Efek Domino Konflik Timteng Rawan Muncul di Jatim, Pengusaha Mesti Siap Mental

kompas.id
18 jam lalu
Cover Berita

Perang Israel-Amerika Serikat versus Iran sangat rawan memicu efek domino bagi laju industri di Jawa Timur. Para pelaku harus kuat mental menghadapinya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor Jatim mencapai 2,55 miliar dollar AS pada Januari 2026, naik 12,01 persen dibandingkan Januari tahun lalu.

Tercatat 10 terbesar komoditas impor Jatim adalah mesin dan peralatan, perhiasan atau permata, ampas dan sisa industri makanan, plastik dan barang dari plastik.

Selain itu, ada buah-buahan, serealia, mesin dan perlengkapan listrik, pupuk, besi dan baja, serta biji mengandung minyak.

Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jatim Hana Belladina, mengatakan, situasi geopolitik global yang tidak stabil memicu efek domino impor bahan baku dan bahan penolong yang bergantung pada perdagangan internasional.

Baca JugaRentan Tergilas Dampak Perang Timteng, UMKM Harapkan Pendampingan dan Kemudahan Regulasi

“Hal itu menjalar melalui jalur perdagangan global, logistik, hingga pergerakan harga komoditas. Kondisi ini membuat importir harus bersiap menghadapi berbagai risiko yang dapat memengaruhi biaya produksi maupun ketersediaan bahan baku,” ujar Bella, Kamis (12/3/2026).

Ketegangan geopolitik berpotensi memicu kenaikan harga komoditas global seperti energi, logam, dan bahan kimia yang menjadi bahan baku industri. Selanjutnya, kenaikan harga minyak dunia akan memicu peningkatan biaya produksi berbagai bahan baku industri.

Ia menambahkan konflik di Timur Tengah juga berkaitan dengan dinamika harga minyak mentah dunia yang menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri seperti industri plastik.

Alasannya, perang menyebabkan harga crude oil yang menjadi bahan baku industri plastik naik. Dampaknya harga plastik saat ini naik sekitar 14,5 persen.

“Jika harga minyak dunia naik, biaya produksi bahan baku ikut meningkat. Ujungnya harga barang impor juga naik. Kondisi ini membuat margin keuntungan pelaku usaha menurun. Tidak jarang harga produk akhir terpaksa dinaikkan,” ujarnya.

Baca JugaPerang AS-Iran dan Petaka Perekonomian Global

Rantai pasok global juga rawan terdampak. Jalur perdagangan internasional yang terdampak konflik dapat memaksa kapal pengangkut barang mengubah rute pelayaran sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama.

Menurut Bella, perubahan rute tersebut membuat jadwal pengiriman tidak menentu. Akibatnya, bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri bisa terlambat tiba di pelabuhan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan tidak ada kepastian waktu tiba.

“Bagi importir, keterlambatan bahan baku bisa berdampak langsung pada aktivitas produksi di pabrik dalam negeri. Jika pasokan terganggu, maka produksi juga bisa ikut terhambat,” ujarnya.

Selain itu, situasi global yang tidak stabil juga biasanya mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman internasional. Tarif pengiriman kontainer, misalnya, meningkat karena risiko pelayaran yang lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada biaya bahan bakar kapal sehingga ongkos pengiriman barang dari negara asal barang seperti China ke Indonesia berpotensi meningkat. Namun, hingga saat ini, pelaku usaha masih memantau perkembangan terbaru terkait tarif pengiriman.

“Untuk biaya ongkir terbaru dari China saat ini sedang kami dalami karena situasinya sangat dinamis,” kata Bella.

Selain minyak, impor Indonesia dari kawasan Timteng juga mencakup berbagai komoditas yang menjadi bahan baku industri. Produk tersebut antara lain bahan kimia industri seperti polypropylene (PP), polyethylene (PE), methanol, styrene, hingga ethylene glycol.

Bahan-bahan tersebut banyak digunakan industri plastik, kemasan, tekstil sintetis, otomotif, hingga elektronik. Negara pemasok utama komoditas petrokimia tersebut antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Indonesia juga mengimpor pupuk dan bahan baku pupuk seperti urea, amonia, diammonium phosphate (DAP), serta sulfur. Komoditas ini penting bagi sektor pertanian maupun industri pupuk nasional.

Di Jatim, berbagai bahan baku impor tersebut banyak digunakan industri manufaktur yang tersebar di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Industri di wilayah ini memanfaatkan bahan baku petrokimia, resin plastik, hingga logam seperti aluminium untuk kebutuhan produksi.

Bella mengatakan, dalam situasi ketegangan geopolitik global ini para importir mulai menyiapkan langkah mitigasi agar kegiatan usaha tetap berjalan. Salah satunya dengan menambah stok bahan baku untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman.

“Importir juga perlu memesan barang lebih awal serta memantau jadwal pengiriman dengan supplier dan forwarder,” ucapnya.

Disisi lain, importir bahan baku dan bahan penolong industri berupaya melakukan diversifikasi sumber pasokan, memperkuat manajemen stok, serta mengantisipasi fluktuasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Ketua Kadin Sidoarjo Ubaidillah Nurdin mengatakan, Jatim banyak mengimpor bungkil kedelai yang digunakan sebagai bahan baku industri pakan ternak. Industri ini tersebar di Sidoarjo, Gresik, dan Pasuruan.

Kenaikan harga bahan baku pakan berpotensi memengaruhi harga ayam dan telur yang pada akhirnya berdampak pada inflasi pangan daerah.

“Selain itu, di Sidoarjo banyak industri logam dan suku cadang kendaraan yang mengandalkan bahan baku impor seperti besi dan baja,” ujar Ubaidillah.

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan, komoditas lain yang banyak diimpor adalah kedelai. Indonesia masih mengimpor sekitar 2,5–3 juta ton kedelai per tahun. Nilai impor dari Amerika Serikat mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS.

Jatim sebagai sentra produksi tempe dan tahu sangat bergantung pada pasokan tersebut. Kenaikan harga minyak dan ongkos pengiriman dapat meningkatkan landed cost kedelai. Jika diikuti pelemahan rupiah akibat sentimen global, maka harga kedelai dalam rupiah bisa mengalami tekanan ganda.

Gangguan pasokan pada bahan baku industri akan menganggu kinerja ekonomi Jatim. Hal itu karena industri manufaktur konsisten menjadi kontributor terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan porsi mencapai lebih dari 30 persen. Industri manufaktur juga menjadi penyerap tenaga kerja formal terbanyak.

Baca JugaDampak Langsung dan Tidak Langsung Perang Dagang Amerika Serikat-Tiongkok bagi Indonesia

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Data Dukcapil: Nama Terpendek di Indonesia 1 Karakter, Terpanjang 79
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Federico Bernardeschi Buka Gol, Lorenzo Pellegrini Selamatkan AS Roma dari Kekalahan atas Bologna di Liga Europa
• 2 jam lalupantau.com
thumb
CCTV: Boks Kontainer Isi Mayat Perempuan Dibawa 2 Pria dari Penginapan di Medan
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Gubernur Sulsel Fasilitasi Dialog Kepala daerah dan Tokoh Luwu Raya dengan Ketua Komisi II DPR RI
• 15 jam laluterkini.id
thumb
Kuasa Hukum Roy Suryo Sebut Ada Rayuan Damai Usai Rismon Ajukan RJ
• 3 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.