JAKARTA, KOMPAS – Kementerian Pertanian menargetkan produksi gula nasional pada 2026 sebesar 3 juta ton. Namun, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI pesimistis target itu bisa tercapai. Cuaca ekstrem dan belum dinaikkannya harga acuan pembelian gula di tingkat petani sejak hampir dua tahun terakhir menjadi tantangan terbesarnya.
Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen, Kamis (12/3/2026), mengatakan, hujan ekstrem yang belakangan ini terjadi telah menyebabkan rendemen tebu rendah, yakni sekitar 4-5 persen. Rendemen itu berada di bawah rerata rendemen nasional pada 2025 yang sebesar 6,83 persen.
Padahal, pada April dan Mei 2026, sejumlah daerah yang menjadi sentra gula nasional mulai memanen tebu. Kalaupun intensitas hujan mulai berkurang, rendemen tebu pada awal musim giling tersebut diperkirakan hanya meningkat tipis.
“Rendahnya rendemen itu bakal menurunkan produksi gula nasional,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta.
Sejak terakhir dinaikkan pada Mei 2024 hingga memasuki pertengahan Maret 2026, harga acuan pembelian gula petani masih sama, yakni Rp 14.500 per kg.
Selain itu, Soemitro melanjutkan, El Nino juga diperkirakan melanda pada paruh kedua tahun ini. Fenomena pemicu kemarau ekstrem itu juga berpotensi menghambat pertumbuhan sebagian tanaman tebu yang belum siap panen.
“Dampaknya bisa sama seperti ketika terjadi El Nino pada 2015 dan 2023. Tanaman tebu tumbuh lebih pendek atau tidak normal lantaran kekurangan air. Kendati rendemennya normal atau sedikit lebih tinggi, bobot dan produktivitas tebu tetap turun. Produksi gula pun turut turun,” katanya.
Berdasarkan data Asosiasi Gula Indonesia (AGI), rerata produktivitas tebu nasional pada 2023 sebesar 61,5 ton per hektar atau lebih rendah dari 2022 yang mencapai 74,5 ton per hektar. Dalam periode perbandingan yang sama, produksi gula nasional turun dari 2,4 juta ton menjadi 2,27 juta ton.
Menurut Soemitro, petani sebenarnya dapat mengantisipasi dampak El Nino tahun ini dengan membuat sumur bor dan pompanisasi sumber-sumber air yang masih tersedia. Upaya-upaya itu membutuhkan biaya yang tidak murah.
Namun, kemungkinan besar, banyak petani yang tidak memiliki modal yang cukup tidak akan menempuh upaya-upaya itu. Ini mengingat pendapatan mereka bakal stagnan di tengah kenaikan sejumlah komponen biaya produksi tebu tahun ini.
“Sejak terakhir dinaikkan pada Mei 2024 hingga memasuki pertengahan Maret 2026, harga acuan pembelian gula petani masih sama, yakni Rp 14.500 per kg. Padahal, APTRI sudah mengusulkannya naik menjadi Rp 16.000 per kg,” katanya.
Dengan sejumlah pertimbangan itu, Soemitro berpendapat, tidak mudah merealisasikan target produksi gula kristal putih sebesar 3 juta ton pada 2026. Apalagi, petani memiliki pengalaman buruk pada 2025, yakni banyak gula dan tetes tebu petani yang tidak laku dilelang atau dibeli.
Pengamat pergulaan, Yadi Yusriyadi, juga berpendapat senada. Ia memperkirakan produksi gula kristal putih nasional pada 2026 di kisaran 2,6 juta ton hingga 2,7 juta ton. Angka potensi produksi itu tidak jauh beda dengan realisasi produksi GKP pada 2025 yang sebanyak 2,67 juta ton.
Potensi produksi GKP pada 2026 relatif stagnan meskipun ada penambahan luas tanam tebu dan peremajaan atau bongkar ratun tanaman tebu pada 2025. Faktor cuaca ekstrem dan berkurangnya animo petani menanam tebu menjadi pemicunya.
Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mempercepat upaya swasembada gula konsumsi nasional melalui penguatan pengembangan tebu rakyat. Salah satunya melalui program penyaluran 5,9 miliar bibit tebu yang bakal digulirkan di 74 kabupaten di 10 provinsi pada 2026.
Tahun ini, kami menargetkan produksi gula nasional dapat meningkat hingga sekitar 3 juta ton.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan, langkah itu merupakan kelanjutan dari program yang sama pada 2025. Waktu itu, Kementan menyaluran bantuan 1,92 miliar bibit tebu kepada petani tebu rakyat.
Hal itu setara dengan pengembangan areal tanam tebu sekitar 32.096 hektar dengan asumsi kebutuhan sekitar 60.000 benih tebu per hektar. Program tersebut dilaksanakan di 56 kabupaten di 7 provinsi.
“Tahun ini, kami menargetkan produksi gula nasional dapat meningkat hingga sekitar 3 juta ton. Hal itu seiring dengan perluasan dan optimalisasi lahan tebu nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan atau swasembada gula nasional,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta.
Sebelumnya, pemerintah mempercepat target swasembada gula konsumsi dari 2028 menjadi 2026. Untuk itu, pemerintah menyetop impor gula konsumsi pada tahun ini. Keputusan itu mempertimbangkan Proyeksi Neraca Komoditas Pangan Nasional 2026 yang dimutakhirkan pada 28 Desember 2025.
Stok gula konsumsi pada akhir 2025 yang dijadikan stok awal 2026 (carry over stock) diperkirakan sebanyak 1,44 juta ton. Produksi gula konsumsi secara nasional pada 2026 diperkirakan 2,7 juta ton hingga 3 juta ton. Stok dan produksi gula tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional pada 2026 yang sebanyak 2,84 juta ton (Kompas, 13/1/2026).
Pelaksana tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat menambahkan, ketersediaan bibit unggul merupakan fondasi penting dalam peningkatan produktivitas dan rendemen tebu di tingkat petani. Oleh karena itu, akses petani tebu terhadap bibit unggul perlu terus dikembangkan.
Kementan akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, penangkar bibit tebu, dan para petani agar proses penyaluran bibit tersebut dapat berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Dengan penguatan bibit unggul dan perluasan pengembangan lahan tebu rakyat, pemerintah optimistis produksi gula nasional akan terus meningkat.
“Selain memperkuat pasokan gula dalam negeri, program tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gula,” katanya.





