REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Meski berada di bawah tekanan agresi militer Amerika Serikat-Israel sejak 28 Februari lalu, sektor energi Iran justru menunjukkan ketangguhan yang tak terduga. Data pelayaran terbaru menunjukkan, ekspor minyak mentah Republik Islam tersebut mengalami peningkatan tipis lewat permintaan dari China.
Berdasarkan estimasi pelacakan kapal tanker, ekspor Iran kini berada di angka kurang lebih 2,1 juta barel per hari. Angka ini naik dibandingkan rata-rata 2 juta barel per hari sebelum konflik meningkat.
Baca Juga
Media Rusia Sebut Iran akan Serang Pusat Data Milik AS di Negara-Negara Arab
Menag Larang ASN Pakai Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran
Kesalnya Presiden Lee Usai AS Tarik Sistem Pertahanan Udara (THAAD) dari Korsel
Laporan The Wall Street Journal yang dikutip Palestine Chronicle menyebutkan adanya tambahan sekitar 100.000 barel per hari yang keluar dari terminal-terminal ekspor Iran.
Data dari firma intelijen energi, Kpler, mengonfirmasi kapal-kapal tanker terus memuat minyak mentah dari terminal strategis seperti Pulau Kharg dan melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan berarti.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Hal ini menjadi indikator kuat bahwa infrastruktur ekspor Iran tetap beroperasi berkat permintaan global terhadap minyak Iran yang tak runtuh meski di tengah berkecamuknya perang.
Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Menyusul operasi militer gabungan Israel-AS yang menargetkan beberapa lokasi di Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026 dan serangan balasan Iran di seluruh wilayah tersebut, banyak kapal berlabuh karena Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, tempat ratusan kapal pengangkut minyak melintas setiap hari, yang berpotensi memengaruhi perdagangan dunia. - (EPA/STRINGER)