Asa Para Pedagang di Bandung di Balik Warna-Warni Busana Lebaran

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Pasar Baru Trade Center Bandung kembali hidup menjelang Lebaran. Lorong-lorong pasar yang sempit dipenuhi langkah kaki pengunjung, derap sandal, dan suara tawar-menawar yang bersahut-sahutan.

Deretan toko pakaian menampilkan warna-warni abaya, gamis, tunik, hingga kerudung yang digantung rapi. Lampu toko yang hangat menyorot bordir dan motif kain, membuat setiap pakaian tampak lebih hidup di mata pembeli.

Di salah satu sudut pasar, Ami (53) tampak sibuk melayani pembeli di toko Abaya Ghumaisha miliknya. Ia bergerak cepat, memegang kain, menunjukkan ukuran, dan menyesuaikan warna dengan permintaan pelanggan.

Ami mengaku baru memulai usaha abaya di Pasar Baru pada Januari tahun ini. Sebelumnya, ia berjualan kosmetik di lokasi tak jauh dari tokonya sekarang. Melihat tren busana muslim yang sedang diminati, ia memutuskan beralih.

"Aku baru, aku jualan gamis ini baru Januari. Januari itu toko baru, orangnya juga baru, awalnya jualan kosmetik," ujarnya saat ditemui kumparan di tokonya, Kamis (12/3).

Sebagian produk dibuat sendiri, sebagian lain dari produsen sesuai permintaan pelanggan. Ami menyebut model yang terinspirasi gaya Timur Tengah masih menjadi favorit pembeli.

“Yang mirip gaya Arab itu banyak dicari ibu-ibu. Ada juga model Maroko,” katanya sambil menunjuk beberapa koleksi yang berkilau di bawah lampu toko.

Meski tak seramai tahun sebelumnya, penjualan mulai meningkat. “Kalau lagi tidak terlalu ramai biasanya dapat sekitar Rp 10 juta sehari. Kalau lagi ramai banget bisa lebih dari itu,” kata Ami.

Perubahan pola belanja terasa, dipengaruhi maraknya belanja online. Namun banyak pembeli tetap memilih datang langsung, karena bisa merasakan kain, mencoba ukuran, dan melihat warna dengan mata sendiri.

“Kalau beli di toko kan bisa dicoba, bisa dipegang. Kadang kalau pengiriman online sudah penuh, orang-orang akhirnya datang ke sini,” ucap Ami.

Tak jauh dari sana, Nadira (23) yang bekerja di Toko Gabriel, juga merasakan peningkatan pengunjung. Toko itu telah berdiri sejak 2006 dan memiliki beberapa cabang di pusat perbelanjaan lain.

Di tokonya, tunik berwarna pastel, kulot lembut, dan gamis terpajang rapi di gantungan. Nadira mengatakan atasan dan kulot paling dicari pembeli.

“Paling banyak dicari atasan sama kulot. Tunik juga lagi banyak yang cari,” katanya.

Warna juga menjadi perhatian. Tren tahun ini jatuh pada butter yellow, kuning krem lembut yang tampak hangat di bawah cahaya lampu toko.

“Kayaknya memang lagi tren saja di tahun 2026,” ujarnya.

Bagi sebagian pengunjung, Pasar Baru tetap menjadi tujuan utama. Fani (55), warga Gegerkalong, datang sekitar pukul 11.00 menggunakan ojek online. Ia membawa tas besar berisi kerudung dan kemeja, sebagian untuk dipakai sendiri, sebagian lagi untuk dijual kembali.

“Kerudungnya tadi 14 picis, harganya Rp 560 ribu,” katanya.

Kerudung itu rencananya dikirim ke Aceh melalui temannya yang memiliki toko di sana.

Meski banyak pusat belanja modern, Fani tetap setia. Baginya, hanya ada dua tempat yang sering dikunjungi: Pasar Baru dan Baltos.

“Di sini variasinya banyak,” katanya sambil menatap lorong pasar yang padat.

Di tengah persaingan toko online dan mal modern, Pasar Baru tetap memikat. Deretan warna, aroma kain, suara tawar-menawar, dan pengalaman memilih langsung membuat pasar ini tetap menjadi magnet bagi pemburu busana muslim yang mempersiapkan Lebaran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penampakan Armada "Pembawa Petaka" AS Tiba di Inggris, Menuju Iran?
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemkot Banjarmasin Gelontorkan Dana Rp 1 Miliar untuk Pembangunan WC dan Tangki Septik
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Kecam Serangan ke Iran, Spanyol Tarik Permanen Dubesnya dari Israel
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KCIC Operasikan Lagi 62 Perjalanan Whoosh Mulai 14 Maret
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jose Antonio Kast Resmi Dilantik sebagai Presiden Chile
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.