri tepat di tepi neraka. Mundurlah satu langkah.”

Roti yang Dibagi

Saat makan siang, ia selalu membawa roti panjang. Ia memanggil penulis untuk mematahkan sepotong.

Suatu hari penulis berterima kasih dengan sungkan. Ia mengangkat bahu sambil tertawa,
“Roti dibuat panjang-panjang, mungkin supaya mudah dibagi. Dengan begitu rasanya lebih enak.”

Sejak itu, setiap potongan roti yang kami bagi bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati.

Kata-kata yang Dikunyah Ulang

Para penebang kayu sering bercanda kasar dan saling mengejek. Namun Luther selalu berbicara lembut dan manis.

Penulis bertanya mengapa.

Ia menjawab,
“Kalau orang mau mengunyah ulang kata-kata yang mereka ucapkan siang hari saat malam sunyi tiba, mereka pasti akan memilih kata-kata yang lebih lembut dan manis.”

Kebiasaan itu masih penulis praktikkan hingga hari ini.

“Aku Tidak Bisa Membaca”

Suatu hari ia membawa sepucuk surat dan meminta penulis membacakannya.

Ia tersenyum malu,
“Aku tidak bisa membaca.”

Saya terkejut. Setelah membacakan surat itu, saya bertanya,
“Bagaimana mungkin Anda tidak bisa membaca, tetapi memahami begitu banyak kebenaran hidup?”

Ia menengadah ke langit dan berkata pelan,

“Anakku, Tuhan tahu tidak semua orang bisa membaca huruf. Selain Kitab Suci, Ia juga menuliskan kebenaran di langit dan bumi. Selama kamu bisa bernapas, kamu bisa membacanya.”

Renungan

Mungkin penulis telah melupakan banyak nama orang hebat di dunia. Namun penulis tidak pernah melupakan Luther.

Ia mungkin buta huruf, tetapi tidak buta kebijaksanaan.

Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari buku tebal atau gelar tinggi. Alam, pengalaman, dan hati yang jernih juga bisa menjadi guru.

Kita bisa belajar dari tiram tentang kesabaran.
Dari ikan badut dan anemon tentang hidup berdampingan.
Dari burung tentang terbang lebih tinggi saat melawan angin.
Dari semut tentang ketekunan.

Kebijaksanaan bukan tentang menaklukkan alam, melainkan memahami dan menyesuaikan diri dengannya.

Air bah tak bisa ditahan selamanya dengan bendungan tinggi. Namun jika diarahkan dengan bijak, ia bisa menjadi sumber tenaga.

Begitu pula hidup.

Tak semua orang bisa membaca huruf.
Namun siapa pun yang mau membuka hati, bisa membaca makna yang tertulis di setiap hari yang ia jalani. (jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
2 Preman yang Keroyok dan Tusuk Pria di Tangsel Ditangkap Warga lalu Diserahkan ke Polisi
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Yaqut Cholil Penuhi Panggilan KPK Hari Ini
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Hangatkan Suasana Ramadan, KAI Logistik Berbagi Ratusan Paket Berbuka Puasa
• 2 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Wawasan Polling SS: Mayoritas Masyarakat Menilai Sudah Saatnya Indonesia Menerapkan Kebijakan untuk Hemat BBM
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Jelang Arus Mudik, Pemprov Jateng Gelar Ramp Check Serentak dan Cek Kesehatan Gratis untuk Sopir Bus
• 6 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.