Pasokan Energi Terancam Konflik Timur Tengah, Pertamina Cari Alternatif Impor

katadata.co.id
17 jam lalu
Cover Berita

PT Pertamina (Persero) mengantisipasi pasokan energi nasional dengan membuka sumber impor alternatif di tengah dinamika distribusi energi global di Selat Hormuz imbas konflik geopolitik di Timur Tengah.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan perusahaan telah menyiapkan langkah antisipasi berupa pencarian alternatif impor dari kawasan tersebut guna menjaga ketahanan stok energi nasional.

“Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus,” kata Simon di Jakarta, Kamis (12/3).

Ia menekankan bahwa sumber pasokan energi Indonesia tidak hanya berasal dari Timur Tengah, tetapi juga dari wilayah lain seperti Afrika dan AS.

“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” ujarnya.

 Ketegangan di kawasan Timur Tengah sebelumnya sempat memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Selat tersebut menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah ke berbagai negara konsumen.

Pemerintah sebelumnya mencatat bahwa sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia dikirim melalui Selat Hormuz.

Langkah pencarian alternatif impor minyak ini juga direncanakan Pertamina setelah dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dengan ship management dari NYK serta kapal Gamsunoro yang dikelola oleh Synergy Ship Management.

Berdasarkan laporan PIS pada Senin (2/3), Pertamina Pride telah selesai melakukan proses loading dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi, sementara Gamsunoro sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak.

Sementara itu dua kapal PIS lainnya, yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani, dilaporkan berada di luar dari kawasan perairan di Timur Tengah itu.

"Yang menjadi perhatian kami yang utama adalah keselamatan para kru dan keselamatan kargo kami. Tentunya kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dari Kementerian Luar Negeri, dari semua pihak dan kita juga mendorong supaya situasi di sana semakin baik," tutur Simon.

PIS saat ini mengoperasikan sekitar 345 kapal untuk mendukung distribusi energi. Dari total armada tersebut, 266 kapal melayani pengangkutan BBM dan avtur, 27 kapal mengangkut minyak mentah, 45 unit melayani distribusi LPG, serta 7 unit mendukung pengangkutan petrokimia dan berperan juga sebagai Floating Storage.

Selain menjaga pasokan melalui impor, lanjut Simon, Pertamina juga akan terus mendorong peningkatan produksi energi domestik.

“Kita kan punya kerja sama di Blok Cepu ya, jadi sama-sama harus maksimal. Dengan penambahan fasilitas di sana kita dorong supaya produksinya bisa meningkat,” ucap Simon.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Demo Mahasiswa di Gambir Jumat Siang, Hindari Titik Macet Berikut
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Mantan Dubes di ICWA Sarankan Indonesia Keluar dari BoP
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Bikin Bangkrut, Pentagon Ungkap AS Kuras Rp191,8 Triliun dalam Sepekan Perang Lawan Iran
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Satu Tahun Danantara Indonesia: Memperkuat Fondasi untuk Masa Depan Generasi Indonesia
• 21 jam laludisway.id
thumb
Kapolda Sulteng Lakukan Patroli Udara Jelang Idul Fitri 1447 H
• 20 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.